Es Campur Kaki Lima, Penyegar Tradisional di Siang Terik

Mayang Dwi Febrianti • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 14:41 WIB
Semangkuk es campur kaki lima dengan isian mutiara, cincau, dan roti tawar menjadi pilihan penyegar saat cuaca terik. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)
Semangkuk es campur kaki lima dengan isian mutiara, cincau, dan roti tawar menjadi pilihan penyegar saat cuaca terik. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Terik matahari kerap membuat warga mencari sajian yang bisa mengusir dahaga sekaligus memberi rasa segar. Di tengah banyaknya pilihan minuman modern, es campur kaki lima masih menjadi salah satu menu yang mudah ditemukan dan tetap diminati.

Semangkuk es campur biasanya hadir dengan tampilan sederhana. Es serut menjadi bahan utama, kemudian disiram sirup berwarna merah dan dipadukan dengan kental manis. Sejumlah isian seperti mutiara, cincau, serta potongan roti tawar menambah tekstur sekaligus memperkaya rasa.

Bagi pedagang kaki lima, kesederhanaan justru menjadi daya tarik tersendiri. Bahan-bahan yang digunakan relatif mudah diperoleh dan proses penyajiannya tidak membutuhkan waktu lama. Setelah seluruh isian dimasukkan ke dalam mangkuk atau gelas, es serut ditambahkan dan racikan sirup dituangkan di atasnya.

Salah satu unsur yang membuat es campur kaki lima memiliki rasa khas adalah sirup gula yang diracik sendiri. Racikan tradisional tersebut dipadukan dengan kental manis sehingga menghasilkan rasa manis yang kuat, tetapi tetap terasa akrab di lidah. Es serut yang dibuat secara manual juga memberikan sensasi dingin yang lebih terasa ketika disantap saat siang hari.

Manda, salah satu pembeli, mengaku lebih menyukai es campur yang dijajakan pedagang kaki lima karena memiliki cita rasa tersendiri. “Kalau beli es campur di pinggir jalan itu rasanya beda, sirupnya khas dan es serutnya bikin nagih, apalagi kalau dimakan pas siang bolong gini,” ujarnya.

Bukan hanya soal rasa, suasana tempat berjualan juga menjadi bagian dari pengalaman. Warung tenda atau lapak sederhana di tepi jalan menghadirkan kesan santai bagi pembeli. Masyarakat bisa menikmati semangkuk es campur tanpa harus datang ke tempat makan dengan konsep modern.

Harga yang bersahabat turut membuat kuliner ini tetap memiliki pasar. Pelajar, pekerja, hingga warga yang sekadar melintas dapat menikmati sajian dingin tersebut tanpa perlu merogoh kocek terlalu dalam. Kecepatan pelayanan juga menjadi nilai tambah, terutama bagi pembeli yang ingin segera melepas dahaga di tengah cuaca panas.

Kehadiran berbagai minuman kekinian ternyata belum mampu menggeser sepenuhnya posisi es campur tradisional. Saat tren kuliner terus berubah, sajian sederhana ini justru bertahan karena menawarkan sesuatu yang mudah dikenali: rasa manis, dingin, tekstur beragam, dan harga yang terjangkau.

Editor : Lugas Rumpakaadi
es campur kaki lima kuliner tradisional Banyuwangi es campur pinggir jalan kuliner penyegar saat panas jajanan tradisional