Jangan Pulang dari Banyuwangi Sebelum Cicipi 6 Kuliner Khas yang Menggoda Ini

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 08:09 WIB
Warung sego tempong Mbok Wah menyediakan banyak pilihan menu lauk tambahan.
Sego tempong Banyuwangi bisa dinikmati dengan nasi dan aneka lauk yang ditemani sambal segar. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Ada cara sederhana untuk mengenal Banyuwangi lebih dalam selain mendatangi pantai, gunung, atau destinasi wisata. Menyusuri rasa di atas sepiring nasi bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal tradisi masyarakat Osing sekaligus menikmati denyut ekonomi kreatif daerah.

Di tengah menjamurnya kafe, restoran modern, dan makanan kekinian, kuliner tradisional Banyuwangi justru memiliki daya tarik yang sulit digantikan. Sego tempong dengan sambal yang menyengat, ayam lodho yang kaya rempah, hingga sajian rumahan yang diwariskan lintas generasi menjadi bagian dari pengalaman wisata di Banyuwangi. 

Bagi wisatawan yang sedang menyusun agenda perjalanan, kuliner-kuliner tersebut layak dimasukkan dalam daftar. Bukan hanya karena rasanya, tetapi karena setiap hidangan membawa cerita tentang identitas, kebiasaan, dan budaya masyarakat Banyuwangi.

Berikut rekomendasi kuliner yang bisa diburu ketika berwisata ke Banyuwangi.

1. Sego Tempong, Sensasi Pedas yang Jadi Identitas Banyuwangi

Kalau harus memilih satu makanan yang paling menggambarkan karakter kuliner Banyuwangi, Sego Tempong hampir selalu masuk daftar teratas.

Sajian ini dikenal dengan nasi dan aneka lauk yang ditemani sambal segar. Nama "tempong" sendiri lekat dengan sensasi sambalnya yang seolah memberikan tamparan pada lidah.

Bagi wisatawan, justru sensasi pedas itulah yang menjadi pengalaman tersendiri.

Sego tempong juga tidak berhenti sebagai makanan sehari-hari. Hidangan ini telah berkembang menjadi bagian dari daya tarik wisata kuliner Banyuwangi dan menjadi salah satu cara memperkenalkan warisan kuliner Osing kepada pengunjung. 

Tips: jangan buru-buru mengambil sambal dalam jumlah banyak. Cicipi sedikit terlebih dahulu, terutama bagi wisatawan yang belum terbiasa dengan karakter sambal Banyuwangi.

Warung Pondok Nurani buka pada pukul 08.30 sampai sore. Hari libur dan hari besar tutup. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Warung Pondok Nurani buka pada pukul 08.30 sampai sore. Hari libur dan hari besar tutup. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

2. Nasi Tempong Indosiar, Warung Legendaris di Gang Kecil

Bagi pemburu kuliner yang senang menemukan tempat makan dengan cerita, Pondok Nurani layak dimasukkan ke dalam daftar.

Warung ini dikenal dengan sajian Nasi Tempong "Indosiar" dan telah bertahan sejak 1992. Lokasinya bukan restoran besar atau tempat makan dengan desain modern. Justru berada di kawasan yang relatif sederhana.

Namun, perjalanan panjang selama lebih dari tiga dekade menjadi daya tarik tersendiri.

Nasi Tempong Indosiar juga memperlihatkan bagaimana kuliner rumahan dapat bertahan di tengah perubahan tren makanan. Nama yang unik, pilihan lauk, serta cita rasa yang dipertahankan menjadi bagian dari identitas warung tersebut.

Bagi wisatawan, tempat seperti ini menawarkan pengalaman berbeda: bukan sekadar makan, tetapi ikut menyentuh cerita panjang kuliner lokal.

Menu lontong ayam lodho bisa diganti nasi yang disajikan terpisah dengan kuah ayam lodhonya.
Menu lontong ayam lodho bisa diganti nasi yang disajikan terpisah dengan kuah ayam lodhonya.

3. Ayam Lodho, Pilihan untuk Pemburu Kuliner Berempah

Selain nasi tempong, ayam lodho menjadi salah satu makanan khas yang patut dicoba ketika berada di Banyuwangi.

Karakter utamanya terletak pada olahan ayam dan bumbu yang kaya rempah. Sajian ini menawarkan pengalaman rasa yang berbeda dari nasi tempong yang mengandalkan kesegaran sambal.

Menariknya, kuliner Banyuwangi kini tidak hanya bisa ditemukan di warung-warung lokal. Nasi tempong dan ayam lodho bahkan telah masuk dalam layanan makanan di perjalanan kereta api melalui kolaborasi KAI Services dengan UMKM Banyuwangi. 

