RADARBANYUWANGI.ID - Ikan asin menjadi salah satu lauk favorit masyarakat Indonesia. Cita rasanya yang gurih dan khas membuat makanan ini kerap menjadi pelengkap nasi hangat, terlebih jika disajikan bersama sambal. Namun, di balik kelezatannya, ikan asin juga kerap dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit kanker.
Isu tersebut bukan sekadar mitos. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ikan asin, terutama yang diawetkan secara tradisional dengan kadar garam tinggi, memang memiliki kaitan dengan peningkatan risiko kanker nasofaring atau kanker pada bagian atas tenggorokan di belakang hidung.
Proses pengolahan ikan asin secara tradisional melalui penggaraman dan penjemuran dapat memicu terbentuknya senyawa nitrit dan nitrosamin. Senyawa nitrosamin dikenal sebagai zat yang bersifat karsinogenik atau berpotensi memicu perubahan sel yang dapat berkembang menjadi kanker apabila terpapar dalam jumlah besar dan dalam jangka waktu panjang.
Selain itu, kadar garam yang tinggi juga dapat menyebabkan iritasi kronis pada jaringan saluran napas dan saluran pencernaan sehingga semakin meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu langsung menghindari ikan asin sepenuhnya. Risiko tersebut umumnya meningkat apabila ikan asin dikonsumsi secara berlebihan, misalnya hampir setiap hari atau dalam jumlah yang banyak.
Dokter Robby Firmansyah melalui Alodokter menjelaskan bahwa konsumsi ikan asin sesekali dalam porsi yang wajar umumnya masih tergolong aman. Risiko akan lebih tinggi apabila makanan tersebut menjadi konsumsi rutin, terlebih jika dipadukan dengan pola makan yang kurang sehat.
Ia juga mengingatkan bahwa anak-anak yang sejak kecil sering mengonsumsi ikan asin diduga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker nasofaring saat dewasa. Risiko serupa juga dapat ditemukan pada makanan yang diawetkan dengan cara diasinkan maupun diasap karena berpotensi mengandung nitrosamin.
Di tengah kekhawatiran masyarakat, muncul pula berbagai pandangan mengenai cara mengurangi risiko tersebut. Salah satunya disampaikan Anin (19), yang menilai bahwa cara pengolahan makanan turut memengaruhi tingkat risiko.
"Sebenarnya makan ikan asin tetap bisa berisiko, tapi setidaknya bisa diminimalisir kalau cara masaknya benar. Kuncinya direndam air hangat dulu sebelum digoreng supaya garamnya berkurang. Saat makan juga harus diimbangi sayur dan buah. Memang tidak menutup kemungkinan tetap ada risiko, tetapi setidaknya kita sudah berusaha mencegah," ujarnya.
Pendapat tersebut sejalan dengan anjuran medis. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah merendam ikan asin menggunakan air hangat atau air mengalir sebelum dimasak. Cara ini membantu mengurangi kadar garam yang menempel sekaligus membersihkan kotoran pada permukaan ikan.
Selain itu, frekuensi konsumsi juga perlu dibatasi. Para ahli menyarankan ikan asin tidak dikonsumsi setiap hari, melainkan cukup satu hingga dua kali dalam sepekan agar paparan senyawa berisiko tidak terus menumpuk di dalam tubuh.
Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi sayuran hijau dan buah-buahan yang kaya vitamin C serta antioksidan. Kandungan tersebut dapat membantu menghambat pembentukan nitrosamin di dalam lambung sekaligus melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Selain memilih pola makan yang lebih seimbang, masyarakat juga sebaiknya membeli ikan asin yang diproses secara higienis dan tidak menggunakan bahan pengawet tambahan secara berlebihan.
Bagi seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker nasofaring atau sering mengalami keluhan pada saluran napas atas, seperti hidung tersumbat kronis maupun mimisan berulang, pemeriksaan ke dokter THT dianjurkan agar kondisi kesehatan dapat dipantau lebih dini.
Editor : Lugas Rumpakaadi