RADAR BANYUWANGI - Bihun, soun, dan misoa kerap dianggap sebagai jenis mi yang sama karena sama-sama berbentuk tipis dan berwarna putih. Padahal, ketiganya memiliki bahan dasar, tekstur, serta karakter yang berbeda ketika diolah.
Perbedaan tersebut penting diketahui sebelum memasak. Salah memilih jenis mi dapat membuat hasil hidangan terlalu lembek, mudah hancur, atau justru tidak memiliki tekstur seperti yang diharapkan.
Bagi masyarakat Banyuwangi yang terbiasa menyiapkan masakan rumahan, mengenali karakter ketiga mi putih ini juga dapat membantu ketika berbelanja bahan makanan. Setiap jenis memiliki penggunaan yang lebih sesuai dengan hidangan tertentu.
Kenapa bihun dan soun sering tertukar?
Secara sekilas, bihun dan soun memang sulit dibedakan ketika masih dalam kondisi kering. Keduanya sama-sama berbentuk mi tipis dan berwarna terang.
Namun, bahan pembuatnya berbeda. Bihun menggunakan tepung beras, sedangkan soun dibuat dari bahan berbasis pati yang dapat berasal dari kacang hijau, ubi jalar, kentang, atau tapioka.
Perbedaan bahan tersebut kemudian memengaruhi warna dan tekstur setelah dimasak.
Bihun, mi yang mudah menyerap bumbu
Bihun dibuat dari tepung beras. Secara fisik, bihun biasanya terlihat putih dengan tampilan agak buram atau kusam.
Ketika dimakan, teksturnya cenderung kesat dan sedikit rapuh. Karakter tersebut membuat bihun mudah menyerap bumbu sehingga cocok digunakan dalam hidangan yang mengandalkan cita rasa dari bumbu atau saus.
Bihun antara lain dapat diolah menjadi bihun goreng, dicampurkan dalam ketoprak, atau digunakan sebagai pelengkap sup.
Karena mudah menyerap bumbu, pengolahan bihun perlu diperhatikan agar tidak terlalu lama terkena panas atau cairan. Pemilihan cara memasak yang tepat membantu mempertahankan teksturnya.
Soun berubah menjadi bening setelah dimasak
Soun memiliki karakter yang cukup mudah dikenali setelah direbus atau direndam. Mi ini berubah menjadi bening dan transparan sehingga sering kali tampak seperti kaca.
Bahan dasarnya berasal dari pati. Jenis pati yang digunakan dapat berbeda-beda, antara lain pati kacang hijau, ubi jalar, kentang, atau tapioka.
Dibandingkan bihun, soun mempunyai tekstur yang lebih kenyal dan licin. Karakter tersebut membuatnya sesuai untuk hidangan berkuah seperti sup dan bakso, serta berbagai tumisan.
Soun juga relatif tidak mudah hancur sehingga dapat digunakan pada masakan yang membutuhkan mi dengan tekstur lebih kuat.
Misoa paling lembut dan cepat matang
Misoa mempunyai karakter yang berbeda dari bihun dan soun. Mi ini dibuat menggunakan tepung gandum atau terigu dan umumnya berwarna putih dan lebih padat.
Tekstur misoa dikenal sangat halus dan lembut. Proses memasaknya pun relatif cepat, sehingga perlu mendapat perhatian agar tidak terlalu lama berada dalam kuah atau terkena panas.
Karena teksturnya yang lembut, misoa banyak digunakan dalam sup hangat. Karakter tersebut juga membuatnya sesuai untuk hidangan yang ditujukan bagi anak-anak maupun lansia.
Bagaimana membedakan ketiganya dengan cepat?
Ada beberapa cara sederhana untuk mengenali bihun, soun, dan misoa.
Pertama, perhatikan bahan dan bentuknya ketika membeli. Bihun berbahan tepung beras, sedangkan soun berbasis pati dan misoa menggunakan tepung gandum atau terigu.
Kedua, perhatikan perubahan setelah dimasak. Soun biasanya berubah menjadi bening dan transparan. Bihun tetap cenderung berwarna putih, sementara misoa memiliki tekstur yang sangat lembut dan cepat matang.
Ketiga, sesuaikan dengan hidangan yang akan dibuat. Jika ingin mi yang mudah menyerap bumbu, bihun dapat menjadi pilihan. Untuk sup, bakso, atau tumisan yang membutuhkan tekstur kenyal, soun lebih sesuai. Sementara itu, misoa dapat dipilih ketika hidangan membutuhkan mi yang lembut.
Pengalaman salah memilih mi
Ketidaktahuan mengenai perbedaan tersebut ternyata juga dapat terjadi dalam aktivitas memasak sehari-hari. Mayang, mengaku pernah berdebat dengan temannya mengenai perbedaan bihun dan soun.
“Aku sering banget ribut sama temenku cuma gara-gara debat bedain bihun sama soun. Menurutku, bentuk dan teksturnya jelas beda, tapi kata dia sama aja. Ujung-ujungnya pas dimasak malah hancur atau kelembekan karena salah pilih,” katanya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa memilih mi bukan hanya soal bentuk. Karakter bahan perlu disesuaikan dengan teknik memasak dan jenis hidangan yang akan dibuat.
Jangan sampai salah pilih saat memasak
Bihun, soun, dan misoa memang sama-sama dapat ditemukan sebagai mi putih berukuran tipis. Namun, perbedaan bahan dasar membuat ketiganya mempunyai karakter masing-masing.
Bihun lebih mudah menyerap bumbu dan cocok untuk bihun goreng, ketoprak, maupun sup. Soun mempunyai tekstur kenyal dan transparan setelah dimasak sehingga sesuai untuk sup, bakso, serta tumisan. Adapun misoa memiliki tekstur paling lembut dan cepat matang sehingga lebih cocok untuk sup atau hidangan yang membutuhkan tekstur ringan.
Dengan mengenali perbedaan tersebut, memilih mi saat berbelanja maupun mengolahnya di dapur menjadi lebih mudah. Tidak hanya mengurangi risiko mi hancur atau kelembekan, pemilihan bahan yang tepat juga membantu menghasilkan hidangan dengan rasa dan tekstur yang lebih sesuai.
Editor : Lugas Rumpakaadi