Tiga Hari Dibuka Langsung Diserbu, Ini Kuliner Favorit di Gerbang Pulau Santen Banyuwangi

Bagus Rio Rohman • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 00:00 WIB
MANTAP: Sajian dimsum hangat paling pas dinikmati bersama keluarga di pusat kuliner GPS. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MANTAP: Sajian dimsum hangat paling pas dinikmati bersama keluarga di pusat kuliner GPS. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Tak lagi sekadar menjadi pintu masuk menuju kawasan wisata Pulau Santen, gerbang kawasan tersebut kini disulap menjadi magnet kuliner baru. Bernama Gerbang Pulau Santen (GPS), pusat kuliner yang digagas Takmir Masjid Al-Ikhlas Kelurahan Karangrejo itu menghadirkan tujuh lapak UMKM dengan sajian nasi cawuk, tahu walik, ikan bakar, hingga aneka kopi premium.

Kehadiran GPS diharapkan menjadi motor penggerak baru ekonomi warga sekaligus menghidupkan kembali sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Lokasinya menjadi salah satu kekuatan utama pusat kuliner tersebut. GPS berada sekitar 100 meter sebelum jembatan menuju Pulau Santen dan hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Banyuwangi.

Posisinya juga berdekatan dengan sejumlah destinasi yang menjadi tujuan wisatawan, seperti Pantai Marina Boom dan Klenteng Hoo Tong Bio. Kondisi tersebut membuat GPS memiliki peluang besar menjadi titik persinggahan wisatawan sebelum atau setelah menikmati kawasan wisata di sekitarnya.

Direktur GPS Ponco Setyo Utomo mengatakan, pusat kuliner tersebut lahir dari gagasan para pengurus Takmir Masjid Al-Ikhlas. Pembangunan fasilitas dilakukan secara mandiri dengan modal awal yang dikumpulkan melalui patungan antar-pengurus.

"Tujuan utama dari kehadiran warung GPS ini adalah untuk menggairahkan kembali sektor UMKM karena seluruh operasionalnya dikelola langsung oleh warga dan takmir masjid," kata Ponco.

Ponco yang juga Ketua Asosiasi Travel Agent Banyuwangi (ATTAB) itu menjelaskan, konsep GPS tidak hanya mengandalkan kekuatan kuliner. Kawasan tersebut dirancang agar menjadi tempat singgah yang nyaman bagi wisatawan maupun masyarakat lokal.

Dari sisi bangunan, kompleks GPS mengusung konsep ramah lingkungan dengan dominasi material bambu. Deretan bambu kuning ditanam di sisi kanan dan kiri kawasan untuk menciptakan suasana yang lebih teduh.

Pengelola juga menyediakan area bermain anak atau playground. Fasilitas itu ditujukan untuk memberikan ruang bagi keluarga yang ingin menikmati kuliner sembari membawa anak-anak.

Sajikan Kuliner Tradisional hingga Kopi Premium

Tujuh lapak yang kini beroperasi di GPS buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 22.00 WIB. Menu yang ditawarkan memadukan makanan tradisional khas Banyuwangi dengan kuliner kekinian.

Deretan lapak di pusat kuliner Gerbang Pulau Santen (GPS) menyajikan aneka menu modern dan tradisional. Ada bakso, sego cawuk, dan ikan bakar. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Deretan lapak di pusat kuliner Gerbang Pulau Santen (GPS) menyajikan aneka menu modern dan tradisional. Ada bakso, sego cawuk, dan ikan bakar. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Pada pagi hari, pengunjung dapat menikmati nasi cawuk, nasi bungkus, hingga camilan polo pendem. Sementara pada malam hari tersedia pilihan ikan bakar.

Tidak hanya makanan, GPS juga menawarkan seduhan kopi premium. Pilihannya antara lain kopi luwak, robusta, dan arabika.

"Untuk segmentasi menu pagi hari, kami menyiapkan sarapan otentik seperti nasi cawuk, nasi bungkus, dan camilan polo pendem. Malam hari, pengunjung bisa menikmati menu ikan bakar. Kami juga menyediakan fasilitas seduhan kopi premium, mulai dari kopi luwak, robusta, hingga arabika," ujar Ponco.

Pilihan kuliner lainnya cukup beragam. Mulai dari bakso, aneka makanan kukus, seblak, dimsum, warmindu, ikan bakar, hingga minuman segar.

Keragaman menu tersebut menjadi bagian dari konsep GPS untuk menyasar berbagai segmen pengunjung. Wisatawan yang membutuhkan sarapan bisa datang sejak pagi, sementara pengunjung yang mencari tempat makan dan nongkrong dapat memanfaatkan kawasan tersebut hingga malam.

Tiga Hari Dibuka, Tahu Walik Jadi Buruan

Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Huda menyebut respons masyarakat terhadap pembukaan GPS cukup tinggi. Dalam tiga hari pertama operasional, jumlah kunjungan disebut meningkat signifikan.

Pengunjung tidak hanya berasal dari Banyuwangi. Sejumlah wisatawan dari luar daerah juga turut mampir ke pusat kuliner yang berada di jalur menuju Pulau Santen tersebut.

Dari catatan penjualan selama tiga hari perdana, tahu walik menjadi salah satu menu yang paling banyak diburu pengunjung.

"Beradasarkan data penjualan tiga hari ini, menu tahu walik menjadi produk yang paling disukai dan diburu pengunjung. Selain itu, menu nasi cawuk dan kue kucur hangat juga menjadi komoditas favorit utama," kata Huda.

Dengan konsep kuliner berbasis warga, lokasi strategis, serta pilihan menu tradisional dan modern, Gerbang Pulau Santen kini diproyeksikan bukan hanya sebagai tempat makan, tetapi juga ruang baru untuk menggerakkan UMKM lokal dan memperkuat pengalaman wisata di kawasan Pulau Santen. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Gerbang Pulau Santen Nasi cawuk Kuliner Banyuwangi Pulau Santen UMKM Banyuwangi