RADAR BANYUWANGI – Bentuknya bukan lontong biasa, harganya hanya sekitar Rp5 ribu, tetapi rasanya mampu membuat pemburu kuliner datang kembali. Sompil khas Trenggalek menjadi salah satu kuliner tradisional yang masih bertahan di Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, dengan lontong berbentuk kerucut, kuah santan pedas, dan tewel yang dimasak hingga lembut.
Sajian sederhana ini mudah ditemui di warung-warung tradisional, salah satunya di Dusun Beji, Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari. Di tengah gempuran makanan modern, sompil tetap menjadi pilihan sarapan warga karena menawarkan rasa khas, porsi mengenyangkan, dan harga yang bersahabat.
Keunikan sompil bukan hanya terletak pada rasanya. Bentuk lontong yang menyerupai kerucut kecil seperti tumpeng mini menjadi ciri paling mudah dikenali dari kuliner khas Trenggalek ini.
Lontong Berbentuk Kerucut, Bukan Silinder
Bagi masyarakat di luar Trenggalek, bentuk sompil mungkin menjadi hal pertama yang menarik perhatian.
Jika lontong pada umumnya dibuat memanjang seperti silinder, sompil justru dibentuk menyerupai kerucut kecil. Bentuk tersebut menjadi identitas tersendiri bagi kuliner yang berkembang di wilayah Gandusari.
Lontong dibuat dengan cara tradisional dan dibungkus menggunakan daun pisang. Selain menjadi pembungkus alami, daun pisang memberikan aroma khas yang membuat sajian terasa lebih autentik.
Bentuk kerucutnya juga disebut menyerupai cangkang keong. Penyebutan dan bentuk tersebut menjadi bagian dari keunikan sompil yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kuah Santan Pedas dengan Tewel
Setelah lontong kerucut dibelah dan disajikan, bagian yang tak kalah menggoda adalah kuahnya.
Sompil menggunakan kuah santan bercita rasa pedas yang oleh masyarakat setempat disebut “jangan”. Sayuran yang digunakan dapat beragam, tetapi tewel atau nangka muda menjadi salah satu isian yang paling khas.
Tewel dimasak sampai lembut sehingga mudah disantap bersama lontong. Kuah santan yang gurih dan pedas berpadu dengan tekstur tewel menghasilkan cita rasa yang kuat.
Bukan sekadar bumbu yang menjadi rahasia kelezatannya. Proses memasak juga berperan penting.
Menurut penuturan penjual, sayur yang digunakan diolah kemudian didiamkan semalaman. Cara tersebut dilakukan agar bumbu meresap lebih sempurna sehingga rasa kuah menjadi lebih kuat dan konsisten.
Bertahan Sejak Tahun 2000
Sompil bukan kuliner baru yang mendadak populer karena media sosial. Warung yang menyajikan makanan tersebut telah berdiri sejak sekitar tahun 2000 dan terus bertahan hingga sekarang.
Dalam perjalanannya, sompil berkembang menjadi salah satu pilihan sarapan masyarakat Gandusari. Pelanggannya tidak hanya berasal dari sekitar warung, tetapi juga datang dari luar daerah untuk mencicipi makanan tradisional tersebut.
Penyajian menggunakan daun pisang pun masih dipertahankan.
Di tengah semakin banyaknya pilihan makanan modern, cara tradisional itu justru menjadi kekuatan. Aroma daun pisang, bentuk lontong yang khas, dan kuah santan pedas membuat sompil memiliki karakter yang sulit disamakan dengan lontong sayur pada umumnya.
Rp5 Ribu Sudah Dapat Lontong dan Tempe
Daya tarik lain sompil adalah harga.
Satu porsi sompil dibanderol sekitar Rp5.000, termasuk lauk sederhana seperti tempe goreng. Dengan uang yang relatif kecil, pembeli sudah mendapatkan sarapan yang mengenyangkan sekaligus memiliki cita rasa khas daerah.
Harga tersebut pula yang membuat sompil tetap dekat dengan berbagai lapisan masyarakat.
Pada pagi hari, warung penjual sompil dapat dipadati pembeli. Ketika sedang ramai, antrean bahkan bisa mengular.
Fenomena itu menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak selalu harus tampil mahal untuk menarik perhatian. Sompil justru mempertahankan kekuatannya melalui resep sederhana yang konsisten dari waktu ke waktu.
Sompil dan Identitas Kuliner Trenggalek
Pada akhirnya, sompil lebih dari sekadar lontong yang disiram sayur santan.
Lontong berbentuk kerucut, kuah santan pedas, tewel lembut, bungkus daun pisang, serta harga sekitar Rp5 ribu menjadi rangkaian identitas yang membuat sompil khas Trenggalek tetap dicari.
Kuliner yang tumbuh dari warung sederhana di Gandusari tersebut menjadi bukti bahwa resep warisan lokal masih mampu bertahan ketika dipertemukan dengan selera masyarakat masa kini.
Bagi pemburu kuliner yang berkunjung ke Trenggalek, sompil layak masuk daftar sajian yang dicoba. Sebab, pengalaman menyantapnya bukan hanya soal kenyang, tetapi juga mencicipi bagian dari tradisi kuliner masyarakat setempat. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Trenggalek Njenggelek