Kenapa Fusion Sushi Lebih Disukai Orang Indonesia? Ada Peran Saus Mentai hingga Topping Renyah

Mayang Dwi Febrianti • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:43 WIB
Fusion sushi semakin dikenal di Indonesia. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)
Fusion sushi semakin dikenal di Indonesia. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI - Bagi sebagian masyarakat Indonesia, sushi tidak lagi identik dengan ikan mentah, nasi bercuka, dan nori.

Di tengah berkembangnya kuliner Jepang, muncul berbagai kreasi fusion sushi yang menawarkan rasa lebih gurih, tekstur renyah, serta isian matang yang dinilai lebih akrab dengan lidah lokal.

Saus mentai yang creamy, spicy mayo, ayam katsu, kani, daging panggang hingga taburan tempura flakes menjadi bagian dari wajah baru sushi di Indonesia.

Kreasi tersebut memperlihatkan bagaimana hidangan tradisional Jepang beradaptasi dengan kebiasaan makan masyarakat di negara lain.

Perubahan itu sekaligus membuat konsumen memiliki dua pilihan dengan karakter berbeda.

Di satu sisi ada sushi klasik yang mempertahankan cita rasa dan teknik pengolahan ala Jepang.

Di sisi lain terdapat fusion sushi yang lebih berani menggabungkan bahan, saus, dan teknik dari berbagai tradisi kuliner.

Bagi penikmat sushi yang belum terbiasa dengan ikan mentah, fusion sushi sering kali terasa lebih mudah diterima.

“Jujur kalau harus makan ikan yang benar-benar mentah masih suka agak geli dan amis di lidah. Makanya saya lebih suka pesan fusion sushi karena ikannya sudah matang, terus ada saus mentai gurih sama topping krenyesnya yang bikin nagih,” ungkap Febri, salah seorang pemburu kuliner Jepang.

Pengalaman tersebut menggambarkan salah satu alasan mengapa fusion sushi memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen Indonesia.

Bukan semata-mata karena bentuknya menyerupai sushi, melainkan karena rasa dan teksturnya telah disesuaikan dengan preferensi makan yang lebih familiar.

Sushi Klasik Pertahankan Cita Rasa Alami

Sushi klasik pada dasarnya menempatkan kualitas bahan sebagai salah satu unsur penting.

Sajian ini umumnya menggunakan ikan mentah berkualitas tinggi, nasi bercuka atau shari, serta nori.

Pengolahannya cenderung minimalis.

Sentuhan shoyu atau wasabi digunakan untuk mendampingi, bukan menutupi, karakter bahan utama.

Karena itu, kesegaran ikan menjadi bagian penting dari pengalaman menyantap sushi klasik.

Karakter tersebut membuat sushi klasik memiliki cita rasa yang lebih bersih dan ringan.

Tekstur ikan juga menjadi elemen yang menonjol karena tidak banyak tertutup oleh saus maupun topping tambahan.

Bagi pencinta kuliner Jepang yang ingin merasakan sajian dengan karakter lebih autentik, pendekatan seperti ini justru menjadi daya tarik utama.

Namun, pengalaman tersebut belum tentu langsung cocok bagi semua konsumen Indonesia.

Kebiasaan mengonsumsi makanan matang dan berbumbu kuat membuat sebagian orang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan ikan mentah.

Faktor tekstur dan aroma juga dapat menjadi pertimbangan tersendiri bagi konsumen yang baru mencoba sushi.

Fusion Sushi Tawarkan Rasa yang Lebih Familiar

Berbeda dengan sushi klasik, fusion sushi memberikan ruang lebih luas untuk bereksperimen.

Unsur tradisional tetap dipertahankan, tetapi bahan dan teknik pengolahannya dapat berubah mengikuti selera konsumen.

Ikan tidak selalu menjadi pilihan utama.

Ayam katsu, kani, daging panggang, hingga berbagai bahan matang lainnya dapat digunakan sebagai isian.

Saus juga memainkan peran penting.

Mentai, spicy mayo, maupun saus dengan cita rasa gurih dan pedas dapat memberikan karakter yang lebih kuat.

Tambahan tempura flakes menghadirkan tekstur renyah yang membuat sensasi makan menjadi lebih beragam.

Perpaduan tersebut relatif dekat dengan karakter makanan yang sudah akrab bagi masyarakat Indonesia.

Rasa gurih, pedas, manis, creamy, dan tekstur renyah merupakan kombinasi yang banyak ditemukan dalam berbagai jenis kuliner lokal maupun modern.

Karena itu, fusion sushi dapat menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin menikmati konsep sushi tanpa harus langsung menyantap ikan mentah.

Adaptasi Kuliner Jepang di Indonesia

Perkembangan fusion sushi menunjukkan bahwa perjalanan sebuah makanan tidak berhenti ketika keluar dari negara asalnya.

Ketika masuk ke lingkungan budaya yang berbeda, makanan dapat mengalami penyesuaian bahan, rasa, ukuran, hingga cara penyajian.

Di Indonesia, adaptasi tersebut membuat sushi memiliki spektrum pilihan yang semakin luas. 

Konsumen dapat memilih sajian yang mendekati tradisi Jepang atau mencoba kreasi yang lebih modern dengan bahan matang dan saus yang lebih dominan.

Hal itu juga menjadikan fusion sushi berpotensi menjadi pintu masuk bagi orang yang sebelumnya belum tertarik mencoba makanan Jepang.

Setelah terbiasa dengan nasi bercuka, nori, dan bentuk penyajian sushi melalui varian matang, konsumen dapat memiliki kesempatan untuk mencoba jenis sushi lain dengan karakter yang lebih autentik.

Dengan demikian, fusion sushi tidak selalu harus dipandang sebagai pengganti sushi klasik.

Keduanya justru dapat berjalan berdampingan dengan segmen penikmat masing-masing.

Sushi klasik menawarkan pengalaman bagi mereka yang mengutamakan kesegaran dan karakter alami bahan.

Sementara fusion sushi memberikan alternatif bagi konsumen yang lebih menyukai rasa kuat, bahan matang, saus creamy, serta tekstur yang beragam.

Bagi masyarakat Indonesia, pilihan akhirnya kembali pada selera.

Ketika kuliner Jepang bertemu dengan kebiasaan makan lokal, sushi tidak lagi hadir dalam satu wajah.

Adaptasi rasa justru membuat hidangan tersebut semakin mudah dinikmati oleh lebih banyak orang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
fusion sushi sushi klasik sushi Indonesia kuliner jepang Kuliner Banyuwangi