RADAR BANYUWANGI – Ada banyak cara menikmati Banyuwangi. Namun, bagi pencinta kuliner, perjalanan ke Bumi Blambangan belum benar-benar lengkap sebelum mencicipi sajian khas yang lahir dari dapur-dapur sederhana dan diwariskan lintas generasi.
Dari sepiring Sego Cawuk Bu Mantih di Rogojampi yang sudah diracik sejak 1972, nasi pecel legendaris Bu Wagirah yang bertahan sejak 1960, hingga Rawon Mak Tini yang disebut telah melewati usia satu abad, Banyuwangi menyimpan jejak panjang kuliner tradisional yang tetap bertahan di tengah gempuran menu kekinian.
Menariknya, kekuatan kuliner legendaris tersebut bukan sekadar pada usia warung. Ada resep yang dipertahankan, cita rasa yang konsisten, hingga cara penyajian sederhana yang justru membuat pelanggan merasa seperti sedang makan di rumah sendiri.
Berikut enam rekomendasi kuliner legendaris Banyuwangi yang bisa masuk daftar jujugan saat menjelajah cita rasa khas Bumi Blambangan.
1. Sego Cawuk Bu Mantih, Sarapan Legendaris dari Rogojampi
Jika ingin merasakan kuliner khas Banyuwangi sejak pagi, Sego Cawuk Bu Mantih di Kecamatan Rogojampi bisa menjadi pilihan.
Warung yang berada di selatan pertigaan Terminal Rogojampi, kemudian ke timur sekitar 50 meter, itu dikenal sebagai salah satu tempat menikmati Sego Cawuk yang telah bertahan puluhan tahun.
Pemiliknya, Mbah Mantih, 77, membuka warung setiap hari mulai sekitar pukul 06.00 hingga 12.00. Meski berada di tepi jalan, warung sederhana tersebut nyaris tak pernah kehilangan pelanggan.
Bahkan, nasi yang disiapkan kerap habis sebelum jam tutup. Mbah Mantih pun harus kembali memasak untuk memenuhi permintaan pembeli.
"Setiap hari ramai, hingga pukul 12.00 itu, bahkan nasi yang dibawa sering habis dan memasak kembali sebelum tutup," kata Mbah Mantih.
Cita rasa Sego Cawuk Bu Mantih terletak pada perpaduan rasa yang kompleks. Nasi disiram kuah santan dan parutan kelapa muda, kemudian dipadukan dengan jagung bakar yang memberikan sensasi gurih.
Rasa manis berasal dari kuah pindang dan daging sapi yang biasa disebut rujak atau kuah merah. Sementara sensasi asam dan segar muncul dari sambal hasil ulegan belimbing wuluh dan serai.
Sebagai pelengkap, tersedia pepes ikan tenggiri dan cumi. Kerupuk serta rempeyek juga siap menemani santapan.
Resep tersebut disebut diracik sendiri oleh Mbah Mantih dan telah dipertahankan sejak 1972. Untuk menikmati seporsi Sego Cawuk, pelanggan cukup merogoh kocek Rp 15 ribu.
Bagi wisatawan, waktu terbaik menyantapnya tentu pagi hari. Sebab, Sego Cawuk memang paling pas dijadikan menu sarapan sebelum melanjutkan perjalanan menjelajah Banyuwangi.
2. Pondok Nurani, Sensasi Makan Prasmanan ala Dapur Rumah
Bergeser ke kawasan kota Banyuwangi, ada Rumah Makan Pondok Nurani yang menawarkan pengalaman makan dengan suasana sederhana, tetapi kaya pilihan lauk.
Warung ini berada di sebuah gang kecil di Jalan Agus Salim Banyuwangi. Dari simpang empat traffic light Mojopanggung, pengunjung cukup melaju ke arah timur sekitar 500 meter.
Nama Pondok Nurani sendiri diambil dari nama gang tempat warung tersebut berada.
Buka mulai pukul 08.30 hingga 16.30, warung ini tutup pada hari libur dan hari besar nasional. Pelanggannya datang dari berbagai kalangan.
Saat jam makan siang tiba, sekitar pukul 13.00, suasana warung biasanya semakin ramai. Para aparatur sipil negara (ASN) menjadi salah satu pelanggan yang kerap menjadikan Pondok Nurani sebagai jujugan makan siang.
