RADAR BANYUWANGI - Eksistensi warung makan Rojo Belut Spesial Sambal Kemangi di Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, tak tergoyahkan oleh gempuran kuliner modern.
Warung legendaris yang berdiri sejak 2006 ini sukses mempertahankan popularitasnya berkat sensasi pedas, manis, dan gurih dari menu belut goreng yang berpadu sempurna dengan aroma segar sambal kemangi.
Saking ramainya, deretan mobil pelanggan kerap memenuhi area parkir warung.
Saat akhir pekan atau momen ramai, Bu Kadi selaku pemilik warung mengaku mampu menghabiskan hingga 10 kilogram belut dalam sehari, sementara pada hari normal menghabiskan enam hingga tujuh kilogram belut.
"Biasanya ramai di hari Minggu. Ditambah sekarang ada kegiatan Car Free Day (CFD) di Hutan Karetan, pelanggan pasti membeludak," ujar Bu Kadi.
Keistimewaan kuliner di sini terletak pada kekuatan rasa sambal kemangi bertekstur mantap yang berpadu dengan kelezatan belut goreng yang bebas aroma amis.
Cita rasa otentik tersebut dijaga ketat melalui proses pembuatan sambal yang diulek secara manual satu per satu.
Karena rumitnya proses meracik sambal yang butuh ketelatenan ekstra, Bu Kadi kini dibantu oleh lima orang karyawan.
"Meracik dan mengulek sambalnya itu yang butuh waktu dan tenaga ekstra. Kalau pegawai ada yang libur, kami memilih tutup untuk istirahat karena tidak akan mampu melayani pelanggan," tutur perempuan berusia kepala enam tersebut.
Satu porsi menu andalan belut sambal kemangi plus nasi hangat dibanderol dengan harga Rp 22 ribu.
Warung ini juga menyediakan variasi menu lain seperti lele, wader, dan daging ayam, termasuk pilihan sambal pecel seharga Rp 15 ribu.
Kepuasan rasa itu diakui oleh Rama Maulana, salah seorang pembeli setianya.
Menurutnya, perpaduan rasa pedas, manis, gurih, dan daging belut yang kesat menjadi kombinasi yang sangat mantap.
"Sambal belut di sini sangat mantap. Tempat ini sangat pas untuk mengisi perut setelah atau sebelum berwisata ke Alas Purwo, Pantai Grajagan, dan destinasi lain di Banyuwangi Selatan," kata Rama.
Editor : Lugas Rumpakaadi