BANYUWANGI – Ada tren baru model kolam untuk taman. Bentuknya kolam, tapi dengan cita rasa seperti sungai. Unik, sedikit aneh, namun terasa menyegarkan.
Kolam berbentuk aliran sungai di Bumi Blambangan dapat ditemui di gedung Grha Pena Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa). Kebetulan, gedung bertema industrial rancangan arsitek Andra Matin itu berbentuk split. Ada dua bangunan yang terhubung dengan deretan ramp alias bidang miring pengganti tangga.
Nah, persis di antara gedung sisi depan dengan gedung belakang itu ada ruang kosong. Awalnya, ruang kosong itu merupakan taman minimalis. Hanya ada rumput dan deret tanaman talas.
Namun akibat cuaca yang kurang mendukung, tanaman talas itu pun tidak berkembang dengan baik. General Manager JP-RaBa, Bayu Saksono mengatakan, sebidang ruang kosong bekas areal taman talas tersebut sempat kurang terawat. ”Pernah hampir setahun kami tanami beberapa tanaman cabai. Kebetulan posisinya ada di samping kafe kantin di lantai dasar. Karyawan yang hobi pedas, saat makan siang bisa langsung petik cabai,” tuturnya sambil tersenyum.
Bayu mengakui, niat untuk membuat kolam muncul setelah bekerja sama dengan Cahaya Hydrofarm Banyuwangi. Pihak konsultan dan pembuat taman itu menyarankan agar membuat kolam ikan. Namun, bukan sembarang kolam. Konsepnya beda dan benar-benar baru di Banyuwangi. ”Mereka bilang, ini yang pertama di Banyuwangi. Maka, jadilah kolam ikan berupa aliran sungai yang mengalir deras itu,” pungkasnya.
Sementara itu, kolam yang mirip sungai juga bisa ditemui di Pari Kuning, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Meski aliran kolam sungainya tidak sederas di Grha Pena JP-RaBa, namun konsep yang diusung hampir tidak jauh berbeda. Selain itu, kolam di Pari Kuning sejatinya merupakan kolam ikan beralas bahan terpal. Kolam di Pari Kuning ini termasuk nonpermanen.
Public Relation Pari Kuning Jhon Eva mengatakan, kolam terpal menjadi solusi untuk dekorasi ruangan. Menurutnya, banyak kelebihan dari kolam terpal, yaitu dapat memanfaatkan luas ruangan yang sempit, biaya yang dikeluarkan tidak banyak, dan fleksibel. ”Tidak membutuhkan tempat yang luas. Sudut-sudut sempit bisa digunakan. Terkait biaya pasti lebih mahal kolam permanen karena membutuhkan banyak bahan material. Kemudian yang paling utama, kolam ini fleksibel, dapat dipindah sesuai keinginan kita,” ujar pria yang akrab dipanggil Bang Jhon itu.
Jhon menambahkan, banyak orang yang mudah bosan dengan dekorasi dari kolam permanen. Kelebihan kolam terpal yang lain adalah ketika bosan, dekorasinya dapat ditata ulang. ”Misalnya batu-batunya dipindah, ditambahkan air mancur, atau material hiasan diganti dengan ranting kayu, itu bisa saja dilakukan. Kalau ikan terserah mau diisi jenis apa saja bebas,” bebernya.
Menurut Jhon, kolam terpal belum familiar di Banyuwangi. Rata-rata masyarakat Banyuwangi menggunakan kolam terpal sebagai budi daya ikan lele. Padahal kolam terpal dapat menjadi pilihan untuk mempercantik dekorasi rumah. ”Hanya membutuhkan terpal khusus dan sirkulasi air saja. Untuk material hiasan menyesuaikan dengan selera,” ujar pria berusia 44 tahun itu.
Jhon menuturkan, ketika memutuskan membuat kolam nonpermanen membutuhkan orang yang mempunyai kreativitas tinggi. ”Tidak semua orang bisa membuat dekorasi menjadi menarik dan enak dipandang. Membutuhkan orang yang banyak ide dan pandai menata ruangan,” pungkasnya. (mg2)
Editor : Ali Sodiqin