RadarBanyuwangi.id – Berbeda dengan bentuk masjid kebanyakan. Kesan itu seketika muncul saat pertama kali melihat dari dekat masjid yang berlokasi di Kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Banyuwangi ini. Betapa tidak, masjid tersebut mengusung arsitektur bergaya Tiongkok.
Masjid Muhammad Cheng Hoo. Begitu warga sekitar menyebut masjid yang satu ini.
Arsitektur khas Tiongkok tampak jelas dari atap bangunan masjid yang diresmikan pada 26 November 2016 tersebut. Atap masjid ini tersusun lima tingkat dengan ujung masing-masing tingkat yang semakin mengecil dan terkesan melengkung di bagian ujungnya. Mirip arsitektur pagoda.
Dari pantauan RadarBanyuwangi.id, atap lapisan pertama dan kedua terdiri atas empat sisi. Sedangkan atap tingkat ketiga, keempat, dan kelima terdiri dari delapan sisi. Atap bangunan tersebut dominan hijau dengan ”pemanis” warna merah dan kuning pada setiap wuwungan atap tersebut.
Arsitektur khas Tiongkok juga melekat pada pagar serta gapura kompleks masjid yang satu ini. Gapura masjid ini menyerupai gapura kelenteng alias tempat ibadah umat Tri Dharma.
Bangunan Masjid Muhammad Cheng Ho Banyuwangi tersebut memiliki luas sekitar 726 meter persegi. Tepatnya panjang 28 meter dan lebar 26 meter. Tak ayal, Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi ini diklaim sebagai yang terbesar di antara total sepuluh masjid dengan nama serupa yang tersebar di seantero tanah air.
Sementara itu, arsitektur yang unik tersebut membuat Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi menjadi salah satu jujukan favorit wisatawan yang berkunjung ke Bumi Blambangan. Selain itu, tidak sedikit pula warga lokal Banyuwangi yang datang ke masjid ini untuk berswafoto.
Informasi yang dikumpulkan wartawan, nama Muhammad Cheng Hoo yang disematkan pada masjid tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada laksamana asal Tiongkok tersebut. Dalam perjalanannya ke Asia Tenggara, Cheng Hoo bukan hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan agama Islam.
Laksamana Cheng Hoo merupakan pelaut Muslim asal Yunnan, Tiongkok, yang melakukan penjelajahan antara 1405 sampai 1433. Dia adalah orang kepercayaan Kaisar Ketiga Dinasti Ming, Kaisar Yongle, untuk melakukan pelayaran dengan tujuan memetakan wilayah yang mungkin bisa dijadikan kekuasaannya.
Sepanjang hayatnya, Laksamana Cheng Hoo telah melakukan tujuh kali pelayaran. Di Indonesia, dia sempat berlabuh di Jawa, Palembang, dan Sumatra. Di sela kegiatannya, dia aktif menyebarkan ajaran Islam.
Ardian, salah satu warga mengatakan, keberadaan Masjid Muhammad Cheng Hoo tersebut semakin menambah ”kekayaan” Banyuwangi. ”Selain menambah daya tarik wisatawan, masjid ini juga menjadi simbol kerukunan antarumat beragama di Banyuwangi,” ujarnya. (sgt/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin