Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pecek Lele Warung Sirot Gambiran Jadi Buruan Sopir hingga Artis, Resepnya Bertahan sejak 1978

Salis Ali Muhyidin • Jumat, 10 Juli 2026 | 23:30 WIB
WARUNG LEGENDARIS: Salah satu pelanggan membeli makanan di Warung Sirot di Jalan Diponegoro nomor 245, Dusun Lidah, Desa/Kecamatan Gambiran. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
WARUNG LEGENDARIS: Salah satu pelanggan membeli makanan di Warung Sirot di Jalan Diponegoro nomor 245, Dusun Lidah, Desa/Kecamatan Gambiran. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Di tengah padatnya arus kendaraan di jalur utama Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, ada satu warung sederhana yang nyaris tak pernah kehilangan pelanggan. 

Warung Sirot di Jalan Diponegoro Nomor 245, Dusun Lidah, menjadi tujuan para sopir, pekerja, keluarga, hingga artis dan pegiat kuliner yang berburu seporsi pecek lele legendaris.

 Beroperasi selama 24 jam, warung ini mempertahankan cita rasa warisan keluarga yang telah bertahan hampir setengah abad.

Aroma lele goreng yang baru diangkat dari penggorengan berpadu dengan sambal pecek yang diulek segar seolah menjadi penanda bagi setiap orang yang melintas.

Tak heran jika warung yang berdiri sejak 1978 itu selalu dipadati pelanggan, baik siang maupun malam.

Kini, Warung Sirot dikelola M. Misbah, cucu pendiri warung, Mbah Subaikah. Meski telah berganti generasi, satu hal yang tetap dipertahankan adalah resep pecek lele yang menjadi identitas warung sejak pertama kali berdiri.

"Kita buka 24 jam. Kalau malam pindah di depan, di pinggir jalan," ujar Musarofah, 50, salah seorang pengelola warung, saat ditemui di sela melayani pelanggan.

Warung Sirot awalnya dikenal sebagai tempat singgah para sopir dan pekerja yang melintasi jalur Gambiran.

Namun seiring waktu, namanya semakin dikenal luas dan berkembang menjadi destinasi kuliner keluarga. 

Bahkan, sejumlah artis dan pegiat kuliner, salah satunya King Abdi, pernah mencicipi menu andalan warung tersebut.

Daya tarik utamanya terletak pada pecek lele yang disajikan dengan tekstur renyah di bagian luar, tetapi tetap lembut di dalam.

Sensasi tersebut semakin lengkap berkat sambal pecek khas Warung Sirot yang diulek langsung menggunakan cabai, bawang, rempah pilihan, serta sentuhan jeruk limau yang memberikan aroma segar.

"Nyaris setiap pembeli yang datang ke sini memang sengaja mencari pecek lele. Itu sudah jadi identitas warung ini sejak zaman Mbah dulu," kata Musarofah.

Loyalitas pelanggan tercermin dari tingginya kebutuhan bahan baku setiap hari. Pada akhir pekan atau saat jam makan ramai, dapur Warung Sirot mampu mengolah hingga 40 kilogram lele segar dalam sehari.

"Kalau pas ramai-ramainya, kami bisa menghabiskan sampai 40 kilogram lele dalam sehari," ungkapnya.

Terus Berinovasi Tanpa Meninggalkan Cita Rasa

Perjalanan Warung Sirot tidak selalu berada di lokasi saat ini. Sebelum menetap di Dusun Lidah pada 2006, warung tersebut beberapa kali berpindah tempat mengikuti perkembangan usaha.

Setelah memiliki lokasi tetap, pengelola mulai menambah variasi menu agar mampu menjangkau lebih banyak pelanggan.

"Pindah ke sini pas anak-anak itu masih kecil," tutur Musarofah sambil menunjuk dua pramusaji yang merupakan anak pemilik warung.

Menurutnya, inovasi menjadi bagian penting agar usaha tetap bertahan di tengah persaingan kuliner yang semakin ketat.

Meski demikian, menu utama pecek lele tidak pernah berubah karena telah menjadi ciri khas yang selalu dicari pelanggan.

"Ngikuti trenlah, harus ada variasinya biar tidak kalah saing dengan yang lain," katanya.

Kini, selain pecek lele, Warung Sirot juga menawarkan beragam pilihan lauk, mulai cumi-cumi, ayam goreng, hingga bebek goreng.

Aneka sayuran khas pedesaan yang mulai sulit ditemukan, seperti oseng kembang turi dan terong penyet, turut melengkapi daftar menu.

"Bermacam-macam sayuran ndeso yang mulai langka, seperti oseng kembang turi hingga terong penyet juga ada," tandasnya.

Hampir lima dekade berlalu, Warung Sirot membuktikan bahwa kuliner legendaris tidak hanya bertahan karena usia.

Konsistensi menjaga resep warisan Mbah Subaikah, dipadukan dengan kemampuan beradaptasi terhadap selera pelanggan, membuat warung sederhana ini tetap menjadi salah satu tujuan kuliner favorit di Banyuwangi, dari sopir angkutan hingga artis yang sengaja datang untuk menikmati seporsi pecek lele khas Gambiran. (sas/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Gambiran Banyuwangi #Warung Sirot #Pecek lele #Lele legendaris #Kuliner Banyuwangi