Rahasia Pecel Rawon Legendaris Glenmore: Resep Nenek yang Tak Berubah

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 02:00 WIB
MENU ANDALAN: Menu nasi pecel maupun pecel rawon di warung Bu Salim yang terletak di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore jadi jujugan pengguna yang tujuan Jember atau sebaliknya. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
MENU ANDALAN: Menu nasi pecel maupun pecel rawon di warung Bu Salim yang terletak di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore jadi jujugan pengguna yang tujuan Jember atau sebaliknya. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Perpaduan bumbu pecel manis-pedas dengan kuah rawon hitam pekat menjadi magnet kuliner yang tak lekang oleh waktu di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Warung Bu Salim, yang mempertahankan resep keluarga sejak 1972, menawarkan pengalaman bersantap khas dengan harga merakyat, mulai Rp 1.000 hingga Rp 25.000 per porsi. Berada di jalur poros Glenmore–Jember, warung legendaris ini menjadi persinggahan favorit pengendara dan pelancong yang berburu cita rasa autentik sejak pagi hari.

Aroma kuah rawon yang gurih berpadu dengan wangi bumbu pecel langsung menyambut siapa pun yang melangkahkan kaki ke warung sederhana di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore. Di tempat inilah, sepiring nasi pecel rawon menjadi bukti bahwa kuliner legendaris tak selalu harus hadir di restoran mewah.

Lokasinya pun terbilang strategis. Berada di simpang tiga akses utama, Warung Bu Salim mudah dijangkau pengguna jalan yang melintasi poros selatan Banyuwangi, terutama mereka yang menuju Jember maupun sebaliknya.

Kedekatannya dengan kawasan Industri Gula Glenmore (IGG) dan destinasi wisata Waduk Sidodadi turut menjadikan warung ini sebagai salah satu jujukan kuliner yang sayang dilewatkan.

Buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 13.00 WIB, Warung Bu Salim menawarkan pilihan sarapan hingga makan siang dengan harga yang bersahabat. Tak heran, pengunjungnya datang dari berbagai kalangan, mulai pekerja, warga lokal, pengendara antarkabupaten, hingga wisatawan yang sengaja mampir untuk menikmati kelezatan racikan turun-temurun.

Resep Nenek Jamilah Sejak 1972, Rasa Pecel Rawon yang Tak Berubah

Di balik sepiring pecel rawon yang menggugah selera, tersimpan cerita panjang tentang keteguhan sebuah keluarga menjaga warisan kuliner. Resep yang diwariskan sejak 1972 itu tetap dipertahankan hingga kini, tanpa mengubah karakter rasa yang telah melekat di ingatan pelanggan lintas generasi.

"Menu andalan kami memang pecel rawon dan nasi pecel biasa. Kuliner keluarga ini sudah eksis dan bertahan sejak tahun 1972 lalu," kata Firdaus, 42, cucu perintis Warung Bu Salim.

Keistimewaan sajian ini terletak pada perpaduan dua hidangan tradisional yang memiliki karakter kuat. Nasi putih hangat disiram bumbu pecel kental dengan tekstur kacang yang halus, kemudian dipadukan dengan kuah rawon berwarna hitam pekat yang kaya rempah dan gurih.

Perpaduan tersebut menghadirkan sensasi rasa yang berbeda. Manis dan pedas dari sambal pecel bertemu dengan gurihnya kuah rawon, menciptakan harmoni rasa yang menjadi ciri khas Warung Bu Salim.

Namun, rahasia kelezatan yang bertahan selama lebih dari lima dekade itu ternyata bukan terletak pada bahan yang sulit ditemukan. Kuncinya justru pada konsistensi racikan bumbu yang masih dikerjakan langsung oleh sang empunya warung, Nenek Jamilah, 82.

BERDIRI SEJAK 1972: Warung Bu Salim terletak di pinggir jalan raya Glenmore-Jember, dekat dengan kawasan IGG Glenmore. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
BERDIRI SEJAK 1972: Warung Bu Salim terletak di pinggir jalan raya Glenmore-Jember, dekat dengan kawasan IGG Glenmore. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

"Sejak dulu rasanya tidak pernah berubah karena sampai sekarang urusan bumbu di dapur masih dipegang langsung oleh Mbah sendiri," ungkap Firdaus.

Di tengah maraknya inovasi kuliner yang berlomba menghadirkan menu baru, Warung Bu Salim justru memilih mempertahankan resep lama. Kesetiaan pada cita rasa inilah yang membuat pelanggan terus kembali, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.

Dendeng Ragi hingga Rempeyek Udang, Lauk Tradisional yang Menggoda

Pengalaman menikmati pecel rawon di Warung Bu Salim semakin lengkap dengan beragam pilihan lauk tradisional. Pelanggan dapat menambahkan dendeng ragi yang gurih dan renyah, jeroan ayam berbumbu ungkep yang meresap hingga ke dalam, serta rempeyek udang dengan taburan udang melimpah.

Setiap lauk menawarkan karakter rasa dan tekstur tersendiri. Dendeng ragi menghadirkan sensasi gurih yang berpadu dengan kelapa berbumbu, sementara jeroan ayam menawarkan kelezatan rempah yang meresap. Rempeyek udang menjadi pelengkap renyah yang menyempurnakan sajian.

Meski memiliki pelanggan setia dari berbagai daerah, Warung Bu Salim tidak tergoda memperluas variasi menu secara berlebihan. Pilihan tersebut merupakan bagian dari upaya keluarga menjaga kualitas rasa sekaligus mempertimbangkan kondisi Nenek Jamilah yang telah memasuki usia senja.

"Kami memilih fokus mempertahankan cita rasa otentik yang paling dicari pelanggan," jelas Firdaus.

Keputusan itu menjadi bentuk penghormatan terhadap resep warisan keluarga. Bagi mereka, mempertahankan kelezatan yang sudah dikenal pelanggan jauh lebih penting daripada sekadar menambah daftar menu.

Jujukan Kuliner Favorit Pengendara Lintas Kabupaten

Popularitas Warung Bu Salim tidak hanya berputar di kalangan warga Glenmore. Pelanggan dari Jember, Bondowoso, hingga Lumajang turut meramaikan warung ini, terutama mereka yang melintasi jalur poros selatan Banyuwangi.

Kehadiran pelanggan lintas daerah tersebut memperlihatkan bagaimana kuliner tradisional mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi perjalanan wisata maupun mobilitas antarkabupaten.

Di tengah geliat kawasan industri dan pariwisata Glenmore, warung sederhana ini turut memberikan warna bagi perekonomian lokal. Keberadaannya menjadi contoh bagaimana usaha kuliner keluarga dapat bertahan sekaligus menjaga identitas rasa daerah selama puluhan tahun.

Warung Bu Salim membuktikan bahwa daya tarik sebuah kuliner tidak selalu ditentukan oleh tampilan mewah atau inovasi yang rumit. Sepiring nasi pecel rawon dengan racikan bumbu yang konsisten, harga terjangkau, dan cerita panjang di baliknya mampu menjadi alasan kuat bagi pelanggan untuk kembali.

Bagi pemburu kuliner yang melintasi jalur Glenmore–Jember, menyempatkan diri mampir ke warung ini bukan sekadar mengisi perut. Lebih dari itu, ada kesempatan menikmati warisan rasa Banyuwangi yang tetap terjaga sejak 1972. (sas/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Pecel rawon Bu Salim Kuliner legendaris Glenmore Pecel rawon Banyuwangi Warung Bu Salim Kuliner Glenmore Jember