Sehari Ludes 1.000 Tusuk, Sate Bung Darmo Banyuwangi Punya Rahasia: Daging Tanpa Lemak

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 06:27 WIB
BIKIN NGILER: Untuk menjaga tingkat kematangan sate, Bung Darmo punya teknik tersendiri cara membakarnya. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
BIKIN NGILER: Untuk menjaga tingkat kematangan sate, Bung Darmo punya teknik tersendiri cara membakarnya. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Asap panggangan mulai mengepul ketika sore tiba di Jalan S Parman, Banyuwangi. Dari warung sederhana bernama Putra Remaja, aroma sate kambing dan sate ayam perlahan menggoda pengguna jalan. Tak butuh waktu lama, pembeli mulai berdatangan.

Dalam sehari, sekitar 1.000 tusuk sate bisa ludes. Pelanggannya pun bukan kalangan biasa. Pejabat, pengusaha tambak, warga lokal, hingga vlogger kuliner asal Korea Selatan pernah mencicipi sate racikan Sudarmo alias Bung Darmo.

Warung yang sempat terpuruk dihantam pandemi Covid-19 itu kini kembali menggeliat. Selama lebih dari dua dekade, Bung Darmo mempertahankan satu hal yang menurutnya paling penting: kualitas bahan dan kesegaran sate.

Warung tersebut berada di Jalan S Parman, tepatnya di sebelah utara Indomaret Pakis. Dari pusat Kota Banyuwangi jaraknya sekitar satu kilometer ke arah selatan.

Lokasinya juga relatif dekat dengan sejumlah hotel seperti Hotel Santika, Kokoon, dan El-Hotel. Kawasan wisata Pantai Cemara juga tidak terlalu jauh. Posisi tersebut membuat warung Putra Remaja mudah dijangkau pencinta kuliner.

22 Tahun Berjualan, Pelanggan Tetap Bertahan

Bung Darmo, 54, mulai berjualan sate sejak 2004. Dalam perjalanannya, warung tersebut beberapa kali berpindah lokasi.

“Saya buka warung sate (kambing dan ayam) sejak tahun 2004. Awalnya buka di depan Hotel Santika, lalu pindah depan Masjid Dahlan, dan sekarang di Pakis sebelah utara Indomaret,” ujar Darmo.

Perpindahan lokasi tidak membuat pelanggan ikut menghilang. Sebaliknya, pelanggan lama tetap datang dan pelanggan baru terus berdatangan.

Daging empuk tanpa lemak, Sate Bung Darmo Banyuwangi jadi buruan pejabat dan vlogger asal Korea. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Daging empuk tanpa lemak, Sate Bung Darmo Banyuwangi jadi buruan pejabat dan vlogger asal Korea. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Jejak pelanggan warung Putra Remaja bahkan datang dari berbagai kalangan. Mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas bersama istrinya, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, pernah menikmati sate Bung Darmo.

Ada pula Yanuarto Bramuda, Asisten Pemkab Banyuwangi, sejumlah pengusaha tambak, hingga vlogger kuliner dari Korea Selatan.

Warung tersebut buka setiap hari mulai pukul 16.30 hingga 22.00. Khusus malam Jumat, Bung Darmo memilih tutup karena mengikuti ibadah rutin bersama warga di lingkungan tempat tinggalnya.

Menu yang ditawarkan tidak banyak, tetapi cukup menggoda. Ada sate kambing, sate ayam, dan gulai.

Harganya pun masih relatif terjangkau. Satu tusuk sate kambing dibanderol Rp 3.500, sedangkan sate ayam Rp 1.500.

Daging Dipilih, Lemak Disingkirkan

Bagi Darmo, mempertahankan pelanggan selama 22 tahun bukan perkara promosi besar-besaran. Ia justru memilih menjaga kualitas bahan yang digunakan.

“Kami sudah punya pelanggan tetap. Kualitas tetap nomor satu. Untuk kambing kami siapkan daging pilihan. Demikian juga sate ayam, kita pilih dagingnya. Tidak pakai gajih. Untuk sate ayam, kita siapkan sate kulit dan jeroan,” kata Darmo yang tinggal di Rogojampi.

Darmo tidak ingin terlalu banyak mengklaim sate buatannya sebagai yang terbaik. Baginya, penilaian terhadap rasa dan kualitas sepenuhnya berada di tangan pelanggan.

Namun, bahan baku yang digunakan tidak dibeli sembarangan. Untuk bumbu kacang, dia memilih kacang lokal. Begitu pula cabai, kecap, dan bawang merah yang digunakan.

Semua bahan dipilih dengan standar kualitas yang sama sejak awal berjualan.

“Kualitas tersebut saya jaga sampai sekarang. Selama 22 tahun jualan sate, pelanggan saya tetap terjaga,” katanya.

Sate Fresh Jadi Alasan Pelanggan Kembali

Kesegaran menjadi salah satu alasan pelanggan tetap kembali. Sate disiapkan fresh sehingga tekstur daging tetap empuk ketika disantap.

Ukuran tusukannya memang tidak terlalu besar. Namun, setiap tusuk diisi daging tanpa lemak berlebih. Ketika dicampur dengan bumbu kacang yang manis dan gurih, rasa daging kambing semakin kuat.

“Satenya selalu fresh. Itu yang saya suka. Dagingnya juga empuk. Anak saya juga suka,” ujar Santi, salah seorang pelanggan yang datang sore itu.

Bagi sebagian pelanggan, datang lebih awal menjadi pilihan agar tidak kehabisan. Apalagi ketika jam makan malam tiba, warung mulai dipadati pembeli.

Tak hanya sate yang menjadi andalan. Semangkuk gulai juga bisa menjadi teman makan yang pas.

Kuah gulai dengan rempah yang kuat berpadu dengan potongan daging kambing. Isinya pun didominasi daging sehingga pelanggan yang tidak menyukai lemak atau jeroan tetap bisa menikmatinya.

“Isinya full daging. Jadi yang tidak suka lemak atau jeroan bisa mencoba,” imbuh Riski, pelanggan setia lainnya.

Dua puluh dua tahun perjalanan Putra Remaja menunjukkan satu hal: warung sederhana tidak selalu membutuhkan promosi besar untuk bertahan. Ketika bahan dipilih dengan teliti, sate disajikan fresh, dan rasa dijaga konsisten, pelanggan akan datang kembali—bahkan membawa pelanggan baru dari berbagai penjuru. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
Sate Bung Darmo sate Banyuwangi Putra Remaja Sate Kambing Kuliner Banyuwangi