Lontong Kikil Bojonegoro, Warisan 35 Tahun yang Selalu Menggoda Saat Sore

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 01:00 WIB
KUDAPAN MALAM: Penjual lontong kikil di barat Pasar Kota Bojonegoro. Ada kikil yang ditusuk menyerupai sate dan kuah kare pedas. (DANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
KUDAPAN MALAM: Penjual lontong kikil di barat Pasar Kota Bojonegoro. Ada kikil yang ditusuk menyerupai sate dan kuah kare pedas. (DANI WAHYU ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

RADAR BANYUWANGI – Menjelang matahari tenggelam, aroma santan dan bawang goreng mulai menguar dari sebuah lapak sederhana di barat Pasar Kota Bojonegoro. Di atas meja, tumpukan lontong berbalut daun pisang menunggu disiram kuah lodeh, kare ayam, atau kikil. Selama 35 tahun, Siti Ngarofah mempertahankan kuliner lontong sayur turun-temurun yang justru paling dicari saat sore hingga malam hari.

Tiga panci besar berjajar di lapak milik Siti. Masing-masing berisi menu berbeda: lodeh, kare ayam, dan kikil. Ketiganya menjadi teman lontong yang dinikmati pelanggan dengan cita rasa gurih khas masakan bersantan.

Namun, ada satu sajian yang punya daya tarik tersendiri: lontong kikil dengan taburan sambal parutan kelapa sangrai.

Kuliner sederhana itu menjadi salah satu sajian yang masih bertahan di tengah menjamurnya makanan cepat saji. Di kawasan PKL Berkah, barat Pasar Kota Bojonegoro, sedikitnya tiga hingga empat penjual lontong masih membuka lapaknya.

Lebih Nikmat Saat Matahari Tenggelam

Lontong kikil dan kare ayam buatan Siti bukan menu yang tersedia sepanjang hari. Ada waktu khusus ketika kuliner tersebut mulai dicari pembeli, yakni sore hingga malam.

Ketika matahari berangsur turun, pembeli mulai berdatangan. Kuah santan panas, potongan kikil yang lembut, lontong, serta taburan kelapa sangrai menciptakan perpaduan rasa gurih dan aroma rempah yang kuat.

Bagi pelanggan seperti Ilham, waktu terbaik menikmati lontong kikil memang ketika hari mulai gelap.

"Enak dinikmati malam hari, karena itu beberapa kali sempatkan makan ke sini," kata Ilham, salah seorang pembeli.

Ilham mengaku kerap menyempatkan diri mampir untuk menikmati lontong kikil. Menurut dia, makanan tersebut mempunyai penggemarnya sendiri meski pilihan makanan modern semakin beragam.

Akhir pekan menjadi salah satu waktu yang sering dimanfaatkan untuk kembali menikmati kuliner tradisional tersebut.

35 Tahun Menjaga Resep Keluarga

Di balik seporsi lontong sayur itu ada perjalanan panjang Siti Ngarofah. Perempuan asal Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, tersebut sudah 35 tahun berjualan lontong sayur.

Usaha itu dijalankan secara turun-temurun. Puluhan tahun berlalu, pelanggan berganti generasi, tetapi Siti tetap mempertahankan dagangannya.

"Sudah 35 tahun berjualan lontong sayur. Dari anak saya masih TK sampai punya cucu dua," ujar Siti saat ditemui menjelang magrib.

Rutinitas Siti juga tidak sederhana. Setiap hari, dia hilir mudik menyeberangi Sungai Bengawan Solo untuk berjualan di kawasan barat Pasar Kota.

Perjalanan tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya. Bahkan ketika tenaga tidak lagi sekuat dulu, Siti memilih tetap menjalankan usaha yang sudah puluhan tahun menjadi sumber penghidupannya.

Tetap Berjualan Meski Tak Lagi Muda

Riuh kendaraan warga yang pulang kerja menjadi latar aktivitas Siti menjelang malam. Di tengah kesibukan itu, dia masih sibuk menyiapkan lontong dan kuah untuk pelanggan.

Bagi Siti, berjualan bukan sekadar pekerjaan. Ada perjalanan panjang dan ikatan keluarga yang membuatnya tetap bertahan.

"Memang ditakdirkan berjualan, tetap dinikmati saja," ujarnya sambil tersenyum.

Kalimat sederhana itu seperti menggambarkan perjalanan kuliner lontong sayur miliknya. Tiga puluh lima tahun berlalu, resep dan tradisi tetap dijaga, sementara pelanggan terus datang mencari rasa yang mungkin tidak mereka temukan pada makanan cepat saji.

Di Bojonegoro, lontong kikil dan kare ayam akhirnya bukan sekadar makanan pengganjal perut. Ia menjadi bagian dari cerita kuliner sore hari—ketika aroma santan mulai memenuhi udara dan sebuah lapak sederhana kembali menghidangkan warisan rasa yang nyaris tak berubah selama puluhan tahun. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Radar Bojonegoro
Lontong kikil Kuliner Bojonegoro Siti Ngarofah Pasar Kota Bojonegoro lontong sayur