Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tak Tergusur Cromboloni dan Pastry Premium, Lapak Kue Basah Tradisional di Banyuwangi Tetap Ramai Pembeli, Dari Pelajar hingga Pegawai Kantoran

Mayang Dwi Febrianti • Senin, 13 Juli 2026 | 14:49 WIB
Lapak kue basah tradisional di Banyuwangi tetap dipadati pembeli setiap pagi. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)
Lapak kue basah tradisional di Banyuwangi tetap dipadati pembeli setiap pagi. (Mayang untuk Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah masifnya tren kuliner barat seperti cromboloni, pastry premium, hingga aneka dessert modern yang ramai menghiasi media sosial, jajanan pasar tradisional di Banyuwangi justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Lapak-lapak kue basah yang tersebar di berbagai sudut pasar dan tepi jalan tetap ramai didatangi warga setiap pagi untuk berburu cita rasa autentik yang telah akrab di lidah sejak lama.

Etalase kaca berisi aneka kudapan tradisional seperti kue lapis warna-warni, lapis mandarin, lemper, nagasari, hingga berbagai gorengan hangat menjadi pemandangan yang mudah dijumpai di sejumlah kawasan Banyuwangi. Keberadaan lapak tersebut membuktikan bahwa selera masyarakat terhadap kuliner lokal tidak mudah tergeser oleh hadirnya makanan kekinian yang tengah populer.

Keramaian terlihat sejak subuh hingga menjelang siang. Berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, pegawai kantoran, pedagang, hingga pelajar, tampak silih berganti mendatangi lapak untuk membeli camilan sebagai pengganjal perut sebelum memulai aktivitas.

Salah seorang pembeli, Shinta, mengaku tetap memilih jajanan pasar meskipun saat ini banyak makanan modern yang sedang viral di media sosial.

"Jujur ya, meskipun sekarang banyak kue-kue kekinian yang lagi viral di TikTok, tapi aku kalau pagi tetap nyari jajanan pasar kayak gini. Suka aja sama rasa gurihnya itu pas di lidah. Kayak jajan lemper ini kan juga bikin kenyang karena pakai ketan. Aku suka juga karena harganya murah meriah, ramah di kantong buat ganjal perut sebelum beraktivitas," ujarnya.

Menurutnya, rasa yang khas dan harga yang terjangkau menjadi alasan utama mengapa jajanan pasar tetap menjadi pilihan dibandingkan makanan modern yang umumnya dibanderol lebih mahal.

Tak hanya mengandalkan cita rasa, para pelaku usaha juga mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui inovasi pada aspek penyajian. Jika dahulu jajanan pasar identik dengan kemasan sederhana, kini sebagian besar produsen rumahan telah menggunakan plastik klip maupun mika bening untuk membungkus setiap produk secara individual.

Kemasan yang lebih bersih, rapi, dan menarik tersebut memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen. Perubahan ini juga membuat jajanan tradisional semakin diminati oleh kalangan muda yang lebih memperhatikan tampilan makanan.

Di balik ramainya transaksi setiap pagi, keberadaan lapak kue basah tradisional juga memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Sebagian besar penjualan dilakukan menggunakan sistem titip jual, sehingga satu lapak sederhana dapat menjadi tempat pemasaran bagi belasan pembuat kue rumahan di wilayah sekitarnya.

Model usaha tersebut membuka peluang ekonomi bagi pelaku industri rumahan tanpa harus memiliki tempat berjualan sendiri. Hubungan saling menguntungkan antara penjual dan pembuat kue pun terus terjalin sehingga roda perekonomian masyarakat kecil tetap bergerak.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#kue basah Banyuwangi