RADAR BANYUWANGI – Asap dari panggangan sate kembali mengepul setiap sore di Jalan S Parman, Banyuwangi. Dari warung sederhana milik Sudarmo alias Bung Darmo, sekitar 1.000 tusuk sate bisa ludes dalam sehari.
Yang datang bukan hanya warga sekitar. Pejabat, pengusaha tambak, hingga pencinta kuliner dari luar negeri pernah mampir menikmati sate kambing dan sate ayam di warung Putra Remaja tersebut.
Salah satu yang membuat warung sate ini menarik adalah perjalanan panjangnya. Bung Darmo mulai berjualan sate sejak 2004. Setelah sempat terpuruk dihantam pandemi Covid-19, usaha kuliner tersebut perlahan kembali bangkit dan kini tetap menjadi salah satu tujuan pencinta sate di Banyuwangi.
Lokasinya berada di Jalan S Parman, tepatnya di sebelah utara Indomaret Pakis. Dari pusat Kota Banyuwangi, warung tersebut berjarak sekitar satu kilometer ke arah selatan.
Posisinya cukup strategis karena berada tidak jauh dari sejumlah hotel seperti Hotel Santika, Kokoon, dan El-Hotel. Akses menuju kawasan wisata Pantai Cemara juga relatif dekat.
Kombinasi lokasi strategis dan cita rasa yang sudah dikenal pelanggan membuat warung sate Bung Darmo tidak pernah kehilangan penggemar.
Pernah Disambangi Pejabat hingga Vlogger Korea
Jejak pelanggan warung sate Putra Remaja juga cukup beragam. Para pengusaha tambak dan pejabat Pemkab Banyuwangi menjadi bagian dari pelanggan yang kerap datang.
Mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas bersama istrinya, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, juga pernah menikmati sate Bung Darmo.
Selain itu, ada Yanuarto Bramuda yang saat ini menjabat sebagai Asisten Pemkab Banyuwangi serta sejumlah pengusaha tambak.
Tak hanya pelanggan lokal. Warung tersebut juga pernah menjadi tujuan vlogger kuliner asal Korea Selatan yang penasaran dengan kuliner khas Banyuwangi.
Bagi Bung Darmo, banyaknya pelanggan dari berbagai kalangan menjadi bukti bahwa warung yang dibangun dengan sederhana tersebut memiliki daya tarik tersendiri.
“Saya buka warung sate (kambing dan ayam) sejak tahun 2004. Awalnya buka di depan Hotel Santika, lalu pindah depan Masjid Dahlan, dan sekarang di Pakis sebelah utara Indomaret,” ujar Sudarmo, 54, pemilik warung sate Putra Remaja.
Perjalanan berpindah lokasi tersebut tidak membuat pelanggan lama kehilangan jejak. Bahkan, warung sate Bung Darmo terus berkembang hingga mampu menjual sekitar 1.000 tusuk sate dalam sehari.
Buka Sore, Sate Harus Fresh
Warung Putra Remaja mulai beroperasi pukul 16.30 dan tutup sekitar pukul 22.00. Khusus malam Jumat, Bung Darmo memilih tidak berjualan karena menjalankan ibadah rutin bersama warga sekitar.
Menu yang disajikan cukup sederhana. Ada sate kambing, sate ayam, dan gulai. Namun, harga yang ditawarkan relatif terjangkau.
Satu tusuk sate kambing dibanderol Rp 3.500, sedangkan sate ayam Rp 1.500 per tusuk.
Bung Darmo mengatakan salah satu hal yang dipertahankan adalah kesegaran bahan. Sate dibuat fresh sehingga tekstur daging tetap empuk ketika disantap.
Ukuran potongan daging memang tidak terlalu besar. Namun, justru tekstur yang empuk dan cita rasa gurih menjadi alasan pelanggan kembali datang.
Tak sedikit pelanggan yang sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan. Terlebih, pada jam makan malam, warung tersebut mulai dipadati pencinta sate.
Di tengah banyaknya pilihan kuliner di Banyuwangi, warung Putra Remaja menunjukkan bahwa cita rasa yang konsisten, harga terjangkau, dan kesegaran bahan masih menjadi resep ampuh untuk mempertahankan pelanggan.
Dari warung yang pernah terpuruk akibat pandemi, Bung Darmo kini kembali mengepulkan asap panggangan setiap sore. Ribuan tusuk sate pun menjadi saksi bahwa kuliner legendaris ini belum kehilangan tempat di hati penikmatnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin