Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Viral di TikTok, Tahu Kocek Asal Jember Sukses Ekspansi ke Sejumlah Kota dan Diburu Pecinta Kuliner Pedas

Anita Rahma • Sabtu, 11 Juli 2026 | 12:03 WIB
Demam Tahu Kocek asal Jember terus meluas. (Anita untuk Radar Banyuwangi)
Demam Tahu Kocek asal Jember terus meluas. (Anita untuk Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Pemandangan antrean panjang di kawasan Jalan Kalimantan dan sekitar kampus Universitas Jember (Unej) kini menjadi hal yang lumrah setiap sore.

Ratusan warga rela menunggu giliran bukan untuk mendapatkan bantuan sosial ataupun tiket hiburan, melainkan berburu seporsi Tahu Kocek, jajanan kaki lima yang sedang naik daun dan menjadi fenomena kuliner baru.

Awalnya, Tahu Kocek dikenal sebagai makanan sederhana yang identik dengan mahasiswa karena menawarkan harga ramah di kantong.

Namun, popularitasnya terus meningkat setelah ramai diperbincangkan di media sosial, terutama melalui TikTok dan Instagram.

Kini, kuliner khas Jember tersebut tidak lagi hanya digemari warga lokal, tetapi mulai merambah berbagai kota besar seperti Surabaya, Malang, hingga Bali.

Di Surabaya Barat, misalnya, lapak Tahu Kocek di kawasan Manukan hampir selalu dipadati pembeli sejak sore hingga malam.

Antrean kendaraan yang berhenti untuk membeli bahkan kerap memicu kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi.

Daya tarik utama Tahu Kocek terletak pada kombinasi cita rasa pedas, tekstur renyah, dan harga yang sangat terjangkau.

Satu porsi dibanderol sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000.

Dengan harga tersebut, pembeli memperoleh sekitar tujuh hingga sepuluh potong tahu aci berukuran besar yang disajikan bersama sambal bawang segar dan irisan kubis.

"Harga lima ribu itu sudah jadi standar baku di tingkat pedagang kaki lima. Kalau dijual di atas sepuluh ribu, biasanya penikmat kuliner pedas, terutama segmen mahasiswa dan pelajar, langsung membanding-bandingkan. Jadi, ini memang perang volume penjualan, bukan perang margin tebal," ujar Supriadi, pelaku UMKM Tahu Kocek yang berjualan di kawasan ruko sekitar kampus Unej.

Meski dijual dengan harga murah, usaha Tahu Kocek dinilai cukup menjanjikan.

Sebab, bahan baku utamanya berupa tepung tapioka, tepung terigu, dan tahu pong merupakan komoditas lokal yang relatif stabil harganya di pasar tradisional Jawa Timur.

Kondisi tersebut membuat para pedagang mampu mempertahankan harga jual meski terjadi fluktuasi pada sejumlah kebutuhan pokok lainnya.

Keunikan lain terdapat pada proses penyajiannya.

Nama "Kocek" berasal dari istilah bahasa Madura yang umum digunakan masyarakat Tapal Kuda, yakni bermakna diaduk atau ditekan secara kasar menggunakan cobek.

Berbeda dengan tahu geprek yang dihancurkan hingga pipih, Tahu Kocek mempertahankan bentuk potongan tahu.

Tahu pong yang telah diisi adonan aci gurih dikukus lebih dahulu, kemudian dipotong kecil, digoreng hingga renyah, lalu diaduk bersama sambal bawang segar yang disiram minyak panas serta irisan kubis mentah.

Perpaduan tekstur renyah, lembut, dan segar menjadi ciri khas yang membuat jajanan ini mudah dikenali.

"Rasa pedasnya segar karena pakai sambal bawang mentah yang disiram minyak panas. Apalagi ada kriuk-kriuk dari kol mentahnya, bikin nagih. Harganya juga murah meriah, lima ribu rupiah sudah dapat satu porsi kenyang," kata Linda Permatasari, mahasiswa yang ditemui saat mengantre di salah satu lapak Tahu Kocek di Jember.

Popularitas yang terus meningkat di media sosial juga membawa dampak positif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Salah satu merek lokal, Tahu Kocek Mbak Yenny, berhasil menarik perhatian setelah viral di Bali.

Usaha tersebut kemudian membuka cabang berkonsep On The Road (OTR) menggunakan mobil bak terbuka di depan Lippo Plaza Jember.

Ratusan porsi yang disiapkan dilaporkan habis terjual dalam waktu kurang dari dua jam.

Fenomena tersebut mendorong semakin banyak pelaku usaha baru mencoba peruntungan di bisnis Tahu Kocek.

Selain permintaan pasar yang tinggi, usaha ini dinilai memiliki hambatan masuk yang relatif rendah.

Pedagang cukup bermodalkan gerobak sederhana, kompor gas, wajan, serta cobek batu berukuran besar untuk memulai usaha.

Dengan bahan baku yang mudah diperoleh, investasi awal yang relatif ringan, serta pasar yang terus berkembang, Tahu Kocek menjadi salah satu peluang usaha kuliner yang menjanjikan di Jember maupun daerah lain.

Melihat tren yang masih terus berkembang, Tahu Kocek diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.

Selama pelaku usaha mampu menjaga konsistensi cita rasa, kebersihan produk, serta mempertahankan harga yang terjangkau, kuliner khas Jember ini berpeluang menjadi salah satu ikon jajanan nasional, mengikuti jejak batagor Bandung maupun siomay yang telah lebih dahulu dikenal luas di berbagai daerah.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Tahu Kocek Jember