KALIPURO - Bangunan beratap beton berdiri megah. Di tepi pantai. Berjarak sekitar 14 kilometer (km) dari pusat Kota Banyuwangi. Tepatnya di kawasan wisata Watudodol, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro.
Sesosok penari gandrung yang berdiri di atas bangunan tersebut seolah menyapa. Memberi salam hormat. Dengan cara menyejajarkan kipas yang dibentangkan dengan tangan kanan hingga setinggi dada. Sedangkan tangan kirinya dilipat dan jari-jarinya menyentuh pinggang sebelah kiri pula.
Salam hormat diberikan kepada siapa pun yang datang. Juga kepada pengguna jalan yang melintas di jalan poros jurusan Banyuwangi–Situbondo. Pose seperti itu dilakukan selama 24 jam sehari. Tujuh hari sepekan. Tepatnya sejak akhir 2004 hingga kini.
Ya, sesosok penari gandrung itu bukan manusia melainkan benda mati yang terbuat dari semen. Oleh pihak pemkab, patung penari gandrung itu sengaja diletakkan di lokasi strategis tersebut. Untuk menjadi tetenger alias landmark bahwa ketika siapa pun yang datang dari arah Situbondo sampai di lokasi itu, berarti dia sudah semakin dekat dengan wilayah perkotaan Banyuwangi, termasuk kawasan Pelabuhan Tanjung Wangi, Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, hingga ibu kota kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.
Namun lebih dari sekadar tetenger, landmark berupa penari gandrung di kawasan Watudodol itu juga menjadi spot foto favorit warga. Tidak terkecuali wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.
Bahkan, tidak jarang warga rela datang ke lokasi itu dini hari dengan tujuan berburu foto matahari terbit alias sunrise. Maklum, lokasi landmark penari gandrung itu berada persis di tepi pantai Selat Bali.
Ayu, warga Surabaya mengatakan, patung gandrung Watudodol itu tidak hanya sedap dipandang. Namun lebih dari itu, patung itu bersumber dari seni-budaya lokal Banyuwangi yang telah terkenal di seantero tanah air hingga mancanegara, yakni gandrung. ”Maka dari itu, berfoto di patung gandrung ini sangat sayang untuk dilewatkan kalau kita berkunjung ke Banyuwangi,” ujarnya.
Sementara itu, pembangunan landmark Banyuwangi di kawasan Watudodol itu tak lepas dari dorongan beberapa pihak. Termasuk Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa) sebagai media massa terbesar di Bumi Blambangan. Pada awal dekade 2000-an, koran harian pagi terbesar di Banyuwangi dan Situbondo ini, pernah menampilkan liputan di halaman depan tentang perlunya Pemkab Banyuwangi membangun tetenger di kawasan tersebut.
Halaman koran JP-RaBa edisi saat itu dilengkapi dengan grafis ilustrasi patung gandrung yang menjulang tinggi di tepi Pantai Watudodol. Ilustrasi itu digarap oleh Supojo, yang saat itu bekerja sebagai ilustrator JP-RaBa. Tentu, penggarapan grafis ilustrasi tersebut dipandu arahan Direktur JP-RaBa Samsudin Adlawi.
Akhirnya, usulan tentang tetenger patung gandrung itu direspons baik oleh Pemkab Banyuwangi, yang saat itu dipimpin Bupati Samsul Hadi (Alm). Hingga kini, fungsi tetenger itu sebagai gerbang kejut pengendara dari arah utara yang masuk Bumi Blambangan tetap terjaga. ”Sebagai koran yang lahir, tumbuh, dan berkembang di Banyuwangi, tentu JP-RaBa terus berupaya memberikan sumbangsih untuk pembangunan kabupaten yang kita cintai ini,” pungkas General Manager (GM) JP-RaBa Bayu Saksono. (sgt/bay/c1)
Editor : Ali Sodiqin