BANYUWANGI punya segudang potensi di bidang pertanian. Bukan hanya menjadi lumbung pangan nasional, kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini punya andil besar terhadap produksi kopi di tanah air.
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), Banyuwangi konsisten berada di tataran lima besar daerah penghasil kopi di antara 38 kabupaten dan kota se-Jatim selama bertahun-tahun terakhir. Pada tahun 2010, misalnya, produksi kopi di Banyuwangi mencapai 2.917 ton dari total produksi kopi di Jatim yang mencapai 56.200 ton.
Sedangkan di tahun 2017, Banyuwangi menduduki ranking teratas kabupaten penghasil kopi di Jatim. Kala itu, produksi kopi Banyuwangi melesat menjadi 13.839 ton. Di tahun yang sama, total produksi kopi di Jatim sebanyak 65.414 ton.
Sementara itu, berdasar data terbaru yang dilansir Dinas Pertanian dan Pangan (Disperta-Pangan) Banyuwangi, jumlah produksi kopi Banyuwangi di tahun 2019 kembali naik menjadi 16.340 ton. Jumlah produksi sebesar itu mayoritas merupakan hasil panen kopi rakyat yang mencapai 10.422 ton. Sedangkan sisanya, yakni 5.918 ton merupakan produksi kopi perkebunan besar di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.
Kepala Disperta-Pangan Banyuwangi Arief Setiawan melalui Kepala Bidang (Kabid) Hortikultura dan Perkebunan Ilham Juanda mengatakan, sentra tanaman kopi rakyat di Banyuwangi tersebar di sembilan kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Pesanggaran memiliki luas lahan tanaman kopi sebanyak 242 hektare (ha), Glenmore 248 ha, Kalibaru 3.847 ha, Songgon 331 ha, Glagah 138 ha, Licin 387 ha, Giri 63 ha, serta Kalipuro dan Wongsorejo masing-masing 4.397 ha dan 68 ha.
Ilham menyebut, jumlah produksi kopi rakyat di Kecamatan Pesanggaran pada tahun 2019 sebanyak 259 ton, Glenmore 267 ton, Kalibaru 4.124 ton, Songgon 355 ton, dan Glagah 148 ton. Selain itu, di tahun yang sama produksi kebun rakyat di Kecamatan Licin sebanyak 415 ton, Giri 68 ton, Kalipuro 4.717 ton, dan Wongsorejo sebanyak 73 ton.
Di sisi lain, areal kopi perkebunan tersebar di enam kecamatan. Rinciannya, di Kecamatan Kalibaru terdapat empat perkebunan kopi dengan total luas lahan 2.475,8 ha dengan jumlah produksi 2.639 ton, Songgon 649,81 ha dengan total produksi 702 ton, Glagah 367,54 ha dengan jumlah produksi kopi 393 ton, Kalipuro 1.519,94 ha dengan produksi 1.651 ton, dan Glenmore memiliki luas area tanaman kopi 75,66 ha dengan jumlah produksi 80 ton.
Masih menurut Ilham, saat ini nyaris seluruh tanaman kopi di Banyuwangi merupakan jenis kopi robusta. ”Dahulu walau sedikit petani ada yang menanam kopi arabika, namun sekarang sudah diganti dengan kopi robusta karena jenis kopi inilah yang paling cocok untuk wilayah Banyuwangi,” kata dia.
Ilham mengakui, ada banyak tanaman kopi di Banyuwangi yang kurang produktif lantaran usia tanaman yang sudah terlalu tua. Untuk itu, sejumlah program telah digulirkan Pemkab Banyuwangi untuk mendorong peningkatan produktivitas kopi di Bumi Blambangan. ”Di antaranya dengan memberikan pelatihan atau sekolah lapang good agriculture practice (GAP) alias cara budi daya kopi sesuai norma atau standar. Pemkab juga sudah meremajakan kopi-kopi yang tua lewat program pemberian bibit kopi,” pungkasnya. (sgt/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin