RADARBANYUWANGI.ID – Di balik lokasinya yang tak begitu mencolok, Pondok Nurani justru menjadi salah satu destinasi kuliner favorit di Banyuwangi. Setiap jam makan siang, warung makan bercita rasa rumahan itu dipenuhi pelanggan dari berbagai kalangan, terutama aparatur sipil negara (ASN) yang menjadikan tempat tersebut sebagai langganan makan siang.
Daya tarik Pondok Nurani bukan hanya terletak pada beragam menu rumahan yang lengkap, tetapi juga sambal tempong yang selalu dibuat segar setiap hari. Sensasi pedasnya terasa pas di lidah tanpa menghilangkan cita rasa, sehingga menjadi menu favorit pelanggan.
Imam, pelanggan tetap asal Kelurahan Tukangkayu, mengaku sudah sering menikmati makan siang di Pondok Nurani. Menurutnya, kualitas makanan yang konsisten menjadi alasan dirinya terus datang.
"Saya sering makan siang di Pondok Nurani. Saya suka sambalnya yang fresh. Daging rendangnya sangat empuk. Pondok Nurani sangat cocok untuk makan siang. Apalagi minumnya es temulawak," ujarnya.
Selain rendang, menu sayur kelor juga menjadi primadona. Hidangan sederhana tersebut justru menjadi pelengkap yang membuat pelanggan kembali datang.
Hal senada disampaikan Setyo Utomo, pengusaha rent car di Banyuwangi. Ia menilai menu rumahan di Pondok Nurani memiliki cita rasa khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
"Sayur kelornya enak. Sambalnya juga maknyus," katanya.
Keramaian Pondok Nurani berlangsung hampir sepanjang hari. Pada pagi hari, warung tersebut banyak didatangi warga yang baru selesai berolahraga. Memasuki siang, giliran ASN dan pekerja kantoran memenuhi meja makan untuk menikmati santapan sebelum kembali bekerja.
Suasana yang relatif tenang karena berada agak masuk dari jalan utama justru menjadi nilai tambah. Banyak pelanggan memilih menikmati makan siang dengan lebih nyaman tanpa hiruk pikuk lalu lintas.
Pemilik Pondok Nurani, Sugiarti, mengatakan usaha kuliner yang telah dirintis bertahun-tahun itu kini dijalankan bersama empat orang karyawan. Meski mampu mempertahankan pelanggan setia, perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus.
Menurutnya, omzet usaha bersifat fluktuatif dan dipengaruhi berbagai kondisi ekonomi. Bahkan, sejumlah perubahan kebijakan, termasuk dampak pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), turut memengaruhi dinamika usaha kuliner.
"Omzet usaha cenderung fluktuatif dan tidak menentu. Berbagai perubahan kondisi ekonomi juga ikut berpengaruh," ungkapnya.
Meski demikian, Sugiarti tetap optimistis mempertahankan Pondok Nurani. Ia meyakini konsistensi rasa, penggunaan bahan yang segar, serta pelayanan yang ramah menjadi modal utama agar pelanggan tetap setia.
Baginya, mempertahankan kualitas jauh lebih penting daripada sekadar menambah variasi menu. Karena itulah, sambal tempong, sayur kelor, hingga rendang tetap diolah dengan resep yang sama agar cita rasanya tidak berubah.
"InsyaAllah, terus berkembang. Meski ada pasang surutnya usaha, tetap disyukuri," pungkasnya. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin