RADAR BANYUWANGI - Sekilas, getuk pisang khas Kediri mungkin terlihat seperti lontong berwarna merah kecokelatan. Namun, kudapan legit dengan rasa manis dan sedikit asam ini memiliki cerita panjang tentang kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan pangan lokal ketika beras sulit diperoleh.
Berbeda dengan getuk yang selama ini lebih dikenal berbahan singkong, getuk pisang dibuat menggunakan Pisang Raja Nangka. Buah tersebut diolah melalui proses pengukusan dan penumbukan hingga menghasilkan panganan dengan tekstur padat, kesat, serta rasa manis-asam yang menjadi ciri khasnya.
Bentuknya pun mudah dikenali. Getuk pisang umumnya dibuat menyerupai silinder dan dibungkus rapat dengan daun pisang. Setelah melalui proses pengolahan, bagian dalamnya berubah menjadi merah kecokelatan.
Bagi sebagian orang, keberadaan getuk pisang bahkan menjadi pengalaman baru ketika mengenal lebih jauh ragam kuliner tradisional Jawa Timur.
“Aku baru tahu kalau ada getuk pisang. Selama ini kirain getuk tuh cuma yang warna-warni itu lho, terus pas coba searching ternyata getuk ada banyak macamnya ya,” ujar Shinta.
Lahir dari kreativitas masyarakat saat pangan sulit diperoleh
Di balik bentuknya yang sederhana, getuk pisang memiliki cerita yang berkaitan dengan kondisi masyarakat Kediri pada masa pendudukan Jepang.
Berdasarkan catatan Ketua Komunitas Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK), Novi Bahrul Munib, keberadaan getuk pisang dikaitkan dengan kreativitas masyarakat di kawasan bantaran Sungai Brantas ketika terjadi krisis pangan dan beras semakin sulit diperoleh.
Pada masa tersebut, masyarakat memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di sekitar mereka. Pisang Raja Nangka yang melimpah kemudian diolah dengan cara ditumbuk atau digetuk untuk menghasilkan pangan alternatif yang lebih padat dan mengenyangkan.
Menurut catatan tersebut, seorang nenek di kawasan Mojoroto disebut menjadi salah satu pelopor pengolahan pisang dengan cara tersebut. Tradisi itu kemudian berkembang menjadi panganan yang dikenal sebagai getuk pisang.
Sejarawan J.FX. Hoery menambahkan, teknik penumbukan dalam pembuatan getuk pisang memiliki kaitan dengan cara pengolahan getuk lindri. Secara historis, istilah getuk juga dikaitkan dengan bunyi alat ketika digunakan untuk menumbuk, yakni suara "tuk-tuk".
Cerita mengenai asal-usul tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak selalu lahir dari dapur dalam kondisi serba berkecukupan. Dalam banyak kasus, kreativitas mengolah bahan yang tersedia justru menjadi bagian dari perjalanan sebuah kuliner.
Mengapa Pisang Raja Nangka yang digunakan?
Pemilihan bahan baku menjadi salah satu hal penting dalam karakter getuk pisang.
Penelitian Lastari dan Susanto (2015) dalam Jurnal Pangan dan Agroindustri Universitas Brawijaya, sebagaimana dirujuk dalam informasi mengenai getuk pisang ini, menjelaskan karakteristik Pisang Raja Nangka yang mendukung proses pengolahan. Kajian dari Institut Pertanian Bogor juga disebut menyoroti karakter bahan baku yang digunakan dalam panganan tersebut.
Pisang Raja Nangka memiliki karakter daging buah yang relatif kokoh dan tidak mudah hancur ketika mendapatkan pemanasan dalam waktu lama. Buah ini juga mengandung gula dan asam alami yang kemudian berpengaruh terhadap cita rasa serta penampilan getuk pisang.
Dalam proses tradisional, pisang dikukus selama sekitar tiga hingga empat jam. Pemanasan dalam waktu lama menyebabkan perubahan pada gula alami sehingga warna daging buah berangsur menjadi lebih gelap, dari kuning pucat menuju merah kecokelatan.
Karena itu, warna khas getuk pisang bukan sekadar persoalan tampilan. Warna tersebut merupakan bagian dari perubahan yang terjadi selama proses pengolahan.
Rasa manis-asam menjadi ciri khas
Selain warna, cita rasa menjadi pembeda utama getuk pisang dari jenis getuk lainnya.
Panganan ini memiliki tekstur yang cenderung padat, kesat, dan legit. Rasa manis berasal dari buah yang digunakan, sementara sensasi sedikit asam memberikan karakter yang berbeda dari getuk berbahan singkong.
Perbedaan tersebut membuat getuk pisang memiliki pengalaman makan yang cukup berbeda. Jika getuk lindri identik dengan tekstur lembut, bentuk seperti mi, warna-warni cerah, dan taburan kelapa parut, getuk pisang justru tampil lebih sederhana dengan satu warna dominan dan bungkus daun pisang.
Perbandingan itu sekaligus memperlihatkan bahwa istilah "getuk" mencakup beragam tradisi pengolahan pangan, bukan hanya satu jenis kudapan.
Bagaimana getuk pisang berbeda dari getuk lindri?
Perbedaan keduanya dapat dilihat dari beberapa aspek.
Getuk pisang menggunakan Pisang Raja Nangka sebagai bahan utama, sedangkan getuk lindri menggunakan singkong. Tekstur getuk pisang lebih padat dan legit dengan cita rasa manis-asam, sementara getuk lindri cenderung lembut.
Dari penampilan, getuk pisang umumnya dibungkus rapat menggunakan daun pisang dan berbentuk silinder. Getuk lindri lebih sering dibentuk menyerupai untaian mi dan hadir dalam warna-warna seperti hijau, merah muda, atau kuning, kemudian disajikan dengan kelapa parut.
Dengan karakter tersebut, keduanya memiliki identitas kuliner yang berbeda meskipun sama-sama dikenal sebagai getuk.
Dari pangan alternatif menjadi identitas oleh-oleh Kediri
Perjalanan getuk pisang tidak berhenti sebagai makanan rumahan. Seiring waktu, panganan tersebut berkembang menjadi salah satu identitas kuliner Kota Kediri.
Pemerintah Kota Kediri telah menetapkan getuk pisang sebagai identitas oleh-oleh daerah. Aktivitas pelaku usaha juga berkembang melalui sentra UMKM yang tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Kelurahan Jagalan, Kampungdalem, Pakelan, dan Kaliombo.
Kajian kebudayaan Swastiastuti dan Utami menempatkan getuk pisang dan getuk lindri sebagai bagian dari heritage food atau makanan warisan budaya. Dalam perspektif tersebut, makanan tradisional bukan hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari hubungan antara pangan, masyarakat, sejarah, dan identitas daerah.
Getuk pisang dalam konteks ini dapat dibaca sebagai gambaran kemampuan masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia di lingkungannya. Pisang yang melimpah tidak hanya menjadi buah konsumsi, tetapi diolah menjadi pangan yang memiliki nilai budaya dan ekonomi.
Bagi masyarakat Banyuwangi maupun wisatawan yang mengenal ragam kuliner Jawa Timur, getuk pisang menawarkan cerita yang lebih panjang daripada sekadar oleh-oleh.
Di balik bungkus daun pisang dan warna merah kecokelatannya, terdapat jejak kreativitas masyarakat Kediri dalam menghadapi keterbatasan pangan. Dari bahan sederhana yang tersedia di sekitar tempat tinggal, lahir sebuah kuliner yang bertahan sebagai bagian dari identitas daerah hingga sekarang.
Editor : Lugas Rumpakaadi