RADAR BANYUWANGI – Tak ada papan nama besar. Tak berada di tepi jalan utama. Lokasinya justru masuk sebuah gang kecil sekitar 500 meter dari simpang empat traffic light Mojopanggung, Banyuwangi.
Namun, ketika jarum jam mendekati pukul 13.00, suasana di Warung Pondok Nurani berubah ramai. Meja-meja makan mulai dipenuhi pelanggan. Ada aparatur sipil negara (ASN), karyawan swasta, hingga masyarakat umum yang datang karena sudah mengenal rasa masakannya.
Di tempat sederhana di Gang Pondok Nurani, Jalan Agus Salim, Kelurahan Mojopanggung, Kecamatan Giri, Banyuwangi, itulah kuliner rumahan bertahan melewati perubahan zaman.
Warung yang dirintis sejak 1992 tersebut kini memasuki lebih dari tiga dekade perjalanan. Salah satu menu yang membuat namanya terus dicari pelanggan adalah Nasi Tempong "Indosiar".
Nama itu terdengar unik. Bahkan, bagi pelanggan yang baru pertama datang, sebutan tersebut mungkin mengundang rasa penasaran.
Namun, ada cerita di baliknya.
Pengelola Pondok Nurani menyebut sajian tersebut terdiri atas aneka ikan laut dengan warna-warni lauk yang mengingatkan pada logo Indosiar tempo dulu.
“Semua menu laris, tetapi yang paling banyak dicari pelanggan ya nasi tempong Indosiar,” ujar Sugiarti, pemilik Pondok Nurani.
Dari Usaha Keluarga hingga Jadi Kuliner Legendaris
Pondok Nurani bukan bisnis kuliner yang baru muncul mengikuti tren. Usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang dirintis orang tua Sugiarti pada 1992.
Saat usaha pertama kali berdiri, Sugiarti masih duduk di bangku SMA.
Kini, perempuan berusia 50 tahun itu meneruskan usaha tersebut bersama suaminya, Muadi. Perjalanan panjang itu juga membuat Pondok Nurani beberapa kali beradaptasi dengan keadaan.
Pada awal berdiri, rumah makan berada di depan kantor BKSDA Banyuwangi. Pada 2003, lokasi usaha kemudian berpindah ke tempat yang sekarang, tepat di belakang Kantor Dinas Perikanan dan Pangan Banyuwangi.
Meski berpindah lokasi dan zaman terus berubah, satu hal dipertahankan: konsep masakan rumahan.
Pelanggan datang, mengambil nasi, kemudian memilih sendiri lauk yang diinginkan. Tidak ada keharusan mengambil paket tertentu.
Konsep prasmanan itu membuat pelanggan leluasa menyesuaikan isi piring sekaligus uang yang dibelanjakan.
Sayur Kelor hingga Ikan Laut Jadi Andalan
Pilihan menu di Pondok Nurani juga semakin beragam.
Jika ketika pertama berdiri hanya menyediakan sekitar tujuh jenis masakan, kini pelanggan bisa menemukan lebih dari belasan menu rumahan yang berganti setiap hari.
Ada ikan laut segar, kare ayam, empal, telur ceplok, tahu-tempe, dadar jagung, sambal goreng, urap-urap, sayur bening, sayur lodeh, hingga sayur kelor.
Di antara berbagai pilihan tersebut, Nasi Tempong Indosiar menjadi salah satu sajian yang paling banyak dicari.
Ciri khasnya terletak pada kombinasi lauk yang berwarna-warni. Aneka ikan laut menjadi bagian utama sajian, berpadu dengan nasi dan pelengkap yang membuat tampilannya mudah dikenali.
Bagi pelanggan lama, daya tariknya bukan sekadar nama unik. Rasa masakan rumahan yang konsisten menjadi alasan mereka kembali.
Harga Mulai Rp5 Ribu
Satu lagi alasan Pondok Nurani mampu mempertahankan pelanggan adalah harga.
Pengunjung tidak dipaksa mengambil lauk dalam jumlah tertentu. Bahkan, pelanggan bisa membeli ikan saja tanpa harus menambah menu lainnya.
Harga makanan di warung tersebut relatif terjangkau, mulai sekitar Rp5.000, bergantung pada lauk yang dipilih.
Model seperti itu membuat Pondok Nurani memiliki pasar yang beragam. Mulai pekerja kantoran yang membutuhkan makan siang praktis hingga masyarakat umum yang mencari menu rumahan dengan harga bersahabat.
Tak mengherankan jika saat jam makan siang tiba, warung yang berada di dalam gang tersebut justru ramai.
Dapur Sudah Mengepul Sejak Pukul 07.00
Di balik piring-piring makanan yang tersaji, aktivitas di Pondok Nurani dimulai lebih pagi.
Proses memasak dimulai sekitar pukul 07.00. Setelah berbagai menu siap, pelanggan mulai dilayani sejak pukul 08.30 hingga sekitar 16.30.
Sugiarti juga menetapkan Minggu dan seluruh hari libur nasional sebagai waktu istirahat bagi para pekerja.
Keputusan itu menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas makanan sekaligus memberikan waktu istirahat bagi pekerja.
Pola tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, justru konsistensi semacam itu yang membuat usaha keluarga ini mampu bertahan lebih dari 30 tahun.
Tak Ikut Arus Restoran Kekinian
Di tengah menjamurnya restoran modern, kafe, dan berbagai kuliner kekinian, Pondok Nurani memilih jalan berbeda.
Tidak mengejar tampilan mewah. Tidak mengandalkan konsep yang sedang viral.
Warung tersebut tetap menawarkan makanan rumahan, sistem prasmanan, pilihan lauk yang beragam, dan harga yang relatif terjangkau.
Dari sebuah usaha keluarga yang dirintis pada 1992, Pondok Nurani kini menjadi salah satu cerita tentang bagaimana kuliner tradisional Banyuwangi dapat bertahan di tengah perubahan selera konsumen.
Rahasia bertahannya pun bukan sesuatu yang rumit: rasa yang konsisten, pelayanan yang hangat, pilihan menu yang terus berkembang, dan harga yang tetap bersahabat.
Sementara di balik semua itu, ada satu sajian yang terus menjadi magnet: Nasi Tempong Indosiar.
Sajian dengan nama tak biasa itu menjadi penanda perjalanan sebuah warung sederhana yang memilih tetap menjadi dirinya sendiri—dan justru karena itulah pelanggan terus datang. (*)
Editor : Ali Sodiqin