Berawal dari Hobi Mancing Sang Suami, Sego Wader Mbok Misnah Kini Jadi Ikon Kuliner Banyuwangi

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 05:00 WIB
Lauk ikan wader menjadi menu andalan Warung Puthuk Mbok Misnah yang terletak di Desa Kenjo, Kecamatan Glagah. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Lauk ikan wader menjadi menu andalan Warung Puthuk Mbok Misnah yang terletak di Desa Kenjo, Kecamatan Glagah. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Kesuksesan Warung Puthuk Mbok Misnah di Desa Kenjo, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, ternyata berawal dari kebiasaan sederhana sang suami yang gemar memancing. Berbekal hasil tangkapan ikan wader, pasangan tersebut mengubah hobi menjadi peluang usaha. Siapa sangka, menu sego wader yang awalnya hanya coba-coba kini menjelma menjadi salah satu kuliner khas Banyuwangi yang selalu diburu pelanggan.

Warung yang kini dikenal sebagai salah satu hidden gem kuliner Banyuwangi itu sebenarnya tidak langsung menyajikan menu nasi. Saat pertama kali dibuka pada 2015, Misnah hanya menjual aneka jajanan tradisional seperti pisang goreng, tahu isi, hongkong, dan berbagai gorengan lainnya.

Setahun berselang, tepatnya pada 2016, muncul ide menghadirkan menu sego wader. Inspirasi itu datang dari sang suami yang hampir setiap hari pulang memancing dengan membawa ikan wader dalam jumlah cukup banyak.

"Buka warung sego wader tahun 2016. Berawal dari suami yang hobi mancing, sering dapat ikan wader. Dari situ suami saya kepingin buka warung sego wader karena di Kenjo jarang yang jualan menu itu," ujar Misnah.

Pada masa awal, seluruh kebutuhan ikan wader dipenuhi dari hasil pancing sang suami. Tak disangka, menu sederhana tersebut justru mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Pelanggan terus berdatangan hingga Warung Puthuk Mbok Misnah semakin dikenal, bukan hanya oleh warga Banyuwangi, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah.

Seiring meningkatnya permintaan, pilihan menu pun semakin beragam. Selain sego wader, warung tersebut kini menyediakan aneka lauk berbahan ikan air tawar seperti ikan oling, peyek udang, hingga menu ayam.

Seluruh hidangan disajikan dengan ciri khas sambal ranti ala sego tempong Banyuwangi yang berpadu dengan aneka sayuran rebus, seperti gundo, selada air, bayam, hingga terong. Perpaduan rasa pedas, gurih, dan segar itulah yang menjadi daya tarik utama pelanggan untuk kembali datang.

Meningkatnya jumlah pembeli membuat usaha keluarga tersebut terus berkembang. Jika pada awal berdiri hanya dikelola Misnah bersama sang suami, kini kedua anak mereka serta seorang kerabat turut membantu melayani pelanggan yang datang setiap hari.

Dalam sehari, Warung Puthuk Mbok Misnah mampu menghabiskan sekitar 5 kilogram ikan wader. Sementara kebutuhan bahan baku untuk menu lain, seperti ikan oling dan lauk lainnya, mencapai 3 hingga 4 kilogram per hari.

"Alhamdulillah, ramai terus. Sehari bisa menghabiskan 5 kilogram ikan wader," ujar perempuan kelahiran 1966 tersebut.

Perjalanan Warung Puthuk Mbok Misnah menjadi bukti bahwa usaha sederhana yang dibangun dari hobi dan ketekunan mampu berkembang menjadi destinasi kuliner yang dikenal luas. Dari hasil pancing di sungai, sego wader kini menjadi sajian khas yang ikut memperkaya daya tarik wisata kuliner Banyuwangi. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
sego wader Warung Puthuk Mbok Misnah Kuliner Banyuwangi Ikan Wader