Konsep yang ditawarkan sederhana. Pelanggan mengambil nasi sendiri, kemudian memilih aneka lauk yang tersedia secara prasmanan sesuai selera.
Pilihan menunya cukup beragam. Mulai ikan laut, kare ayam, empal, dadar jagung, tahu dan tempe, sambal goreng, telur ceplok, urap-urap, sayur kelor, sayur bening, hingga sayur lodeh.
Konsep tersebut membuat pelanggan bebas meracik sendiri isi piringnya. Bagi mereka yang menyukai masakan rumahan dengan banyak pilihan lauk, Pondok Nurani layak masuk daftar kuliner yang patut dicoba.
3. Pondok Boga, Ayam Goreng Presto dengan Lalapan Tak Biasa
Bagi wisatawan yang baru tiba atau hendak meninggalkan Banyuwangi melalui jalur Ketapang, Pondok Boga bisa menjadi pilihan untuk mengisi perut.
Warung makan yang berada di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, ini berjarak sekitar 1,2 kilometer dari Pelabuhan ASDP Ketapang ke arah selatan. Lokasinya tepat di depan Hotel Manyar, Ketapang.
Pondok Boga buka mulai pukul 10.00 hingga 20.00.
Menu yang ditawarkan cukup beragam. Ada ayam goreng, ikan laut, lele, paru, hingga perkedel. Namun, salah satu menu yang menjadi daya tarik utama adalah ayam goreng presto.
Ayam tersebut dipresto terlebih dahulu sehingga menghasilkan tekstur daging yang empuk dan juicy. Bahkan, tulangnya pun cukup renyah untuk dinikmati.
Keunikan lainnya terletak pada lalapan. Jika rumah makan lalapan umumnya menyajikan kubis atau terong, Pondok Boga justru menghadirkan daun pepaya, daun singkong, dan selada.
Sensasi makan semakin kuat berkat sambal berbahan cabai rawit murni yang diulek satu per satu menggunakan cobek.
Konsistensi rasa menjadi salah satu kunci Pondok Boga bertahan hampir tiga dekade sejak 1996. Lokasinya yang dekat dengan Pelabuhan Ketapang juga membuat warung ini mudah disinggahi wisatawan yang sedang melakukan perjalanan.
4. Nasi Pecel Bu Wagirah, Warisan Rasa Sejak 1960
Bagi penggemar nasi pecel, ada satu warung legendaris di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, yang menarik untuk disambangi.
Namanya Warung Nasi Pecel Bu Wagirah.
Warung tersebut bukan sekadar tempat makan. Ia menjadi bagian dari perjalanan kuliner Banyuwangi karena telah bertahan sejak 1960.
Ada pengalaman berbeda ketika makan di warung ini. Tidak ada etalase kaca mewah atau sekat yang memisahkan penjual dan pembeli.
Lauk-pauk justru disajikan langsung di atas meja dapur. Pelanggan bisa menunjuk dan memilih sendiri lauk pendamping pecel yang diinginkan.
Suasananya terasa seperti sedang menikmati hidangan di dapur rumah nenek.
"Sengaja saya biarkan begini (di dapur), biar rasanya seperti rumah sendiri. Pelanggan bebas milih lauknya," kata Wagirah.
Pecelnya sendiri tampil sederhana. Sayuran segar disiram sambal kacang dengan tekstur yang pas. Perpaduan rasa manis, gurih, dan pedas terasa seimbang.
Yang membuatnya semakin menarik, harga seporsi pecel tergolong ramah di kantong. Harganya mulai Rp 5 ribu.
Bagi pencinta kuliner tradisional, pengalaman di warung Bu Wagirah bukan hanya tentang rasa. Cara penyajiannya menghadirkan nostalgia dan suasana makan yang semakin sulit ditemukan di tengah perkembangan rumah makan modern.
5. Bakso Rawon Sumber Rejeki, Dua Kuliner Ikonik dalam Satu Mangkuk
Rawon dan bakso biasanya dinikmati sebagai dua hidangan berbeda. Namun, di Warung Bakso Rawon Sumber Rejeki, keduanya justru dipertemukan dalam satu sajian.
Warung milik Yaseno tersebut berada di Lingkungan Brak, Kelurahan Kalipuro, Banyuwangi. Lokasinya berada di pinggir jalan dekat SMPN 2 Kalipuro, sekitar 100 meter ke arah barat dari Simpang Empat Brak.
