Diteruskan Empat Anak, Soto Surabaya di Perliman Banyuwangi Tetap Eksis sejak Era 1980-an

Bagus Rio Rohman • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 23:00 WIB
Soto Surabaya Banyuwangi bertahan sejak era 1980-an. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Soto Surabaya Banyuwangi bertahan sejak era 1980-an. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Gempuran kuliner modern tak membuat Soto Surabaya kehilangan tempat di hati pelanggan Banyuwangi. Dirintis dari gerobak kecil di kawasan Taman Sritanjung sejak era 1980-an, usaha milik almarhum Slamet dan almarhumah Sining itu kini tetap bertahan dan diteruskan bersama oleh empat anak mereka.

Warung yang membawa cita rasa khas Surabaya tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan kuliner Banyuwangi dari masa ke masa. Di tengah bermunculannya restoran dan usaha kuliner modern, Soto Surabaya justru mampu mempertahankan eksistensinya lewat resep yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Usaha tersebut kini dikelola bersama oleh empat anak Slamet dan Sining. Salah satunya adalah Sairoh, anak ketiga pasangan perantau asal Gresik tersebut.

“Ini sebenarnya usaha milik almarhum orang tua saya. Saat ini, usaha Soto Surabaya ini tengah dikelola secara bersama-sama oleh keempat anaknya,” ujar Sairoh.

Bermula dari Gerobak Kecil

Soto Surabaya tidak lahir dari sebuah bangunan restoran megah. Puluhan tahun lalu, usaha itu bermula dari gerobak kecil yang digunakan Slamet dan Sining untuk berjualan di kawasan parkiran Taman Sritanjung.

Keduanya merupakan perantau asal Gresik yang mencoba membangun kehidupan di Banyuwangi. Karena membawa kuliner khas daerah asalnya, nama Soto Surabaya kemudian melekat pada usaha keluarga tersebut.

“Almarhum orang tua saya ini memang bukan asli Banyuwangi, makanya sotonya dinamai Soto Surabaya. Karena kami semua sebenarnya aslinya dari Gresik yang merantau ke Banyuwangi,” kenang Sairoh.

Perjalanan merintis usaha pada era 1980-an itu tidak mudah. Dari berjualan menggunakan gerobak di pinggir jalan, usaha keluarga tersebut perlahan berkembang hingga akhirnya menempati sebuah ruko di sebelah barat Simpang Lima Banyuwangi.

Perpindahan tempat tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Soto Surabaya. Dari tempat sederhana, usaha yang dibangun Slamet dan Sining mulai memiliki pelanggan dan berkembang menjadi sumber penghidupan keluarga.

Soto Surabaya Banyuwangi bertahan sejak era 1980-an. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Soto Surabaya Banyuwangi bertahan sejak era 1980-an. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Resep Warisan yang Dipertahankan

Perjalanan panjang itu kemudian memasuki babak baru setelah Slamet meninggal dunia sekitar sepuluh tahun lalu. Setahun setelahnya, keluarga kembali kehilangan Sining.

Meski kedua perintis usaha telah tiada, warisan kuliner yang mereka bangun tidak ikut berhenti. Keempat anak sepakat melanjutkan usaha tersebut secara bersama-sama.

Keputusan itu bukan semata karena Soto Surabaya menjadi sumber penghasilan. Ada ikatan keluarga dan tanggung jawab untuk menjaga usaha yang telah dirintis orang tua mereka selama puluhan tahun.

“Makanya, perjalanan panjang itu membuat keempat anak almarhum bapak dan ibu sepakat untuk meneruskan usaha peninggalan beliau,” jelas Sairoh.

Menariknya, sebagian saudara Sairoh sebenarnya telah memiliki penghasilan dari unit usaha lain. Namun, keberadaan Soto Surabaya tetap dipertahankan.

Bagi keluarga tersebut, meneruskan usaha peninggalan orang tua berarti menjaga lebih dari sekadar sebuah warung. Di dalamnya ada cerita perjuangan dua perantau asal Gresik, perjalanan membangun kehidupan di Banyuwangi, serta resep kuliner yang telah melewati lintas generasi.

Kini, ketika wajah kuliner Banyuwangi terus berubah dan bisnis modern semakin menjamur, Soto Surabaya tetap memilih bertahan dengan identitas lamanya. Gerobak kecil yang dahulu menjadi titik awal telah berubah menjadi usaha keluarga yang mampu bertahan hingga generasi berikutnya.

Empat anak menjadi penerusnya. Resep dan cerita orang tua menjadi warisannya. Dan semangkuk Soto Surabaya tetap menjadi penanda bahwa kuliner legendaris tidak selalu harus berubah mengikuti zaman untuk tetap dicintai. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
soto Surabaya soto legendaris Usaha keluarga Kuliner Banyuwangi kuliner tradisional