RadarBanyuwangi.id – Bergelut dengan binatang buas sudah menjadi bagian hidup Suryo Sinyo Negoro Basuki, 30. Pencinta sekaligus penakluk reptil asal Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar ini, kini pulang kampung ke Banyuwangi. Sebelumnya, bungsu dari dua bersaudara itu melanglang buana ke beberapa tempat di Jawa Timur untuk menjinakkan reptil dan binatang buas lainnya.
Ketika ditemui di mesnya di Desa Paspan, Kecamatan Glagah, Suryo tengah asik membelai peliharaanya. Seekor king cobra berwarna hitam dengan panjang 4,8 meter. Orang-orang yang menyaksikan dari jarak aman tampak takjub sekaligus ngeri dengan keberanian Suryo bermain dengan ular kobra.
Bagi Suryo, king cobra berwarna hitam itu tak ubahnya anak kesayangan yang tak perlu ditakuti. Suryo begitu sayang dengan kobra peliharaannya itu. ”Sudah sejak usia TK saya suka dengan reptil. Dulu kalau anak TK selalu membawa buku, saya justru membawa ular. Mulai kobra, ular weling, sampai biawak menjadi mainan setiap hari,” kata Suryo.
Kecintaannya kepada reptil dan hewan buas diturunkan dari kakeknya. Secara alamiah Suryo seolah tertarik dengan hewan-hewan berbahaya seperti ular, biawak, hingga buaya. Hewan-hewan itu sudah kerap menemaninya sejak usia anak-anak hingga dewasa.
Selepas lulus S-1 pada tahun 2013, Suryo mulai menjadikan kecintaannya kepada reptil dan hewan buas sebagai sebuah pekerjaan. Dia bergabung dengan kebun binatang lokal di Madiun dan menjadi kurator di sana. Tugasnya, memastikan semua perawatan hewan-hewan tercukupi. Termasuk, merawat hewan-hewan baru yang masuk kategori sulit dijinakkan. Suryo tak segan untuk turun langsung mengatasi. ”Beberapa predator tingkat tinggi seperti buaya, singa, dan harimau saya tangani langsung ketika ada masalah,” ungkapnya.
Berkat kemampuannya berinteraksi dengan reptil dan hewan buas, beberapa kali Suryo diminta untuk menjadi narasumber, termasuk di salah satu stasiun TV nasional. Suryo diminta mengedukasi masyarakat tentang berbagai jenis hewan buas dan reptil. Dengan tujuan agar masyarakat tak sembarangan membunuh binatang buas yang mereka temui.
Suryo juga beberapa kali dimintai tolong untuk mengatasi binatang buas yang masuk ke permukiman warga. Dia juga kerap dimintai tolong BKSDA ketika harus berurusan dengan binatang buas yang masuk dalam kategori susah dijinakkan. Karena sudah menjadi passion hidupnya, mudah saja bagi Suryo mengatasi binatang liar yang dianggap berbahaya bagi sebagian besar orang. ”Pernah malam hari dimintai tolong BKSDA untuk mengambil buaya muara di Pacitan. Panjangnya sekitar 4,5 meter. Alhamdulillah bisa diatasi meskipun perlu perjuangan,” kata alumnus SMKN 1 Glagah itu.
Melihat tingginya potensi interaksi manusia dengan hewan buas, Suryo sempat membuat organisasi bernama Peduli Satwa Liar (PSL) di Madiun. Fungsinya untuk membantu masyarakat yang kesulitan memindahkan binatang buas atau hewan liar di permukiman. Organisasi ini beranggotakan beberapa orang yang memiliki kemampuan seperti Suryo.
Mereka dibagi ke beberapa wilayah dan siap on call selama 24 jam jika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan. ”Kami dan binatang liar sebenarnya habitat yang berdampingan. Bahkan, sekatnya tipis sekali. Jangan berpikir kalau hewan liar itu tinggalnya di hutan. Itu pendapat yang salah. Bisa jadi tempat tinggal kita adalah habitat hewan liar lebih dulu,” jelasnya.
Meski tak memiliki rasa takut kepada hewan buas, Suryo masih cukup berhati-hati dengan beberapa jenis hewan seperti musang, otter (berang-berang), dan harimau. Entah kenapa dia merasa sedikit waswas jika berhadapan dengan hewan tersebut. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin