Bukan Sekadar Kopi, Banyuwangi Bikin Akademisi Dunia Terpikat Budaya Gombengsari

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:00 WIB
Kopi Banyuwangi menarik akademisi dunia. Peserta Summer Course Unej belajar dari kebun hingga cangkir sekaligus mengenal budaya Gombengsari. (banyuwangitourism.com)
Kopi Banyuwangi menarik akademisi dunia. Peserta Summer Course Unej belajar dari kebun hingga cangkir sekaligus mengenal budaya Gombengsari. (banyuwangitourism.com)

RADAR BANYUWANGI – Aroma kopi dari lereng perkebunan Banyuwangi kini tak hanya menguar di pasar domestik. Komoditas khas Tanah Blambangan itu mulai menjadi magnet akademisi dunia yang ingin melihat langsung bagaimana kopi, budaya, dan pariwisata dirajut menjadi satu pengalaman.

Banyuwangi dipilih sebagai salah satu lokasi kunjungan studi dalam Summer Course of Coffee: From the Bean to the Cup and Culture yang digelar Universitas Jember (Unej). Program tersebut mempertemukan delegasi internasional dengan masyarakat dan pelaku kopi lokal untuk mempelajari perjalanan kopi secara utuh, dari kebun hingga menjadi sajian di cangkir.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (19/8/2026) itu sekaligus membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi perkebunan kopi berbasis kearifan lokal.

Kepala LP2M Universitas Jember Prof. Dr. Yuli Witono, S.TP., M.P. mengatakan, Banyuwangi dipilih karena memiliki karakter industri kopi yang tidak berhenti pada persoalan varietas dan produksi.

“Ketika kita berbicara mengenai kopi, isu yang diangkat bukan hanya varietas tetapi juga budaya yang ada di dalamnya,” ujar Yuli.

Menurut dia, perpaduan antara komoditas kopi dan budaya masyarakat menjadikan Banyuwangi lokasi yang tepat untuk peserta internasional memahami ekosistem kopi secara lebih menyeluruh.

Akademisi AS Kagum Kopi Menjadi Bagian dari Wisata

Ketertarikan terhadap kopi Banyuwangi juga disampaikan Prof. Tonya Kuhl dari University of California, Davis, Amerika Serikat.

Ia menilai masyarakat lokal berhasil membangun hubungan yang menarik antara perkebunan, budaya, dan pariwisata. Kopi tidak hanya diposisikan sebagai produk pertanian, tetapi berkembang menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus sarana edukasi.

“Saya sangat senang dapat berkunjung ke Banyuwangi dan kagum dengan bagaimana kopi tak hanya menjadi komoditas, tetapi juga menyatu dengan budaya, bahkan kini menjadi daya tarik wisata yang edukatif,” kata Tonya.

Pandangan tersebut memperlihatkan perubahan cara melihat kopi. Nilai sebuah komoditas tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga cerita, tradisi, pengetahuan lokal, dan pengalaman yang menyertainya.

Menelusuri Kopi dari Petik Merah hingga Cangkir

Pengalaman tersebut dirasakan langsung peserta Summer Course ketika mengunjungi Desa Gombengsari, salah satu sentra kopi di Banyuwangi.

Di kawasan tersebut, peserta tidak sekadar mendapatkan paparan teori. Mereka diajak masuk ke dalam proses produksi kopi dan melihat langsung setiap tahapan yang dilakukan masyarakat.

Perjalanan dimulai dari mengenali varietas tanaman kopi di kebun. Peserta kemudian mempelajari teknik pemanenan dengan memilih buah kopi yang telah matang atau petik merah.

Dari kebun, mereka mengikuti proses pengolahan pascapanen sebelum mengenal cara penyajian kopi tradisional yang berkembang di tengah masyarakat.

Rangkaian tersebut membuat peserta memahami bahwa secangkir kopi merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan pengetahuan, keterampilan, alam, dan budaya lokal.

Mahasiswa Jepang Belajar Kopi sekaligus Budaya Banyuwangi

Pengalaman di Gombengsari juga tidak berhenti pada kopi. Peserta internasional diperkenalkan dengan budaya masyarakat setempat.

Moemi Noda, mahasiswa asal Osaka University, Jepang, mengaku mendapatkan pengalaman berbeda selama mengikuti agenda tersebut.

Ia tidak hanya mempelajari kopi, tetapi juga berkesempatan mengenal kesenian lokal, termasuk belajar menari.

“Saya benar-benar menikmati perjalanan ini dan mendapat pengalaman yang sangat menyenangkan, mulai dari belajar menari, serta mendengarkan penjelasan tentang kopi,” ujar Moemi.

Bagi Moemi, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa kopi Banyuwangi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang menghasilkannya.

Banyuwangi Tawarkan Konsep Eduwisata Kopi ke Dunia

Kunjungan akademisi internasional tersebut memperlihatkan potensi Banyuwangi yang semakin beragam. Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu tidak hanya memiliki kekuatan pada sektor pertanian dan pariwisata, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi akademisi dari berbagai negara.

Kopi menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kekayaan lain yang dimiliki masyarakat Banyuwangi: tradisi, pengetahuan lokal, kesenian, serta pola pengelolaan perkebunan yang berkembang dari generasi ke generasi.

Melalui Summer Course of Coffee, pengalaman tersebut dibawa ke ruang akademik internasional. Kebun kopi tidak lagi sekadar tempat menghasilkan komoditas, tetapi berubah menjadi laboratorium hidup untuk mempelajari hubungan antara pertanian, budaya, pariwisata, dan masyarakat.

Perpaduan itulah yang membuat kopi Banyuwangi memiliki cerita lebih panjang daripada sekadar rasa. Dari buah yang dipetik di kebun hingga kopi yang tersaji di cangkir, ada kearifan lokal yang kini ikut dikenalkan kepada dunia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : banyuwangitourism.com
Summer Course kopi Gombengsari Banyuwangi kopi dan budaya eduwisata kopi Kopi Banyuwangi