Dari Warung Pinggir Jalan hingga Media Sosial, Begini Daya Tarik Kuliner Sederhana

Anisatul Septi Ramadhani • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 14:45 WIB
Hidangan sederhana kini punya peluang dikenal lebih luas setelah tampil menarik di media sosial. Kreativitas dalam menyajikan konten ikut membantu memperkenalkan warung dan usaha kuliner kecil kepada calon pelanggan. (Gemini AI)
Hidangan sederhana kini punya peluang dikenal lebih luas setelah tampil menarik di media sosial. Kreativitas dalam menyajikan konten ikut membantu memperkenalkan warung dan usaha kuliner kecil kepada calon pelanggan. (Gemini AI)

RADAR BANYUWANGI - Dunia kuliner di media sosial tidak selalu diisi sajian restoran mewah atau tempat makan yang sudah populer. Makanan rumahan, jajanan kaki lima, hingga hidangan dengan harga ramah di kantong justru kerap mencuri perhatian setelah dikemas dalam foto dan video yang menarik.

Perkembangan platform digital membuat pengalaman menyantap makanan dapat dibagikan dengan mudah. Pengguna media sosial tidak hanya mengunggah apa yang mereka makan, tetapi juga proses memasak, tampilan hidangan, hingga reaksi setelah mencicipinya.

Konten semacam itu kemudian berkembang menjadi rujukan bagi pengguna lain. Sebuah video singkat tentang makanan sederhana bisa memunculkan rasa penasaran dan mendorong orang untuk mencari lokasi penjualnya.

Tampilan menjadi salah satu unsur penting dalam konten kuliner. Pengambilan gambar dari jarak dekat dapat menonjolkan tekstur dan bentuk makanan. Sementara itu, rekaman saat proses memasak maupun ekspresi setelah mencicipi dapat membuat sajian terasa lebih menarik bagi penonton.

“Saya lebih suka melihat konten makanan sederhana karena biasanya mudah ditemukan dan harganya juga masih terjangkau. Kadang setelah melihat videonya, saya jadi penasaran untuk mencoba,” ujar Nanda.

Fenomena tersebut sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha kecil. Warung yang selama ini hanya dikenal warga sekitar bisa memperoleh perhatian lebih luas setelah produknya tampil di media sosial. Pedagang kaki lima pun memiliki kesempatan memperkenalkan menu mereka tanpa harus bergantung sepenuhnya pada promosi konvensional.

Namun, popularitas konten kuliner perlu diimbangi dengan tanggung jawab. Pembuat konten sebaiknya menyampaikan pengalaman secara apa adanya, terutama ketika memberikan penilaian mengenai rasa, harga maupun kualitas makanan. Informasi yang tidak sesuai pengalaman dapat membuat penonton mengambil keputusan berdasarkan gambaran yang keliru.

Pada akhirnya, maraknya konten kuliner menunjukkan bahwa makanan sederhana memiliki peluang yang sama untuk dikenal luas. Bukan semata karena harga atau tempatnya, melainkan karena bagaimana sebuah pengalaman makan dikemas menjadi cerita yang menarik dan mudah dibagikan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kreativitas menjadi salah satu modal penting. Sajian yang sebelumnya hanya dinikmati lingkungan sekitar kini bisa menarik perhatian masyarakat yang lebih luas hanya melalui satu unggahan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kuliner media sosial makanan sederhana jajanan kaki lima usaha kuliner kecil konten kuliner