RadarBanyuwangi.id – Pintar menirukan suara burung lain. Begitu ”status” yang disematkan oleh sejumlah pencinta burung berkicau pada jenis burung yang satu ini. Oleh warga Banyuwangi, burung dengan ciri-ciri bagian atas kepala, termasuk dahi dan jambul berwarna hitam ini, lazim disebut kutilang.
Namun, ada pula yang menyebut burung dengan nama ilmiah Pycnonotus aurigaster ini dengan sebutan ketilang atau burung nilam. Nama ilmiah itu disematkan mengacu bulu-bulu di sekitar pantatnya yang berwarna jingga.
Kutilang merupakan jenis burung pengicau dari kelompok cucak-cucakan. Wilayah persebaran burung jenis ini sangat luas, termasuk Jawa dan Bali, dan wilayah dengan ketinggian hingga 1.600 meter dari permukaan laut (dpl).
Burung kutilang memiliki ciri-ciri bulu sisi atas tubuh, mulai punggung hingga ekor, berwarna cokelat kelabu dan sisi bawah, mulai tenggorokan, leher, dada, dan perut, berwarna putih keabu-abuan, serta bulu di sekitar pantat berwarna jingga. Sedangkan panjang tubuh total, yakni dari ujung paruh hingga ujung ekor sekitar 20 centimeter (cm).
Meskipun relatif banyak pencinta burung yang menjadikan kutilang sebagai hewan piaraan, namun keberadaan burung jenis ini di alam bebas relatif masih banyak. Burung kutilang kerap mengunjungi tempat-tempat terbuka, tepi jalan, kebun, pekarangan, atau semak belukar. Bahkan, burung ini kadang ditemukan hidup liar di taman dan halaman-halaman rumah di perkotaan.
Di alam liar, burung kutilang kerap berkelompok dengan jenisnya sendiri atau dengan jenis burung yang lain, baik ketika mencari makan maupun saat bertengger. Saat terbang sembari mengeluarkan suara berisik nan nyaring cuk-cuk tuit-tuit. Sedangkan saat bertengger, burung ini kerap berkicau bunyi yang terdengar seperti ku-ti-lang ku-ti-lang.
Pencinta burung asal Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Joko Slamet mengatakan, daya tarik utama kutilang terletak pada kicauan burung tersebut. ”Burung jenis ini pintar menirukan suara burung jenis lain. Ini yang membuat banyak orang suka memelihara kutilang,” ujarnya ditemui wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi di Pasar Burung Pujasera, Banyuwangi Selasa (11/5).
Selain itu, kata Joko, perawatan burung kutilang relatif mudah. Cukup dimandikan satu hingga tiga hari sekali dan setelahnya langsung dijemur. ”Pakannya juga relatif mudah didapat. Burung kutilang makan buah-buahan, seperti pepaya, pisang, apel, dan sebagainya. Atau bisa juga diberi makan konsentrat,” kata dia.
Joko menambahkan, di pasaran harga burung kutilang cukup terjangkau, yakni ”hanya” sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu per ekor. Namun, ada pula yang dijual hingga Rp 500 ribu per ekor. ”Tergantung kicauan burung tersebut dan selera peminatnya,” tuturnya.
Masih menurut Joko, sejauh ini tidak banyak warga yang beternak atau budi daya burung kutilang. ”Sebab, selain masih banyak dijumpai di alam bebas, harga jual burung ini juga cukup terjangkau,” pungkasnya. (sgt/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin