RADAR BANYUWANGI - Soto babat memang menggoda, tetapi porsinya perlu dikendalikan. Hidangan tradisional berbahan jeroan sapi ini dapat menjadi sumber protein dan energi, namun juga membawa asupan kolesterol, lemak, purin, kalori, serta natrium yang perlu diperhatikan. Karena itu, menikmati soto babat secara bijak bukan berarti harus menghindarinya, melainkan mengatur porsi, memilih kuah, dan membatasi pelengkapnya.
Soto babat dikenal lewat kuah gurih dengan irisan babat sapi yang memiliki tekstur kenyal khas. Sajian ini biasanya dilengkapi daun bawang, seledri, bawang goreng, tauge, hingga emping atau kerupuk.
Di balik kenikmatannya, kandungan gizi soto babat sangat bergantung pada bahan dan cara pengolahannya. Jumlah babat, jenis kuah, porsi nasi, serta pelengkap bisa membuat total kalorinya berbeda antara satu porsi dengan porsi lainnya.
Berapa Kalori Soto Babat?
Babat sapi matang sebanyak 50 gram diperkirakan mengandung sekitar 60–90 kalori. Sementara itu, kuah soto bening berada di kisaran 40–80 kalori per mangkuk.
Jika menggunakan kuah santan, kalorinya bisa lebih tinggi, sekitar 100–160 kalori per mangkuk. Belum termasuk nasi putih 150 gram yang menyumbang sekitar 175–200 kalori.
Pelengkap seperti bawang goreng dan emping juga menambah kalori. Dalam porsi kecil, keduanya dapat menyumbang sekitar 40–80 kalori.
Dengan kombinasi babat, kuah, nasi, dan pelengkap, satu porsi soto babat lengkap dapat mencapai sekitar 350–600 kalori atau lebih, tergantung resep dan ukuran porsinya.
Artinya, seporsi soto babat belum tentu memiliki jumlah kalori yang sama. Soto dengan kuah bening, sedikit babat, dan tanpa banyak pelengkap tentu berbeda dengan soto bersantan yang disajikan bersama nasi dan berbagai tambahan.
Protein Ada, tetapi Kolesterol dan Purin Perlu Diperhatikan
Babat merupakan bagian jeroan sapi yang dapat menyumbang protein. Namun, jeroan juga perlu dikonsumsi secara terbatas karena mengandung kolesterol dan purin.
Sementara itu, kuah santan, nasi, serta pelengkap tertentu dapat meningkatkan total lemak dan kalori dalam satu porsi.
Jika soto babat terlalu sering dikonsumsi dalam porsi besar dan menjadi bagian dari pola makan tinggi kalori, lemak jenuh, atau natrium, risikonya terhadap kesehatan dapat meningkat.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
-
Berat badan: asupan kalori berlebihan secara terus-menerus dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan.
-
Kolesterol: konsumsi jeroan secara berlebihan dapat meningkatkan asupan kolesterol.
-
Tekanan darah: kuah dan pelengkap yang tinggi garam dapat meningkatkan asupan natrium.
-
Kesehatan jantung: pola makan tinggi lemak jenuh dan kalori dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
-
Asam urat: makanan tinggi purin, termasuk jeroan, perlu dibatasi terutama bagi orang yang sensitif terhadap asupan purin.
Namun, sederet risiko tersebut bukan berarti soto babat harus dicoret sepenuhnya dari menu.
Kuncinya adalah porsi dan frekuensi konsumsi. Soto babat sesekali masih dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang apabila disertai pilihan bahan dan pelengkap yang lebih bijak.
Begini Cara Menikmati Soto Babat agar Lebih Sehat
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membuat semangkuk soto babat lebih terkendali dari sisi kalori, lemak, kolesterol, dan natrium.
1. Batasi porsi babat
Tidak perlu memenuhi mangkuk dengan jeroan. Mengurangi jumlah babat berarti membantu membatasi asupan kolesterol dan purin.
2. Pilih kuah bening
Jika tersedia pilihan, kuah bening dapat menjadi alternatif yang lebih ringan dibandingkan kuah bersantan. Penggunaan santan yang lebih sedikit juga dapat membantu menekan asupan lemak dan kalori.
3. Perbanyak sayuran
Tambahkan tauge, tomat, daun bawang, seledri, atau sayuran lain. Selain membuat sajian lebih segar, sayuran membantu menambah asupan serat, vitamin, dan mineral.
4. Jangan berlebihan dengan pelengkap
Emping, kerupuk, dan bawang goreng memang membuat soto semakin nikmat. Namun, tambahan tersebut juga dapat meningkatkan kalori. Gunakan secukupnya.
5. Atur porsi nasi
Nasi putih tetap bisa disantap, tetapi porsinya sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan. Sebagian nasi juga dapat diganti dengan nasi merah untuk mendapatkan asupan serat yang lebih tinggi.
6. Perhatikan garam dan penyedap
Kuah soto yang sudah gurih tidak perlu ditambah terlalu banyak garam, kecap, atau penyedap. Langkah sederhana ini membantu mengendalikan asupan natrium.
7. Pastikan jeroan matang sempurna
Babat harus dibersihkan dan dimasak hingga matang sempurna. Penanganan bahan yang baik penting untuk mengurangi risiko infeksi maupun keracunan makanan.
Tidak Perlu Pantang, yang Penting Tahu Batas
Soto babat pada akhirnya tetap bisa dinikmati. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa banyak babat yang masuk ke mangkuk, jenis kuah yang dipilih, seberapa banyak nasi dan pelengkap yang ditambahkan, serta seberapa sering makanan tersebut dikonsumsi.
Semangkuk soto babat akan lebih mudah masuk dalam pola makan seimbang jika porsinya wajar, sayuran diperbanyak, kuah tidak terlalu berlemak, dan pelengkap tinggi kalori dibatasi.
Jadi, persoalannya bukan semata-mata boleh atau tidak makan soto babat, tetapi bagaimana mengatur porsinya agar kenikmatan makanan tradisional tetap berjalan beriringan dengan pola makan yang lebih seimbang. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Alodokter