Viral di Media Sosial, Mie Pedas Kian Digemari Remaja, Konsumsi Berlebihan Perlu Diwaspadai

Anita Rahma • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 10:32 WIB
Tren mie pedas semakin digemari remaja berkat media sosial dan sensasi level kepedasan. (Anita untuk Radar Banyuwangi)
Tren mie pedas semakin digemari remaja berkat media sosial dan sensasi level kepedasan. (Anita untuk Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Tren kuliner pedas kembali menjadi perhatian masyarakat, khususnya di kalangan remaja. Salah satu menu yang tengah populer adalah mie pedas dengan beragam pilihan tingkat kepedasan serta tambahan topping seperti telur, sosis, bakso, ayam, hingga sayuran yang membuat cita rasanya semakin menggugah selera.

Popularitas mie pedas tidak hanya dipengaruhi oleh rasa yang menawarkan sensasi berbeda, tetapi juga didorong oleh perkembangan media sosial. Banyak remaja membagikan pengalaman mereka saat mencoba berbagai level kepedasan melalui foto maupun video. Konten tersebut kemudian memicu rasa penasaran pengguna lain untuk ikut mencicipinya sehingga tren ini terus berkembang.

Bagi sebagian remaja, menikmati mie pedas bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan. Kuliner ini juga menjadi bagian dari aktivitas sosial untuk berkumpul bersama teman, berbincang, hingga membuat konten yang diunggah ke berbagai platform media sosial.

Meski demikian, di balik popularitasnya, konsumsi mie pedas berbahan dasar mie instan tetap perlu diperhatikan. Mie instan merupakan makanan ultra proses yang mengandung natrium, lemak jenuh, serta bahan tambahan pangan dalam jumlah cukup tinggi. Karena itu, konsumsi setiap hari tidak dianjurkan.

Mengacu pada informasi dari Siloam Hospitals, satu porsi mie instan dapat menyumbang sebagian besar kebutuhan garam harian. Apabila dikonsumsi terlalu sering, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan darah dan memperbesar risiko penyakit kardiovaskular.

Selain itu, kandungan garam yang tinggi juga dapat membebani kerja ginjal sehingga memengaruhi kemampuan organ tersebut dalam mengatur keseimbangan cairan dan natrium di dalam tubuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal.

Konsumsi mie instan berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan sistem pencernaan. Kandungan bahan pengawet tertentu membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna sehingga berpotensi mengganggu proses penyerapan nutrisi. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko sembelit maupun gangguan pencernaan lainnya.

Risiko kesehatan lain yang perlu diwaspadai meliputi meningkatnya peluang terjadinya penyakit jantung, diabetes tipe 2, gangguan fungsi hati, obesitas, hingga malnutrisi akibat rendahnya kandungan serat, vitamin, dan mineral dalam mie instan.

Meski demikian, bukan berarti mie instan harus dihindari sepenuhnya. Konsumsi masih dapat dilakukan dengan bijak, misalnya membatasi frekuensi makan sekitar satu kali dalam sepekan, memilih produk dengan kadar natrium lebih rendah, mengurangi penggunaan bumbu, serta menambahkan sayuran, telur, maupun sumber protein lain agar nilai gizinya lebih seimbang.

Fenomena mie pedas menunjukkan bagaimana media sosial mampu mempercepat perkembangan tren kuliner di kalangan remaja. Namun, di tengah tingginya minat terhadap makanan bercita rasa pedas, masyarakat tetap diimbau memperhatikan pola makan seimbang agar tren kuliner tidak mengorbankan kesehatan dalam jangka panjang.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : siloamhospitals.com
mie pedas tren kuliner remaja