Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengais Rezeki dari Merawat Bonsai

Rahman Bayu Saksono • Selasa, 19 Oktober 2021 | 16:50 WIB
mengais-rezeki-dari-merawat-bonsai
mengais-rezeki-dari-merawat-bonsai

SEMPU, Jawa Pos Radar Genteng - Berawal dari hobi merawat bonsai, ternyata menjadi berkah dengan mendatangkan banyak rezeki bagi Bambang Erdianto, 59, asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sempu. Sejak merawat tanaman yang sengaja dikerdilkan sejak 21 tahun lalu, telah banyak memberi keuntungan.


Kini, merawat bonsai bukan hanya sekadar hiburan. Berkat keahliannya itu, kerap menyabet juara saat kontes, dan sering dimintai menjadi trainer bonsai. “Sekarang jadi pekerjaan utama, dan sering diminta merawat bonsai milik orang lain,” ujar Bambang Erdianto kepada Jawa Pos Radar Genteng, kemarin (17/10).


Bambang mengaku memiliki sekitar 50 bonsai di rumahnya. Bonsai itu banyak jenis seperti mustam, Jeruk Kingkit, Hokiantea, dan Serut. “Sudah banyak yang laku, harganya cocok,” cetusnya.


Harga jual bonsai miliknya itu beragam, lantaran ada beberapa yang sudah ikut pameran dan ada yang masih baru dirawat. “Tanaman bonsai yang sudah laku, harganya mulai Rp 7 juta hingga Rp 10 juta,” ungkapnya.


Mneurut Bambang, yang memengaruhi harga bonsai itu karakteristik dan kondisi bonsai sudah jadi. Bonsai sudah jadi, itu batang utama dengan cabang sudah berimbang, dan daunnya sudah mengecil. “Bonsai yang sudah jadi tidak perlu mendapat media tanam yang banyak,” terangnya.


Bambang mengaku telah bergabung dengan komunitas bonsai yang banyak membantunya dalam memasarkan bonsai-bonsai miliknya. “Saya ikut PBBI (Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia), di wadah itu bisa saling berbagi informasi,” ujarnya.


Untuk kemajuan industri bonsai di Banyuwangi, Bambang PBBI sebagai wadah dari pencinta bonsai membutuhkan sentuhan dari dinas terkait. Ia bersama para pencinta bonsai, kini sedang sibuk membimbing para komunitas pencinta bonsai di daerah-daerah yang baru dibentuk. “Ini upaya meningkatkan kualitas bonsai yang ada di Banyuwangi,” terangnya.


Para pelaku bonsai di Banyuwangi, jelas dia, memiliki kompetensi yang baik. Dan itu, akan melahirkan bonsai yang berkualitas. “Itu akan menunjang kesejahteraan trainer juga, karena kualitas kerja para trainer akan merata,” ungkapnya


Sebagai trainer merawat bonsai, jelas dia, pendapatannya masih sangat rendah, yakni antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per hari. Padahal di kota lain bisa sampai Rp 400 ribu. “Tingkat ekonomi dengan kota maju seperti Surabaya dan Bali masih jauh,” cetusnya.

Editor : Rahman Bayu Saksono
#banyuwangi #genteng