RADARBANYUWANGI.ID - Tidak semua orang datang ke Banyuwangi untuk mengejar fenomena Blue Fire di Kawah Ijen. Setiap Minggu pagi, ratusan warga justru memilih menyusuri jalan menuju Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh. Di bawah rindangnya pepohonan, mereka menikmati jajanan tradisional yang dimasak menggunakan kayu bakar, menyeruput jamu hangat, dan membiarkan kenangan masa kecil kembali hadir di Pasar Wit-Witan.
Di tengah tren wisata yang mengedepankan pengalaman autentik, Pasar Wit-Witan menawarkan sesuatu yang sederhana, tetapi sulit ditemukan di perkotaan. Tidak ada wahana modern ataupun atraksi yang memacu adrenalin. Yang disuguhkan justru ketenangan, interaksi hangat antarmasyarakat, serta kekayaan kuliner tradisional Banyuwangi yang masih dipertahankan resep dan cara memasaknya.
Nama Wit-Witan berasal dari bahasa Osing yang berarti pepohonan. Sesuai namanya, pasar ini berada di kawasan kebun yang teduh dan hanya buka setiap Minggu mulai pukul 06.00 hingga sekitar 10.00 WIB.
Saat matahari mulai menembus sela dedaunan, kepulan asap dari tungku kayu bakar perlahan memenuhi area pasar. Aroma rempah dari Geseng Entog bercampur dengan wangi jenang, jajanan pasar, dan jamu temulawak yang diracik langsung oleh warga setempat. Seluruh hidangan disajikan menggunakan pincuk daun pisang, menghadirkan pengalaman bersantap yang semakin menguatkan nuansa tempo dulu.
Deretan gubuk bambu beratap welit berjajar rapi tanpa papan nama mencolok maupun dekorasi modern. Sebagai gantinya, pengunjung disambut senyum ramah para pedagang yang mengenakan busana adat Osing. Alunan angklung mengiringi aktivitas jual beli, berpadu dengan suara dedaunan yang tertiup angin pagi.
Suasana inilah yang membuat banyak orang rela datang sejak pagi. Bukan hanya untuk menikmati kuliner, melainkan mencari jeda dari rutinitas yang serba cepat.
Salah satunya Puteri, 26, yang mengaku sengaja datang untuk melepas penat sekaligus mengobati kerinduan terhadap jajanan masa kecil.
"Beneran karena kangen banget sama jajanan tradisional pas kecil. Sekarang di kota susah banget nyari kue jadul yang masih asli dan dimasak pakai kayu bakar. Aku kerja di desain grafis, jadi setiap hari cukup padat. Minggu pagi pengennya cari tempat sejuk buat jajan pakai pincuk daun pisang sambil nostalgia. Nggak usah capek-capek ndaki gunung tengah malam, ke sini saja sudah dapat banget rasa tenangnya," tuturnya, Senin (6/7/2026).
Bagi Puteri, kesederhanaan Pasar Wit-Witan justru menjadi kemewahan yang sulit ditemukan di tempat lain. Tanpa suara bising kendaraan maupun hiruk pikuk pusat perbelanjaan, ia bisa menikmati pagi dengan ritme yang lebih lambat sambil berbincang dengan para pedagang.
Konsep tersebut memang menjadi identitas Pasar Wit-Witan sejak awal. Destinasi wisata berbasis komunitas ini diinisiasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) bersama pemuda dari lima dusun di Desa Alasmalang untuk mengangkat potensi desa sekaligus melestarikan budaya Osing.
Selain menghidupkan kuliner tradisional, pengelola juga berupaya menjaga kelestarian lingkungan. Penggunaan plastik dibatasi, sementara bambu, daun pisang, dan material alami menjadi bagian dari identitas pasar. Berbagai resep kuliner lawas tetap dipertahankan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Karena itulah, Pasar Wit-Witan kini berkembang bukan sekadar menjadi destinasi wisata kuliner Banyuwangi, tetapi juga ruang berkumpul lintas generasi. Anak-anak mengenal makanan tradisional yang mulai jarang ditemui, sementara orang dewasa menemukan kembali rasa yang pernah menemani masa kecil mereka.
Menjelang pukul 10.00 WIB, aktivitas pasar perlahan mereda. Para pedagang mulai membereskan lapak, sementara kawasan kebun tetap bersih tanpa tumpukan sampah plastik. Pengunjung pun meninggalkan lokasi dengan membawa jajanan tradisional sekaligus pengalaman yang sulit dibeli di tempat lain.
Jika Kawah Ijen menawarkan petualangan untuk menaklukkan alam, Pasar Wit-Witan menghadirkan perjalanan yang berbeda. Destinasi ini mengajak pengunjung pulang sejenak ke masa ketika secangkir jamu, makanan hangat dari tungku kayu, dan sapaan ramah warga desa menjadi kemewahan yang kini semakin dirindukan.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, Pasar Wit-Witan dapat menjadi pilihan untuk mengisi akhir pekan bersama keluarga. Datang lebih awal menjadi pilihan tepat agar dapat menikmati suasana pagi yang masih sejuk sekaligus memperoleh lebih banyak pilihan kuliner tradisional sebelum pasar tutup sekitar pukul 10.00 WIB.
Editor : Lugas Rumpakaadi