RADARBANYUWANGI.ID – Berbicara tentang kuliner khas Banyuwangi, nama sego cawuk tak pernah absen dari daftar makanan yang wajib dicoba. Di antara banyak penjual, Sego Cawuk Bu Mantih di Rogojampi menjadi salah satu yang paling legendaris. Resep yang dipertahankan sejak 1972 membuat warung sederhana ini tetap diburu penikmat kuliner lokal maupun wisatawan yang ingin mencicipi cita rasa autentik Bumi Blambangan.
Berlokasi di pusat Kecamatan Rogojampi, warung Bu Mantih nyaris tak pernah sepi setiap pagi. Bahkan, sebelum jam operasional berakhir pada pukul 12.00 WIB, nasi yang disiapkan kerap habis dan harus dimasak kembali untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Mudah Dijangkau, Dekat Stasiun dan Terminal Rogojampi
Warung Sego Cawuk Bu Mantih berada di lokasi yang cukup strategis. Letaknya tidak jauh dari Stasiun Rogojampi dan berada sekitar 50 meter ke arah timur dari pertigaan Terminal Rogojampi.
Setiap hari, warung mulai melayani pembeli sejak pukul 06.00 WIB hingga sekitar pukul 12.00 WIB.
Meski hanya menempati bangunan sederhana di tepi jalan, pengunjung silih berganti datang untuk menikmati menu sarapan khas Banyuwangi tersebut.
"Setiap hari ramai hingga pukul 12.00. Nasi yang saya bawa sering habis dan memasak kembali sebelum tutup," ujar Bu Mantih.
Perpaduan Gurih, Manis, Segar, dan Asam
Keunikan sego cawuk terletak pada perpaduan rasa yang sulit ditemukan pada hidangan lain.
Seporsi nasi disiram kuah santan, kemudian dipadukan dengan parutan kelapa muda dan jagung bakar yang menghasilkan cita rasa gurih.
Sensasi manis berasal dari kuah pindang dan olahan daging sapi yang dikenal sebagai kuah merah atau rujak.
Sementara itu, rasa segar sekaligus sedikit asam muncul dari sambal berbahan belimbing wuluh yang dipadukan dengan serai.
Kombinasi berbagai elemen tersebut menghasilkan karakter rasa yang kaya, seimbang, dan khas Banyuwangi.
Pepes Tenggiri dan Cumi Jadi Pelengkap Favorit
Untuk melengkapi sajian, Bu Mantih menyediakan aneka lauk seperti pepes ikan tenggiri dan pepes cumi.
Pengunjung juga dapat menikmati kerupuk maupun rempeyek sebagai pelengkap yang menambah tekstur renyah di setiap suapan.
Dengan seluruh isian tersebut, satu porsi sego cawuk dijual dengan harga Rp15 ribu.
Menurut Bu Mantih, resep yang digunakan merupakan racikan keluarga yang telah dipertahankan selama lebih dari lima dekade.
"Resep ini saya buat sendiri sejak tahun 1972. Per porsi sego cawuk saya jual Rp15 ribu," katanya.
Pelanggan: Rasanya Jadul dan Memuaskan
Kelezatan Sego Cawuk Bu Mantih juga diakui para pelanggan setianya.
Salah satunya Doni Kurniawan, warga Banyuwangi yang mengaku hampir selalu mampir setelah pulang bekerja pada malam hari.
Baginya, cita rasa autentik yang tetap dipertahankan menjadi alasan utama terus kembali menikmati sego cawuk di warung tersebut.
"Saya kerja shift malam. Pulang pagi langsung menyantap sego cawuk Mbah Mantih. Rasanya jadul dan josjis, mantab, enak, dan memuaskan," ungkapnya.
Kuliner Wajib Saat Berkunjung ke Banyuwangi
Di tengah semakin berkembangnya destinasi wisata Banyuwangi, kuliner tradisional seperti sego cawuk tetap menjadi daya tarik tersendiri.
Selain dikenal dengan pecel rawon, nasi tempong, rujak soto, dan kesrut, sego cawuk menjadi identitas kuliner khas yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Warung Bu Mantih menjadi salah satu bukti bahwa cita rasa tradisional yang konsisten, bahan baku sederhana, dan resep autentik mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. Tak heran jika warung ini masih menjadi tujuan utama para pemburu kuliner yang ingin menikmati sarapan khas Banyuwangi dengan rasa yang tetap enak, mantap, dan memuaskan. (why/aif)
Editor : Ali Sodiqin