Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Pemandu Lagu Banting Setir ke Kopi Cetol

Ali Sodiqin • Sabtu, 10 April 2021 | 18:00 WIB
dari-pemandu-lagu-banting-setir-ke-kopi-cetol
dari-pemandu-lagu-banting-setir-ke-kopi-cetol


RadarBanyuwangi.id - Pandemi Covid-19 juga dirasakan dampaknya bagi para pekerja malam. Para pemandu lagu (Ladies Companion/LC) yang biasa mangkal di tempat karaoke ikut kena imbasnya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, mereka banting setir ke pekerjaan lain. Ada yang bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) ada pula yang beralih jadi pedagang kopi di sejumlah tempat.



Mereka kebanyakan menjadi SPG produk rokok, kartu perdana, kosmetik, hingga makanan dan minuman segala merek. Mereka berkeliling menjajakan produk di sejumlah tempat-tempat ramai.



Seperti yang dilakukan salah seorang LC berinisial DS yang bekerja sebagai SPG kartu perdana. Sehari-harinya DS keliling ke sejumlah lokasi tempat berkumpulnya banyak orang. ”Kadang di RTH, warung, sampai tempat wisata,” kata perempuan 29 tahun tersebut.



DS mengaku baru bergabung dengan SPG sejak Oktober 2020 lalu. Selama pandemi Covid-19, tempat karaoke yang biasa jadi langganan mangkal sudah tutup. ”Sepinya pengunjung dan penutupan tempat karaoke membuat saya seperti saat ini. Terus terang pendapatan jadi LC lebih besar dibanding bekerja sebagai SPG,” katanya.



Selama menjadi LC, DS bisa mendapatkan uang Rp 500 ribu setiap malamnya. ”Sebelum Covid-19, tamu setiap malamnya banyak. Bahkan, saya bisa menemani hingga larut malam,” ungkapnya.



Untuk tarif menemani karaoke di room, DS memasang tarif Rp 100 ribu per jam. Itu belum termasuk tarif booking jika tamunya mengajak ke hotel. ”Kalau nemani karaoke dan minum saja Rp 100 ribu per jam, untuk sewa room dan bayar minumannya, ya pelanggan,” tuturnya.



Menurut DS, tidak semua LC bisa di-booking. Biasanya mereka lebih memilih menjadi teman saat berada di room saja. ”Jarang memang kalau LC plus BO, tetapi LC sendiri memang kebanyakan dipandang selalu membuka jasa BO,” katanya.



Bukan hanya sebagai SPG, para LC ternyata juga lebih memilih menjadi penjual kopi di kafe-kafe pinggir jalan. Anak-anak muda menyebut warung kopi ”cetol”. Ketika sedang ngopi, pembeli bisa mencubit hingga memegang penjualnya. Pelanggan kopi hanya boleh memang tangan hingga wajahnya saja. ”Kalau bukan pelanggan kita membatasi jarak,” ujar PK, seorang LC yang menjadi penjual kopi cetol.



PK mengaku sistem warung kopi sebenarnya tidak jauh beda dengan pekerjaan sebagai LC. Hanya saja yang membedakan tempat dan hiburan yang ada. ”Kalau LC biasanya di tempat tertutup dan penuh musik. Di warung kopi tempat terbuka dan hanya musik dari sound system saja,” kata perempuan 23 tahun tersebut.



Menurut PK, para pelanggan yang ingin ditemani wajib memberi upah Rp 100 ribu selama ngopi. ”Kalau LC hitungannya per jam, di warung kopi hitungannya per pelanggan. Ketika kita bisa melayani para pelanggan cukup banyak, hasilnya juga akan lumayan,” terang janda anak satu tersebut. (rio/aif/c1)


Editor : Ali Sodiqin