RadarBanyuwangi.id – Arsitektur lokal khas Indonesia juga sangat memengaruhi bentuk bangunan masjid di Jawa. Atap masjid bersusun tiga berbentuk limas masih banyak ditemui sampai sekarang.
Masjid di Pulau Jawa ada yang menggunakan atap berbentuk limas. Konstruksi atau bentuk atap seperti ini sudah cukup lama ditemukan di Pulau Jawa. Salah satu yang masih utuh adalah Masjid Agung Demak di Jawa Tengah.
Masjid Agung Demak dengan atap berbentuk limas itu ditopang delapan tiang kayu berukuran besar. Atap limas masjid ini terdiri dari tiga susun. Tiga susunan atap tersebut dikenal merepresentasikan iman, Islam, dan ihsan.
Sampai saat ini pun, atap masjid limas bersusun tiga masih banyak ditemukan di Jawa. Bahkan, di wilayah Banyuwangi banyak dijumpai masjid dengan atap semacam ini. Ini tidak lepas dari sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang banyak dilakukan oleh Wali Songo.
Faktor sejarah pun ternyata ikut memengaruhi arsitektur atap tempat ibadah umat Islam. Selain itu, bahan baku bentuk arsitektur Jawa ini mudah didapat. Penutup atap berupa genting lokal. Bahan bakunya tanah liat yang diolah dalam suhu tinggi. Lapisan di bawah genting biasanya menggunakan kayu yang banyak digunakan masyarakat Jawa sejak lama.
Namun akhir-akhir ini, penggunaan kayu sebagai atap semakin berkurang. Selain jumlahnya semakin terbatas, kayu bahan bangunan juga semakin mahal. Pada perkembangan selanjutnya, bahan kayu lebih banyak digantikan oleh kerangka logam baja ringan maupun galvalum. (ddy/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin