Ridwan Kamil, Kevin Julio hingga Bule Jerman Pernah Mampir, Ayam Kesrut Segobang Jadi Jujugan Wisman

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 01:00 WIB
Ayam kesrut Kanggo Riko di Licin jadi jujugan tokoh, artis hingga wisman. Saat ramai, warung ini bisa menghabiskan 50 ekor ayam sehari. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Ayam kesrut Kanggo Riko di Licin jadi jujugan tokoh, artis hingga wisman. Saat ramai, warung ini bisa menghabiskan 50 ekor ayam sehari. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Nama Warung Ayam Kesrut Kanggo Riko di Dusun Karangsari, Desa Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi, tak hanya dikenal sebagai tempat berburu kuliner khas Osing. Warung tersebut juga menjadi jujugan sejumlah tokoh nasional, artis, hingga wisatawan mancanegara yang datang ke kawasan kaki Gunung Ijen.

Pemilik Warung Kanggo Riko, Novitasari, mengatakan sejumlah figur yang pernah mencicipi ayam kesrut racikannya antara lain Ridwan Kamil dan Yusuf Hamka. Beberapa artis seperti Melky dan Kevin Julio juga disebut pernah berkunjung.

"Ada banyak sebenarnya, tapi saya lupa namanya," kata Novi.

Jejak tamu tersebut menjadi salah satu cerita yang ikut menguatkan popularitas ayam kesrut Kanggo Riko. Menu tradisional dengan kuah pedas, asam, dan gurih itu tetap dipertahankan sebagai sajian utama meski warung terus berbenah mengikuti perkembangan jumlah pengunjung.

Pada 2026, Novi kembali melakukan renovasi agar warung lebih nyaman. Kapasitas tempat makan kini mampu menampung sekitar 100 orang, terutama untuk rombongan wisatawan dari luar Banyuwangi.

"Sekarang bisa untuk menampung 100-an orang. Insyaallah ayam ready terus sampai habis," ujarnya.

Disukai Wisatawan Jerman dan Prancis

Daya tarik ayam kesrut Kanggo Riko ternyata tidak hanya berhenti pada wisatawan domestik. Novi menyebut sejumlah wisatawan mancanegara, terutama dari Jerman dan Prancis, juga pernah mencicipi menu khas Banyuwangi tersebut.

Karakter rasa pedas menjadi salah satu hal yang perlu disesuaikan dengan selera sebagian wisatawan asing. Beberapa di antaranya meminta tingkat kepedasan dikurangi.

Namun, ada satu bahan yang justru disebut menjadi favorit wisatawan mancanegara.

"Banyak juga bule yang suka. Kadang ada yang minta tidak terlalu pedas. Tapi yang paling disukai justru petenya," tutur Novi.

Untuk menjaga konsistensi rasa, Novi tidak menyerahkan seluruh proses pengolahan kepada pekerja. Khusus sambal, hanya tiga orang yang dipercaya membuatnya.

Menurut dia, sambal menjadi bagian penting dari cita rasa ayam kesrut. Pergantian orang yang membuat sambal dikhawatirkan membuat rasa berubah.

"Kecuali sambal. Kalau sambal ada tiga orang saja yang bisa. Karena kalau beda orang bisa beda rasa," imbuh ibu satu anak itu.

Bisa Habiskan 50 Ekor Ayam Saat Ramai

Tingginya kunjungan juga terlihat dari kebutuhan bahan baku. Dalam kondisi normal, Warung Kanggo Riko rata-rata menghabiskan 15 hingga 20 ekor ayam kampung setiap hari.

Jumlah tersebut bisa melonjak drastis ketika akhir pekan atau saat arus wisatawan menuju kawasan Ijen meningkat. Dalam kondisi ramai, kebutuhan ayam kampung bisa mencapai 50 ekor sehari.

Namun, geliat usaha kuliner tersebut sangat bergantung pada aktivitas wisata Gunung Ijen.

Novi mengakui jumlah pengunjung belakangan mengalami penurunan ketika aktivitas pendakian Ijen ditutup. Sebaliknya, ketika jalur wisata kembali ramai, pengunjung yang turun dari kawasan Ijen banyak memilih mampir untuk menikmati kuliner khas Banyuwangi.

"Cuma sekarang mulai menurun. Gara-gara Ijen tutup. Tapi kalau Ijen buka, apalagi setelah pendakian, banyak orang ke sini. Jadi dampak Ijen benar-benar kerasa," pungkasnya.

Bagi Kanggo Riko, keberadaan wisata Ijen bukan sekadar mendatangkan wisatawan. Arus kunjungan tersebut ikut menghidupkan rantai ekonomi kuliner di kawasan kaki gunung, sekaligus membuat ayam kesrut tetap dikenal sebagai salah satu hidangan tradisional Banyuwangi. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Wisata Ijen Kuliner Banyuwangi kuliner osing Ayam Kesrut Kanggo Riko