RADARBANYUWANGI.ID – Banyuwangi tak hanya dikenal melalui deretan pantai, gunung, dan tradisi budayanya. Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini juga memiliki destinasi wisata kuliner yang terus menarik perhatian wisatawan, yakni Pasar Wit-witan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. Mengusung konsep pasar tempo dulu di bawah rindangnya pepohonan, tempat ini menghadirkan pengalaman menikmati kuliner tradisional yang sulit ditemukan di tempat lain.
Setiap Minggu pagi mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, kawasan hutan kecil di Alasmalang berubah menjadi pusat kuliner khas Banyuwangi. Ratusan pengunjung berdatangan untuk berburu aneka hidangan tradisional, mulai dari geseng bangsong, pecel khas Banyuwangi, hingga jajanan pasar yang disajikan dengan nuansa pedesaan.
Salah satu menu yang paling banyak diburu adalah geseng bangsong, olahan itik jantan khas Kecamatan Singojuruh yang memiliki cita rasa pedas dengan sentuhan asam dari daun wadung.
Mantan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pernah mencicipi langsung hidangan tersebut saat berkunjung ke Pasar Wit-witan.
"Nikmat sekali rasanya. Rasa pedas bercampur asam dari daun wadung yang menjadi campuran bumbunya sungguh nikmat," ujarnya.
Geseng Bangsong, Kuliner Khas Singojuruh
Geseng bangsong atau yang juga dikenal sebagai geseng entok merupakan makanan tradisional yang berasal dari Dusun Wijenan Kidul, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh.
Hidangan ini lazim disajikan dalam berbagai acara keagamaan masyarakat, seperti peringatan Maulid Nabi, Hari Raya Idulfitri, maupun Iduladha.
Di Pasar Wit-witan, menu tersebut menjadi salah satu ikon kuliner yang selalu habis lebih awal karena tingginya permintaan pengunjung.
Selain geseng bangsong, pasar ini juga menawarkan beragam makanan khas Banyuwangi lainnya, di antaranya:
-
Rawon Alas.
-
Sego Cawuk.
-
Tiwul.
-
Gatot.
-
Beragam jajanan tradisional.
-
Jamu tradisional.
-
Es cendol.
Seluruh makanan diolah oleh warga lokal dengan resep yang diwariskan secara turun-temurun sehingga cita rasa autentiknya tetap terjaga.
Konsisten Terapkan Pasar Bebas Plastik
Keunikan Pasar Wit-witan tidak hanya terletak pada pilihan kulinernya.
Pengelola juga menerapkan aturan ketat agar seluruh pedagang tidak menggunakan plastik sekali pakai.
Makanan disajikan menggunakan daun pisang, cobek tanah liat, maupun anyaman bambu. Sementara minuman disuguhkan memakai tempurung kelapa atau potongan bambu sebagai gelas.
Mantan Camat Singojuruh, Mochamad Lutfi, mengatakan aturan tersebut menjadi bagian dari komitmen menjaga konsep pasar tradisional yang ramah lingkungan.
"Ini memang ketentuan yang sudah disepakati oleh panitia, yaitu ibu-ibu PKK Desa Alasmalang. Bahkan mereka sangat ketat agar penjual tidak menggunakan tempat atau wadah dari plastik. Makanya bisa dilihat sendiri, untuk minuman menggunakan tempurung kelapa atau potongan bambu sebagai mangkok dan gelas. Juga cobek dari tanah dengan alas daun," ujarnya.
Selain itu, seluruh pedagang diwajibkan mengenakan pakaian adat masyarakat Using Banyuwangi sehingga suasana pasar terasa semakin autentik.
Bangku bambu, sendok kayu, hingga lapak sederhana yang berada di bawah pepohonan menghadirkan pengalaman kuliner khas pedesaan tempo dulu.
Omzet Pedagang Meningkat Tajam
Pasar Wit-witan bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat Desa Alasmalang.
Lamhatin, pemilik warung Geseng "Mbak Tin", mengaku jumlah penjualan meningkat drastis setiap kali berjualan di Pasar Wit-witan.
"Kalau jualan di rumah, saya biasanya habis enam sampai tujuh ekor entok per hari. Namun di Pasar Wit-witan ini, saya bisa memasak hingga 24 ekor entok. Itu pun dalam dua jam sudah habis. Alhamdulillah," katanya.
Cerita serupa datang dari Sundari, perajin dodol tradisional.
Menurutnya, omzet penjualan setiap Minggu di Pasar Wit-witan mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta, setara dengan pendapatan yang biasanya diperoleh selama satu minggu berjualan dari rumah.
"Setiap minggu berjualan di Wit-witan, omzetnya mencapai Rp5-6 juta. Angka ini setara dengan yang saya dapatkan kalau berjualan dodol dari rumah selama satu minggu. Jadi ini sangat bermanfaat bagi keluarga kami," ujarnya.
Wisata Kuliner yang Menggerakkan Ekonomi Desa
Abdullah Azwar Anas mengapresiasi inisiatif masyarakat Desa Alasmalang yang berhasil memadukan wisata, budaya, dan pemberdayaan ekonomi melalui Pasar Wit-witan.
Menurutnya, konsep sederhana tersebut mampu menciptakan pusat ekonomi baru sekaligus memperkuat identitas kuliner Banyuwangi.
"Sepertinya memang sederhana, tapi ini bisa menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Kami terus mendorong agar ke depan setiap kecamatan memiliki pasar tradisional yang menjual kuliner khas sekaligus menampilkan kesenian daerah setempat," ujarnya.
Keberhasilan Pasar Wit-witan menunjukkan bahwa wisata berbasis budaya lokal mampu menjadi daya tarik berkelanjutan. Perpaduan kuliner tradisional, suasana alam, konsep bebas plastik, dan keterlibatan masyarakat menjadikan pasar ini sebagai salah satu destinasi kuliner yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Banyuwangi. (*)
Editor : Ali Sodiqin