RADAR BANYUWANGI – Begitu sepotong lele goreng digigit, kulitnya yang garing langsung berpadu dengan daging yang lembut dan gurih.
Saat sambal pecek khas yang pedas, segar, dan sedikit beraroma jeruk limau menyentuh lidah, sensasinya membuat siapa pun ingin menambah nasi.
Perpaduan rasa itulah yang membuat Warung Sirot di Jalan Diponegoro Nomor 245, Dusun Lidah, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, tak pernah sepi pemburu kuliner sejak berdiri pada 1978.
Di balik bangunan sederhana itu, resep warisan Mbah Subaikah masih dijaga hingga kini oleh sang cucu, M. Misbah, 40.
Meski zaman terus berubah, satu hal yang tidak ikut berubah adalah cita rasa pecek lele yang telah menjadi identitas Warung Sirot selama hampir lima dekade.
Menu andalan tersebut bukan sekadar lele goreng biasa. Ikan lele digoreng hingga renyah di bagian luar, tetapi tetap menyisakan tekstur lembut dan juicy di bagian dalam.
Keistimewaannya semakin lengkap berkat sambal pecek yang diulek setiap hari menggunakan cabai, bawang, rempah pilihan, dan sentuhan jeruk limau.
Perpaduan gurih, pedas, sedikit manis, dan segar itulah yang menjadi kekuatan utama Warung Sirot.
Rasa pedasnya membuat dahi berkeringat, tetapi justru membuat tangan tak berhenti menyuap nasi.
"Nyaris setiap pembeli yang datang ke sini memang sengaja mencari pecek lele. Itu sudah jadi identitas warung ini sejak zaman Mbah dulu," ujar Musarofah, 50, salah seorang pengelola warung.
Loyalitas pelanggan terlihat dari tingginya kebutuhan bahan baku setiap hari. Saat akhir pekan maupun jam makan siang dan malam, dapur Warung Sirot mampu mengolah puluhan kilogram lele segar.
"Kalau pas ramai-ramainya, kami bisa menghabiskan sampai 40 kilogram lele dalam sehari," kata Musarofah sambil tersenyum.
Bertahan dengan Resep Lama, Berkembang lewat Menu Baru
Perjalanan Warung Sirot menuju popularitas saat ini tidak berlangsung instan. Sebelum menetap di Dusun Lidah pada 2006, warung tersebut beberapa kali berpindah lokasi mengikuti perkembangan usaha.
Setelah memiliki tempat yang lebih permanen, pengelola mulai menambah variasi menu tanpa menghilangkan pecek lele sebagai ikon utama.
"Pindah ke sini pas anak-anak itu masih kecil," ujar Musarofah sambil menunjuk dua pramusaji yang merupakan anak pemilik warung.
Menurutnya, inovasi menu diperlukan agar pelanggan memiliki lebih banyak pilihan, terutama bagi mereka yang tidak mengonsumsi lele atau ingin menikmati hidangan lain.
"Ngukuti tren lah, harus ada variasinya biar tidak kalah saing dengan yang lain," tuturnya.
Kini, selain pecek lele, pengunjung dapat memilih aneka lauk seperti ayam goreng, bebek goreng, hingga cumi-cumi.
Berbagai sayuran khas pedesaan yang mulai sulit ditemukan, seperti oseng kembang turi dan terong penyet, juga menjadi pelengkap menu.
"Bermacam-macam sayuran ndeso yang mulai langka, seperti oseng kembang turi hingga terong penyet juga ada," katanya.
Keberagaman menu membuat Warung Sirot tak lagi sekadar menjadi tempat singgah para sopir yang melintas di jalur utama Gambiran.
Warung ini berkembang menjadi destinasi kuliner keluarga yang ramai dikunjungi hampir sepanjang hari.
"Kita buka 24 jam. Kalau malam pindah di depan, di pinggir jalan," ujar Musarofah.
Di tengah menjamurnya tempat makan modern, Warung Sirot membuktikan bahwa kuliner legendaris tetap memiliki tempat di hati pelanggan.
Kuncinya sederhana: mempertahankan resep warisan Mbah Subaikah, menjaga kualitas rasa, dan menghadirkan gurihnya pecek lele yang selalu membuat orang ingin kembali. (sas)
Editor : Ali Sodiqin