Menu ini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.
Ada dua pilihan menu utama yang menjadi ciri khas warung yang telah bertahan hampir 30 tahun tersebut.
Pertama, bakso rawon. Bakso menjadi menu utama, kemudian disiram kuah dan daging rawon. Hidangan ini disajikan tanpa nasi.
Kedua, rawon bakso. Dalam menu ini, rawon menjadi sajian utama dengan tambahan tempe kering, kecambah, sambal, kerupuk udang, tiga pentol kecil, dan satu pentol besar.
Bagi pelanggan yang datang pagi untuk sarapan, rawon biasa menjadi pilihan. Sementara ketika jam makan siang tiba, pesanan rawon bakso atau bakso rawon mulai banyak dipilih.
"Kalau pagi yang datang sarapan mintanya rawon saja, kalau sudah jam makan siang baru ada yang pesan rawon bakso atau bakso rawon," ujar Sofi, menantu pemilik warung.
Perpaduan kuah rawon hitam pekat dengan gurihnya bakso menciptakan sensasi berbeda. Cita rasa rempah kluwek yang kuat berpadu dengan tekstur pentol bakso, menjadikannya menu yang cocok bagi pencinta kuliner unik dan mengenyangkan.
6. Rawon Mak Tini, Kuliner Legendaris yang Disebut Bertahan Satu Abad
Jika berbicara mengenai rawon legendaris di Banyuwangi, nama Rawon Mak Tini sulit untuk dilewatkan.
Warung ini berada di sebelah utara Masjid Baiturrahman Banyuwangi, tepat di kawasan pusat kota. Lokasinya juga dekat dengan Pendapa Bupati Banyuwangi dan hanya sekitar 1 kilometer dari kawasan wisata Pantai Marina Boom.
Letaknya yang strategis membuat Rawon Mak Tini mudah dijangkau wisatawan.
Namun, bukan hanya lokasi yang membuat warung ini menarik. Rawon Mak Tini disebut telah berdiri selama satu abad dan terus menjadi jujugan pelanggan dari berbagai daerah.
Cita rasanya dikenal kuat dan khas. Kuah rawon yang kental berpadu dengan daging empuk serta pilihan lauk pendamping seperti empal, paru, limpa, dan tempe goreng.
Sambal dan kecambah menjadi pelengkap yang membuat rasa semakin lengkap.
"Rasanya benar-benar nendang. Bumbunya pas, kuahnya sangat kental. Dagingnya empuk, ada empal, paru, limpa, dan tempe goreng. Sambal dan cambahnya terasa pas di lidah," ujar Cahya Heriyanto, pelanggan tetap Rawon Mak Tini asal Banyuwangi.
Bagi wisatawan yang tengah berada di pusat kota, menyempatkan diri mencicipi Rawon Mak Tini bisa menjadi salah satu cara menikmati sisi lain Banyuwangi: kuliner yang tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga cerita panjang di baliknya.
Menyusuri Banyuwangi Lewat Sepiring Kuliner
Enam kuliner tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan kuliner Banyuwangi tidak selalu lahir dari tempat makan mewah. Sebaliknya, banyak cita rasa terbaik justru tumbuh dari warung sederhana yang dirawat dengan resep keluarga dan konsistensi selama puluhan tahun.
Sego Cawuk Bu Mantih menawarkan keunikan rasa khas Banyuwangi sejak pagi. Pondok Nurani menghadirkan sensasi prasmanan dengan pilihan masakan rumahan. Pondok Boga punya ayam goreng presto dan sambal cobek yang khas.
Sementara itu, Nasi Pecel Bu Wagirah membawa pengunjung bernostalgia dengan suasana makan di dapur rumah. Bakso Rawon Sumber Rejeki menawarkan perpaduan dua kuliner dalam satu sajian. Sedangkan Rawon Mak Tini menjadi salah satu pilihan bagi pencinta rawon dengan jejak sejarah panjang.
Jadi, jika perjalanan berikutnya membawa Anda ke Banyuwangi, jangan hanya mengejar destinasi wisata. Sisihkan waktu untuk menyusuri warung-warung legendarisnya.
Sebab, terkadang cerita tentang sebuah daerah justru tersaji paling lengkap dalam semangkuk rawon, sepiring nasi pecel, atau nasi cawuk hangat yang disantap sejak pagi. (*)
Editor : Ali Sodiqin