RADARBANYUWANGI.ID - Ragam inovasi kuliner terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan dengan cita rasa dan tampilan yang berbeda. Salah satu produk yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat pada 2026 adalah risol matcha, camilan yang memadukan tekstur renyah risol dengan aroma khas bubuk matcha.
Berbeda dari risol pada umumnya, produk ini memiliki warna hijau yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik utama. Penggunaan matcha pada olahan risol masih relatif jarang dijumpai sehingga memberikan pilihan baru bagi masyarakat yang ingin mencoba camilan dengan sensasi rasa berbeda.
Risol matcha dikembangkan sebagai bagian dari kegiatan usaha sekaligus upaya menghadirkan inovasi dalam pengolahan makanan. Produk tersebut menyasar berbagai kalangan masyarakat, terutama penikmat camilan yang ingin merasakan varian rasa baru.
Pembuat risol matcha, Sila, mengatakan ide tersebut muncul karena ingin menghadirkan produk yang memiliki karakter tersendiri di tengah banyaknya pilihan camilan yang beredar di pasaran.
"Kami ingin membuat produk yang berbeda dan memiliki nilai jual," ujarnya, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, pemilihan matcha tidak hanya memberikan cita rasa khas, tetapi juga menciptakan tampilan yang lebih menarik sehingga produk lebih mudah dikenali oleh calon konsumen.
Dalam proses pembuatannya, risol matcha memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan. Tahapan produksi diawali dengan menyiapkan kulit risol, kemudian menambahkan isian sesuai resep yang digunakan. Setelah itu, risol dilapisi tepung panir sebelum digoreng hingga matang.
Proses tersebut menghasilkan lapisan luar yang renyah, sementara bagian dalam tetap lembut. Perpaduan tekstur tersebut menjadi salah satu nilai tambah yang ditawarkan kepada konsumen.
Selain mengutamakan cita rasa, tampilan produk juga menjadi perhatian. Warna hijau alami dari bubuk matcha memberikan kesan berbeda dibandingkan risol pada umumnya sehingga mampu menarik perhatian sejak pandangan pertama.
Risol matcha mulai diperkenalkan kepada masyarakat sekitar pada 2026 sebagai alternatif camilan dengan konsep yang berbeda. Kehadirannya diharapkan dapat memperkaya pilihan kuliner sekaligus mendorong lahirnya inovasi dalam pengembangan produk makanan.
Produk ini dipasarkan dengan harga Rp3.000 per buah sehingga tetap dapat dijangkau oleh berbagai kalangan masyarakat. Harga tersebut diharapkan mampu memberikan keseimbangan antara kualitas produk dan daya beli konsumen.
Editor : Lugas Rumpakaadi