Ini menunjukkan bahwa makanan khas daerah tidak lagi hanya menjadi konsumsi masyarakat lokal. Kuliner tersebut mulai mendapat ruang lebih luas untuk dikenalkan kepada wisatawan.

Banyuwangi menawarkan beragam kuliner yang layak dicicipi. (Anita untuk Radar Banyuwangi)
Banyuwangi menawarkan beragam kuliner yang layak dicicipi. (Anita untuk Radar Banyuwangi)

4. Kuliner Osing, Makan Sambil Mengenal Budaya

Wisata kuliner di Banyuwangi juga tidak bisa dilepaskan dari keberadaan masyarakat Osing.

Beragam makanan tradisional menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dipertahankan. Karena itu, menikmati kuliner khas Banyuwangi sebenarnya bisa menjadi satu paket dengan wisata budaya.

Wisatawan tidak hanya bertanya, "Enak atau tidak?"

Lebih jauh, mereka bisa mengetahui bagaimana makanan tersebut dibuat, bahan apa yang digunakan, bagaimana tradisi makan berkembang, dan mengapa hidangan tertentu tetap dipertahankan.

Inilah yang membuat kuliner tradisional memiliki nilai lebih dibanding sekadar tren makanan yang datang dan pergi.

Tren mie pedas semakin digemari remaja berkat media sosial dan sensasi level kepedasan. (Anita untuk Radar Banyuwangi)
Tren mie pedas semakin digemari remaja berkat media sosial dan sensasi level kepedasan. (Anita untuk Radar Banyuwangi)

5. Mie Pedas, Pilihan untuk Pencinta Kuliner Kekinian

Banyuwangi bukan berarti hanya menawarkan makanan tradisional.

Di tengah berkembangnya wisata kuliner, mie dengan cita rasa pedas juga tetap memiliki pasar. Kuliner ini menjadi salah satu pilihan bagi generasi muda dan penikmat makanan kekinian.

Kehadiran mie pedas memperlihatkan bahwa kuliner Banyuwangi berkembang mengikuti selera konsumen. Makanan modern bisa hidup berdampingan dengan kuliner tradisional.

Bagi wisatawan yang ingin berburu kuliner dengan suasana lebih kekinian, mie pedas bisa menjadi pilihan setelah menikmati makanan khas daerah.

Sego Cawuk, kuliner legendaris khas Banyuwangi. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)
Sego Cawuk, kuliner legendaris khas Banyuwangi. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)

6. Warung Rumahan, Pengalaman Kuliner yang Tak Kalah Menarik

Jangan hanya mencari restoran yang viral ketika berada di Banyuwangi.

Warung-warung rumahan justru sering menawarkan pengalaman kuliner yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat setempat.

Salah satunya Pondok Nurani. Selain nasi tempong, warung tersebut dikenal dengan menu rumahan seperti sayur kelor dan berbagai sambal yang menjadi daya tarik pelanggan.

Konsep sederhana, pilihan lauk yang beragam, serta suasana makan yang tidak dibuat-buat menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan.

Kuliner Bisa Jadi Bagian dari Itinerary Wisata

Banyuwangi memiliki modal kuat untuk mengembangkan wisata kuliner karena makanan tradisionalnya tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat cerita mengenai masyarakat, tradisi, sejarah, hingga ekonomi kreatif.

Sego tempong, misalnya, bukan sekadar makanan pedas. Ia telah menjadi bagian dari identitas kuliner yang ikut memperkenalkan Banyuwangi kepada wisatawan.

Begitu pula warung-warung lama yang tetap bertahan. Keberadaan mereka menunjukkan bahwa makanan tradisional masih memiliki tempat meskipun restoran modern dan makanan kekinian terus bermunculan.

Karena itu, wisatawan yang datang ke Banyuwangi sebaiknya tidak hanya menyusun daftar destinasi berdasarkan pemandangan.

Sisakan satu hari untuk berburu rasa.

Mulai dengan sego tempong untuk merasakan sambal khas Banyuwangi, mencicipi ayam lodho untuk menikmati kekayaan rempah, mampir ke warung rumahan untuk merasakan masakan sehari-hari warga, lalu menutup perjalanan dengan kuliner kekinian.

Sebab, setelah mata puas menikmati alam Banyuwangi, lidah juga punya cerita sendiri untuk dibawa pulang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Kuliner Banyuwangi wisata kuliner kuliner osing Ayam lodho Sego Tempong