Es Pisang Ijo Tanpa Pisang Viral, Inovasi UMKM Ubah Pakem Kuliner Tradisional demi Selera Gen Z

Shinta Ayu Rahma Wardani • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 14:59 WIB
Inovasi es pisang ijo tanpa pisang menjadi tren baru di kalangan Gen Z. (Es Pisang Ijo Dewa Ruci)
Inovasi es pisang ijo tanpa pisang menjadi tren baru di kalangan Gen Z. (Es Pisang Ijo Dewa Ruci)

RADAR BANYUWANGI – Siapa sangka es pisang ijo kini bisa dinikmati tanpa buah pisang. Inovasi yang terdengar bertolak belakang dengan nama hidangan tersebut justru menjadi daya tarik baru di kalangan generasi muda. Alih-alih kehilangan identitasnya, es pisang ijo tanpa pisang kini mulai mencuri perhatian berkat cita rasa yang tetap khas, penyajian yang lebih praktis, dan kemasan modern yang mudah dibawa.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai berani melakukan adaptasi terhadap resep tradisional untuk mengikuti perubahan selera konsumen. Fokusnya bukan lagi mempertahankan pakem semata, melainkan menghadirkan pengalaman menikmati kuliner yang lebih nyaman tanpa menghilangkan karakter utama hidangan.

Selama ini es pisang ijo dikenal sebagai kuliner khas Sulawesi Selatan yang terdiri atas pisang berbalut adonan hijau, dipadukan dengan bubur sumsum, sirup manis, dan kuah santan.

Namun, sejumlah pelaku UMKM kini menghadirkan varian baru dengan menghilangkan buah pisang. Yang dipertahankan justru bagian yang selama ini menjadi favorit sebagian konsumen, yakni bubur sumsum yang gurih, tekstur kenyal adonan hijau, serta manisnya sirup.

Inovasi tersebut lahir dari kebiasaan sebagian pembeli yang ternyata menyukai seluruh komponen es pisang ijo, kecuali buah pisangnya. Dengan konsep baru ini, konsumen tidak lagi harus memisahkan buah pisang saat menikmati hidangan.

Salah seorang pembeli dari kalangan pelajar, Rahma, 16, mengaku varian tersebut menjadi jawaban atas kebiasaan yang selama ini ia lakukan.

"Dari dulu saya suka banget sama sumsum dan adonan pisang ijo, tapi masalahnya saya sama sekali enggak suka pisang. Setiap beli pasti harus repot misahin pisangnya dulu, atau malah dikasih ke teman. Adanya varian tanpa pisang ini bikin lega banget, bisa makan nyaman tanpa sisa," ujarnya.

Pengalaman serupa juga banyak dibagikan warganet di media sosial. Tidak sedikit yang mengaku selama ini menyukai cita rasa es pisang ijo, tetapi kurang menyukai tekstur maupun rasa buah pisang.

Inovasi tidak berhenti pada penghilangan buah pisang. Pelaku UMKM juga mulai memperkaya cita rasa melalui pilihan kuah dan pelengkap.

Selain kuah santan klasik, kini tersedia varian menggunakan susu evaporasi yang menghasilkan rasa lebih creamy dengan sensasi gurih yang lembut. Perubahan tersebut membuat es pisang ijo tampil lebih modern tanpa kehilangan karakter sebagai hidangan penutup tradisional.

Pilihan topping pun semakin beragam. Konsumen dapat menambahkan mutiara, nangka, hingga kacang merah sesuai selera sehingga setiap porsi terasa lebih personal.

Transformasi juga terlihat dari cara penyajian.

Jika dahulu es pisang ijo identik disajikan dalam mangkuk besar atau plastik transparan yang mudah tumpah, kini banyak UMKM memilih menggunakan mangkuk bowl mini berbahan ramah lingkungan.

Kemasan tersebut dinilai lebih higienis, praktis dibawa, sekaligus memiliki tampilan yang lebih estetik. Format porsi personal juga memudahkan konsumen menikmati dessert ini saat berada di sekolah, kampus, kantor, maupun ketika bepergian.

Di balik inovasi tersebut, penggunaan nama "Es Pisang Ijo Tanpa Pisang" justru menjadi strategi pemasaran yang efektif.

Nama yang terdengar kontradiktif memancing rasa penasaran masyarakat sehingga mendorong mereka mencari tahu sekaligus mencoba produk tersebut. Efek viral di media sosial seperti TikTok dan Instagram turut memperluas jangkauan pasar yang sebelumnya belum tersentuh oleh penjual es pisang ijo konvensional.

Konten-konten yang menampilkan reaksi pembeli maupun proses penyajian varian baru ini juga lebih mudah menarik perhatian karena menghadirkan sesuatu yang tidak biasa.

Fenomena es pisang ijo tanpa pisang menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menghilangkan identitas kuliner tradisional. Sebaliknya, perubahan dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan cita rasa yang menjadi ciri khas, sembari menyesuaikan preferensi konsumen masa kini.

Perubahan pola konsumsi, terutama di kalangan Generasi Z, membuat kenyamanan, kepraktisan, dan pengalaman menikmati makanan menjadi faktor yang semakin dipertimbangkan. Kondisi tersebut mendorong pelaku UMKM lebih berani melakukan inovasi agar tetap relevan di tengah persaingan bisnis kuliner yang terus berkembang.

Es pisang ijo tanpa pisang menjadi salah satu contoh bahwa resep tradisional pun dapat bertransformasi mengikuti kebutuhan pasar tanpa kehilangan daya tariknya sebagai kuliner khas Nusantara.

Editor : Lugas Rumpakaadi
es pisang ijo tanpa pisang