RADAR BANYUWANGI - Cireng yang selama ini identik dengan tekstur kenyal dan cocolan bumbu rujak kini hadir dalam semakin banyak variasi. Salah satunya cireng kuah seblak, kreasi yang mempertemukan jajanan berbahan tapioka dengan kuah pedas beraroma kencur.
Perubahan cara menikmati cireng itu menunjukkan bagaimana jajanan tradisional dapat mengikuti selera konsumen tanpa kehilangan ciri khasnya. Dari yang awalnya disantap dengan saus sederhana, cireng kini juga dipadukan dengan chili oil, bumbu tabur, hingga berbagai macam isian.
Aisyah, termasuk penikmat yang mengalami perubahan selera tersebut. Ia mengaku semula menganggap perpaduan cireng dan kuah seblak terdengar tidak biasa.
“Aku kira cireng kuah seblak gitu kayak aneh. Ternyata pas aku coba enak-enak aja sih, malah nagih gitu loh. Jadi aku kayak pindah haluan dari cireng bumbu rujak ke cireng kuah seblak,” ujar Aisyah.
Bagi penikmat cireng, perubahan seperti itu bukan sekadar soal menambahkan saus. Tekstur cireng yang garing di bagian luar dan kenyal di dalam memberikan karakter tersendiri ketika dipadukan dengan bumbu atau kuah yang berbeda.
Berawal dari jajanan sederhana di Priangan
Cireng merupakan kependekan dari aci digoreng. Jajanan ini telah dikenal di wilayah Priangan, Jawa Barat, sejak sekitar era 1970–1980-an.
Bahan utamanya sederhana, yakni tepung tapioka yang diolah menjadi adonan, dibentuk, kemudian digoreng. Kesederhanaan bahan tersebut justru membuat cireng mudah dikembangkan menjadi berbagai bentuk dan rasa.
Dalam penyajian tradisional, cireng umumnya dinikmati bersama saus pendamping. Salah satu yang paling dikenal adalah bumbu rujak.
Bumbu tersebut dibuat dari perpaduan cabai rawit, gula merah, asam jawa, kencur, dan garam. Rasa pedas, manis, asam, serta aroma rempahnya memberikan kontras terhadap cita rasa gurih cireng.
Selain bumbu rujak, cireng juga dapat disajikan dengan bumbu kacang. Karakter sausnya lebih kental, gurih, dan pedas, dengan cita rasa yang mengingatkan pada bumbu pendamping sejumlah jajanan seperti cilok dan batagor.
Pilihan lainnya adalah sambal kecap pedas. Kecap manis dipadukan dengan irisan cabai rawit dan bawang merah sehingga menghasilkan rasa manis sekaligus pedas.
Kuah seblak mengubah pengalaman makan cireng
Seiring berkembangnya kreasi kuliner di media sosial, cireng tidak hanya dinikmati dalam kondisi kering. Salah satu bentuk penyajian yang mencolok adalah penggunaan kuah seblak.
Kuah seblak dikenal dengan rasa pedas dan aroma kencur yang kuat. Bawang putih, cabai, serta telur dapat menjadi bagian dari racikan kuahnya.
Ketika cireng dimasukkan atau disiram dengan kuah tersebut, teksturnya ikut berubah. Permukaan yang semula renyah menjadi lebih lunak, sementara bagian dalamnya tetap memberikan sensasi kenyal.
Perpaduan tekstur dan rasa itulah yang membuat cireng kuah menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan cireng yang disantap dengan cocolan.
Pengalaman Aisyah memperlihatkan bahwa inovasi sederhana dalam penyajian dapat mengubah pilihan konsumen. Ia yang sebelumnya lebih menyukai cireng dengan bumbu rujak justru merasa cocok dengan versi kuah seblak.
Dari chili oil sampai bumbu tabur
Eksplorasi rasa pada cireng tidak berhenti pada kuah seblak. Chili oil atau minyak cabai menjadi salah satu pilihan lain yang memberikan karakter pedas dan gurih dengan aroma rempah yang berbeda.
Sementara itu, bumbu tabur menawarkan cara yang lebih praktis. Cireng goreng dapat diberi bubuk dengan berbagai rasa, antara lain balado, keju, atau BBQ.
Berbagai pilihan tersebut membuat cireng dapat disesuaikan dengan selera konsumen. Penikmat rasa tradisional bisa tetap memilih bumbu rujak, sedangkan mereka yang menyukai sensasi pedas atau rasa modern dapat mencoba kuah seblak maupun chili oil.
Cireng isi memberikan kejutan dari dalam
Inovasi juga berkembang pada bagian dalam cireng. Dalam kajian inovasi pangan yang dirujuk dari Jurnal Tata Boga UNESA, cireng isi menjadi salah satu bentuk pengembangan produk yang menambahkan bahan makanan lain ke dalam adonan.
Isian yang digunakan cukup beragam. Ayam suwir pedas atau jeletot, sosis, bakso, kornet, dan keju mozzarella menjadi beberapa contoh yang dapat digunakan.
Pada cireng isi, sensasi makan tidak hanya berasal dari lapisan luar yang digoreng. Ketika dibelah setelah matang, isian di dalamnya memberikan rasa dan tekstur tambahan.
Keju mozzarella, misalnya, dapat memberikan sensasi lumer ketika cireng masih panas. Sementara ayam suwir pedas memberikan rasa gurih sekaligus pedas yang lebih kuat.
Perkembangan tersebut menunjukkan fleksibilitas cireng sebagai jajanan. Bahan dasar yang relatif sederhana dapat dipadukan dengan beragam bahan lain untuk menghasilkan pengalaman makan yang berbeda.
Tetap perhatikan porsi saat menikmati cireng
Di tengah banyaknya pilihan rasa, aspek gizi tetap perlu diperhatikan. Cireng berbahan dasar tepung tapioka terutama menyumbang karbohidrat, sedangkan proses penggorengan dapat menambah kandungan lemak dan energi.
Karena itu, cireng lebih tepat ditempatkan sebagai camilan dan dikonsumsi dalam porsi yang wajar. Pilihan cireng dengan isian ayam, daging, atau ikan dapat memberikan tambahan protein, tetapi bukan berarti otomatis menjadikannya makanan dengan komposisi gizi lengkap.
Informasi kesehatan yang dirujuk dari Alodokter dan Hello Sehat juga menekankan pentingnya memperhatikan jumlah konsumsi makanan yang digoreng dan menjaga keseimbangan asupan harian.
Dengan kata lain, menikmati cireng tidak harus berarti menghindarinya sama sekali. Yang lebih penting adalah memperhatikan porsi dan keseluruhan pola makan.
Jajanan lama, selera yang terus bergerak
Perjalanan cireng memperlihatkan bahwa makanan tradisional tidak selalu harus bertahan dalam bentuk yang sama. Bumbu rujak tetap menjadi bagian dari identitasnya, tetapi kreativitas kuliner membuka jalan bagi berbagai kombinasi baru.
Cireng kuah seblak, chili oil, bumbu tabur, dan cireng isi merupakan contoh bagaimana satu jajanan dapat beradaptasi dengan perkembangan selera.
Bagi generasi yang mengenal cireng dari bumbu rujak, variasi baru mungkin terasa berbeda. Namun, seperti pengalaman Aisyah, perpaduan yang awalnya terdengar tidak biasa justru bisa menjadi pilihan baru.
Dari Priangan, cireng terus bergerak mengikuti zaman. Bentuknya boleh berkembang, sausnya boleh berganti, dan isiannya semakin beragam. Namun, karakter dasarnya tetap sama, jajanan sederhana berbahan tapioka yang mengandalkan perpaduan rasa gurih dan tekstur kenyal.
Editor : Lugas Rumpakaadi