RadarBanyuwangi.id – Trocok, trucuk, atau trocokan. Ada juga yang menamainya cucak. Begitu warga kerap menyebut nama sejenis burung berkicau dari suku Pycnonotidae ini. Burung dengan nama ilmiah Pycnonotus goiavier ini identik dengan siulan-siulan pendek berulang-ulang.
Trocok termasuk burung berukuran sedang. Panjang tubuh total diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor sekitar 19 sampai 20,5 centimeter (cm). Burung ini kerap mengeluarkan bunyi nyaring dan berisik. Cok-cok-cok. Serta siulan pendek berulang-ulang.
Burung ini memiliki ”mahkota” berwarna gelap kehitaman. Bulu-bulu di sisi atas tubuh, yakni punggung dan ekor berwarna cokelat. Sedangkan di sisi bawah, mulai tenggorokan, dada, dan perut berwarna putih. Bulu-bulu di sekitar pantat berwarna kuning. Iris mata burung trocok berwarna cokelat, paruh hitam, dan kaki abu-abu merah jambu.
Burung jenis ini menyukai tempat-tempat terbuka, semak belukar, tepi jalan, kebun, dan hutan sekunder. Burung ini juga kerap berkelompok, baik dengan jenisnya sendiri maupun dengan jenis merbah yang lain. Burung ini tidur berkelompok dengan jenisnya di ranting-ranting perdu atau pohon kecil.
Makanan trocok adalah buah-buahan yang lunak, seperti pisang, pepaya, dan lain-lain. Trocok juga memangsa ulat dan serangga atau hewan kecil lainnya.
Diperoleh keterangan, di Banyuwangi pencinta burung trocok lebih banyak dibandingkan pencinta kutilang. Bahkan, sebelum pandemi Covid-19, kerap kali digelar kontes burung trocok di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.
Mardiano, warga Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, mengatakan, bagi dirinya keberadaan burung di suatu tempat dapat menimbulkan kesan asri. ”Makanya saya memelihara banyak burung di rumah. Termasuk trocok, cucak, cendet, kenari, dan lain-lain,” akunya.
Sejumlah pencinta burung menyebut, keberadaan burung trocok di alam liar masih relatif banyak. Tak heran, harga burung jenis yang satu ini relatif terjangkau. Di Pasar Burung Pujasera, Kecamatan Banyuwangi, misalnya, seekor burung trocok dibanderol sekitar Rp 25 ribu. Namun, seekor burung yang dinilai berkualitas harganya bisa mencapai jutaan rupiah per ekor.
Sementara itu, sejumlah sumber menyebut, burung trucuk relatif mudah beradaptasi dengan lingkungan. Burung ini gampang jinak jika dibandingkan dengan jenis burung yang lain. Walaupun baru saja dipindah dari lingkungan atau sangkar yang berbeda, burung ini tidak mudah stres. Bahkan, tidak jarang ”hanya” dalam rentang sehari setelah dipindah ke lingkungan yang lain, burung ini sudah mau berkicau.
Selain itu, burung trocok disebut mudah beradaptasi dengan manusia. Maklum, habitat burung ini berada di sekitar manusia, seperti di kebun atau pekarangan rumah yang asri dan rindang. (sgt/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin