Sehari Habiskan 20 Ayam, Kuliner Legendaris di Kaki Ijen Ini Bikin Nagih

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 04:00 WIB
Ayam Kesrut Kanggo Riko di kaki Ijen telah bertahan sejak 1960. Sehari menghabiskan 15–20 ayam kampung dan diburu wisatawan lokal hingga asing. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Ayam Kesrut Kanggo Riko di kaki Ijen telah bertahan sejak 1960. Sehari menghabiskan 15–20 ayam kampung dan diburu wisatawan lokal hingga asing. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Perjalanan menuju Kawah Ijen terasa belum lengkap tanpa mencicipi ayam kesrut di kaki gunung. Di Dusun Karangsari, Desa Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Warung Ayam Kesrut Kanggo Riko telah bertahan sejak 1960 dan kini menjadi salah satu jujugan kuliner wisatawan, bahkan mampu menghabiskan 15 hingga 20 ekor ayam kampung setiap hari.

Warung yang kini dikelola Novitasari, 32, tersebut mempertahankan ayam kesrut atau ayam uyah asem sebagai menu andalan. Hidangan khas Banyuwangi itu menyajikan kuah bening dengan perpaduan rasa pedas, asam, gurih, dan sedikit manis.

Usianya yang telah mencapai 66 tahun membuat Kanggo Riko bukan sekadar tempat makan. Warung tersebut menjadi salah satu jejak kuliner tradisional Banyuwangi yang masih bertahan di tengah menjamurnya pilihan kuliner modern.

Berawal dari Warung Berdinding Bambu

Warung Ayam Kesrut Kanggo Riko pertama kali dirintis almarhumah Suyat pada 1960. Kala itu, warung tersebut masih sederhana dengan bangunan berdinding bambu.

Lokasinya juga berbeda dari sekarang. Warung lama berada di sebelah timur dengan ukuran yang lebih kecil.

Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut berpindah ke lokasi yang sekarang, dekat aliran sungai di Dusun Karangsari. Bangunan kemudian terus dikembangkan agar mampu menampung lebih banyak pelanggan.

Novitasari mulai mengambil alih pengelolaan warung pada 2013. Dia merupakan menantu dari almarhumah Suyit yang meneruskan usaha keluarga tersebut.

“Dulu warung ini hanya berdinding bambu. Lokasinya ada di timur dan lebih kecil. Sekarang dipindah ke sini dan perlahan kita bangun supaya lebih besar dan nyaman,” ujar Novi.

Posisi warung yang berada di jalur kawasan Licin membuat Kanggo Riko mudah dijangkau wisatawan yang hendak atau baru pulang dari kawasan Gunung Ijen.

Satu Paket, Lengkap dengan Ayam Kampung dan Sambal Tempong

Salah satu daya tarik Kanggo Riko adalah sajian ayam kesrut yang hadir dalam satu paket lengkap.

Pengunjung mendapatkan semangkuk ayam kesrut, ayam kampung goreng, tempe goreng, jamur crispy, rebusan selada air, mentimun, serta sambal tempong.

Ayam kesrut menjadi pusat hidangan. Kuahnya yang bening dan segar berpadu dengan rasa pedas dan asam. Potongan ayam kampung membuat cita rasanya semakin kuat.

Sementara lauk pendamping memberikan tekstur berbeda. Ada ayam dan tempe goreng yang gurih, jamur crispy yang renyah, serta sambal tempong yang menambah sensasi pedas.

Bagi wisatawan yang baru menyelesaikan perjalanan dari kawasan Ijen, kombinasi tersebut menjadi pilihan makan yang cukup lengkap.

Novi memastikan ayam kampung yang digunakan selalu dalam kondisi segar.

“Setiap hari kita menyembelih ayam kampung untuk disajikan. Jadi selalu ayam yang masih fresh,” katanya.

Warung tersebut buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.30 WIB.

Pernah Didatangi Tokoh dan Artis

Popularitas Kanggo Riko tidak hanya datang dari pelanggan lokal.

Menurut Novi, sejumlah tokoh dan artis pernah mampir menikmati ayam kesrut di warungnya. Di antaranya Ridwan Kamil, Yusuf Hamka, serta beberapa artis seperti Melky dan Kevin Julio.

“Ada banyak sebenarnya, tapi saya lupa namanya,” kata Novi.

Setelah kembali direnovasi pada 2026, kapasitas warung kini mencapai sekitar 100 orang. Kondisi itu membuat Kanggo Riko lebih siap menerima rombongan wisatawan, termasuk tamu dari luar kota.

“Sekarang bisa untuk menampung 100-an orang. Insyaallah ayam ready terus sampai habis,” ujarnya.

Wisatawan Jerman dan Prancis Ikut Jatuh Hati

Menariknya, ayam kesrut tidak hanya digemari wisatawan domestik.

Novi menyebut wisatawan mancanegara, terutama dari Jerman dan Prancis, juga pernah menikmati sajian khas Osing tersebut.

Tantangannya biasanya berada pada tingkat kepedasan. Sebagian wisatawan asing meminta rasa pedas dikurangi. Namun, ada satu pelengkap yang justru disebut cukup banyak disukai.

“Banyak juga bule yang suka. Kadang ada yang minta tidak terlalu pedas. Tapi yang paling disukai justru petenya,” tutur Novi.

Bagi Novi, mempertahankan cita rasa menjadi bagian penting dari keberlangsungan warung yang sudah berusia lebih dari enam dekade tersebut.

Menu ayam kesrut tetap menjadi tanggung jawabnya. Sementara beberapa menu gorengan dibantu pekerja lain.

Termasuk sambal yang dibuat oleh orang-orang tertentu agar rasa tetap konsisten.

“Kecuali sambal. Kalau sambal ada tiga orang saja yang bisa. Karena kalau beda orang bisa beda rasa,” imbuhnya.

Sehari Bisa Habiskan 20 Ekor Ayam

Tingginya minat pelanggan terlihat dari jumlah ayam kampung yang diolah setiap hari.

Dalam kondisi normal, Kanggo Riko rata-rata menghabiskan 15 hingga 20 ekor ayam kampung sehari. Ketika akhir pekan dan arus wisatawan meningkat, jumlahnya bisa melonjak hingga sekitar 50 ekor ayam.

Angka tersebut menunjukkan bagaimana aktivitas pariwisata di kawasan Ijen turut memengaruhi denyut usaha kuliner di sekitarnya.

Novi mengaku penjualan sempat menurun ketika aktivitas pendakian Gunung Ijen ditutup. Dampaknya langsung terasa karena banyak pelanggan Kanggo Riko merupakan wisatawan yang datang sebelum atau setelah berkunjung ke Ijen.

“Cuma sekarang mulai menurun gara-gara Ijen tutup. Tapi kalau Ijen buka, apalagi setelah pendakian, banyak orang ke sini. Jadi dampak Ijen benar-benar kerasa,” ungkapnya.

Pelanggan Datang Berulang Kali

Bagi pelanggan lokal, ayam kesrut Kanggo Riko bahkan sudah menjadi menu yang dicari ketika berada di kawasan Licin.

Fauzi, 52, warga Kelurahan Karangrejo, mengaku rutin menyambangi warung tersebut bersama keluarga maupun teman.

Dalam sebulan, dia setidaknya menyempatkan diri menikmati ayam kesrut Kanggo Riko.

“Cita rasanya khas dan pas. Apalagi disajikan selalu hangat. Kalau ke Licin, apalagi ke Ijen, wajib makan di sini,” katanya.

Pada akhirnya, kekuatan Kanggo Riko bukan hanya terletak pada semangkuk ayam kesrut. Ada resep yang dipertahankan, cara memasak yang dijaga, hingga hubungan antara kuliner dan perjalanan wisata ke Ijen.

Selama 66 tahun, warung tersebut membuktikan bahwa makanan tradisional bisa tetap bertahan ketika cita rasa dan identitasnya terus dijaga.

Ayam kesrut Kanggo Riko pun menjadi bagian dari perjalanan kuliner di kaki Ijen: datang untuk menikmati gunung, pulang membawa pengalaman rasa khas Banyuwangi. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
kuliner Ijen Kuliner Banyuwangi Ayam Kesrut Kanggo Riko ayam kampung