RADAR BANYUWANGI – Aroma gurih lodeh koro pedas kembali mengepul di jalur nasional Banyuwangi–Bali. Setelah sempat tutup akibat pandemi Covid-19, Warung Mak Tinah kembali membuka dapurnya dengan mempertahankan resep warisan keluarga yang telah melegenda sejak 1990. Kebangkitan warung ini bukan hanya mengobati kerinduan pelanggan lama, tetapi juga menghidupkan kembali salah satu ikon kuliner Banyuwangi yang pernah menjadi persinggahan wajib para pelintas hingga wisatawan mancanegara.
Warung yang berlokasi di depan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, sekitar dua kilometer di selatan pintu masuk Taman Nasional Baluran itu kini dikelola pasangan suami istri Anton Heri Laksana dan Evayanti. Mereka merupakan generasi ketiga penerus resep asli Mak Tinah, sosok perempuan yang pertama kali memperkenalkan lodeh koro pedas di kawasan Banyuwangi utara.
Meski berganti nama, cita rasa yang disajikan tetap dipertahankan. Semangkuk lodeh koro pedas dengan kuah kaya rempah masih menjadi menu utama yang dicari pelanggan. Sensasi pedas yang kuat berpadu dengan gurihnya kuah membuat banyak orang rela datang dari berbagai kota, bahkan luar negeri.
"Lodeh koro pedas hanya bonus. Kami juga menyiapkan beragam menu lainnya. Bahan koro pedas ada dua, yaitu yang masih muda dan yang sudah polongan," ujar Anton.
Tak hanya warga Banyuwangi, pelanggan Warung Mak Tinah datang dari Jakarta, Surabaya, Bogor, hingga Tiongkok. Polisi, jaksa, pejabat, wisatawan, sopir angkutan antarkota, hingga pelintas jalur nasional Jawa–Bali menjadi pelanggan tetap yang selalu menyempatkan mampir.
Kesetiaan pelanggan bukan tanpa alasan. Selain lodeh koro pedas, warung ini menawarkan berbagai menu rumahan seperti ayam goreng, ayam bali, ayam kare, ayam bakar, udang goreng, ikan laut goreng, bebek goreng, paru goreng, ampela goreng, kikil pedas, hingga iga pedas dengan racikan bumbu turun-temurun.
Menurut Kusuma, pelanggan asal Klatak, Banyuwangi, rasa udang goreng di Warung Mak Tinah masih identik dengan Warung Lya yang legendaris.
"Sajian udang goreng di Warung Mak Tinah tidak ada bedanya dengan sajian udang goreng di Warung Lya. Bukan hanya bentuk gorengannya yang melingkar, tetapi bumbunya juga tetap sama sejak pertama kali saya menikmatinya," katanya.
Warisan Resep yang Bertahan Tiga Generasi
Evayanti menuturkan, Warung Mak Tinah merupakan kelanjutan dari Warung Lya yang berdiri pada 1990. Resep lodeh koro pedas berasal dari Sutinah atau Mak Tinah, perempuan berdarah Ponorogo–Tulungagung yang menjadi pelopor sajian tersebut di Banyuwangi.
"Sekarang hampir semua warung makan di Banyuwangi utara menyediakan menu lodeh koro pedas. Namun cita rasa kami tetap berbeda karena kami merupakan perintis menu ini," ungkap Evayanti.
Setiap hari, dapur Warung Mak Tinah memasak sedikitnya dua panci besar lodeh koro pedas. Ketika menu utama itu habis, warung memilih menutup layanan meski nasi dan lauk lainnya masih tersedia.
"Kalau lodeh koro pedas sudah habis, apa bedanya menu kami dengan warung lain?" ujarnya.
Pernah Tutup karena Pandemi
Perjalanan usaha keluarga itu tidak selalu mulus. Setelah berkembang menjadi restoran mini di jalur Banyuwangi–Bali dengan area parkir luas dan konsep prasmanan, pandemi Covid-19 memukul keras usaha tersebut.
Pada 2020, Warung Lya terpaksa tutup karena jumlah pelanggan merosot tajam sementara biaya operasional terus membengkak. Sebanyak 17 karyawan harus dirumahkan dan dapur yang puluhan tahun tak pernah sepi akhirnya berhenti beroperasi.
Harapan baru muncul pada Oktober 2025. Keluarga memutuskan membuka kembali usaha di lokasi awal, tepat di depan RTH Bajulmati, dengan nama baru, Warung Mak Tinah.
Pergantian nama dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Mak Tinah sekaligus menjaga identitas Warung Lya yang telah dikenal sebagai restoran besar. Meski berganti nama, seluruh resep asli tetap dipertahankan.
Rela Terbang Demi Seporsi Lodeh Koro
Kesetiaan pelanggan menjadi bukti bahwa cita rasa tersebut belum tergantikan. Seorang pelanggan asal Surabaya bahkan rela terbang ke Banyuwangi hanya untuk mengambil pesanan 100 porsi lodeh koro pedas yang disajikan dalam acara keluarganya. Setelah makanan diambil, seluruh pesanan langsung dibawa kembali ke Surabaya pada hari yang sama.
Cerita serupa datang dari pelanggan asal Bogor. Setelah bertahun-tahun kehilangan jejak warung sejak pandemi, mereka tanpa sengaja melihat papan bertuliskan "Lodeh Koro Pedas" saat melintas di Bajulmati. Rasa penasaran membawa mereka masuk, dan kerinduan terhadap cita rasa lama akhirnya terobati.
Bahkan pada hari kedua pembukaan kembali, seorang anggota Polsek Wongsorejo datang mencicipi menu andalan. Setelah memastikan rasanya tetap sama, ia merekomendasikan warung tersebut kepada rekan-rekannya. Sejak itu, banyak anggota kepolisian rutin mampir menikmati sajian Warung Mak Tinah.
Kini Warung Mak Tinah bukan sekadar tempat makan. Warung ini menjadi simbol ketangguhan usaha keluarga yang berhasil bangkit setelah dihantam pandemi sekaligus menjaga warisan kuliner Banyuwangi yang telah menemani perjalanan para pelintas jalur Jawa–Bali selama lebih dari tiga dekade. Di balik semangkuk lodeh koro pedas, tersimpan kisah tentang ketekunan, warisan leluhur, dan cita rasa yang mampu memanggil pelanggan untuk kembali, dari Jakarta hingga Tiongkok. (ram/aif)
Editor : Ali Sodiqin