Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rahasia Pondok Boga Ketapang Tetap Ramai, Dari Tukang Becak hingga Pejabat Jadi Pelanggan

M Ksatria Raya • Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:30 WIB
RAMAI PEMBELI: Pelanggan Pondok Boga menikmati makan siang dengan sajian aneka menu lalapan. Warung ini dirintis sejak tahun 1996. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RAMAI PEMBELI: Pelanggan Pondok Boga menikmati makan siang dengan sajian aneka menu lalapan. Warung ini dirintis sejak tahun 1996. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah gempuran rumah makan modern yang terus bermunculan, Pondok Boga di Ketapang, Banyuwangi, justru tetap menjadi magnet bagi pecinta kuliner rumahan. Rumah makan yang berdiri tepat di depan Hotel Manyar itu nyaris tak pernah sepi pengunjung, terutama saat jam makan siang. Di balik ramainya pelanggan, tersimpan perjalanan panjang yang telah dirintis hampir tiga dekade, tepatnya sejak 1996.

Berawal dari sebuah warung lesehan sederhana yang menempati bangunan sewaan di dekat SPBU Pertamina Ketapang, Pondok Boga kini menjelma menjadi salah satu ikon kuliner Banyuwangi. Perjalanan panjang itu dijalani dengan penuh perjuangan oleh Ratna Ningsih bersama almarhum suaminya.

“Dulu waktu pertama kali buka saya hanya dibantu almarhum suami dan satu pembantu. Tempatnya juga masih nyewa,” ujar Ratna mengenang masa-masa awal merintis usaha.

Saat pertama kali membuka usaha, pelanggan Pondok Boga sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke bawah. Tukang becak, sopir angkutan, hingga pekerja pelabuhan menjadi pelanggan setia. Harga yang terjangkau dan cita rasa rumahan menjadi alasan utama mereka datang.

“Awalnya yang beli kebanyakan tukang becak sampai sopir karena mungkin selain enak, harganya juga terjangkau,” kata perempuan asal Kecamatan Genteng itu.

MENGGODA LIDAH: Menu makan Pondok Boga sangat lengkap. Mulai ayam goreng presto, paru, dan ikan laut dilengkapi sambal segar dan lalapan daun singkong-daun papaya. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MENGGODA LIDAH: Menu makan Pondok Boga sangat lengkap. Mulai ayam goreng presto, paru, dan ikan laut dilengkapi sambal segar dan lalapan daun singkong-daun papaya. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Namun, kualitas rasa yang konsisten membuat Pondok Boga perlahan dikenal lebih luas. Pegawai, aparatur sipil negara (ASN), hingga karyawan ASDP mulai berdatangan. Dari mulut ke mulut, nama Pondok Boga semakin populer dan pelanggan terus bertambah.

“Lama-kelamaan ada beberapa pegawai seperti ASN hingga orang ASDP yang beli satu per satu, akhirnya menjadi ramai sampai sekarang,” tuturnya.

Perjalanan Pondok Boga tidak selalu mulus. Setelah menempati bangunan sewaan selama kurang lebih 12 tahun, Ratna harus mencari lokasi baru karena pemilik lahan tidak bersedia menjual tempat tersebut.

Keputusan besar pun diambil. Ratna memindahkan usahanya ke lokasi yang sekarang, tepat di depan Hotel Manyar Ketapang. Bangunan tersebut tak hanya digunakan sebagai rumah makan, tetapi juga menjadi tempat tinggal keluarga.

“Waktu tempat sewa saya habis dan orangnya tidak mau jual tempatnya, jadi saya putuskan pindah ke tempat sekarang yang jadi warung sekaligus rumah saya di belakangnya,” ujarnya.

Keputusan itu ternyata menjadi titik balik. Lokasi yang strategis di jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang membuat Pondok Boga semakin dikenal. Pelanggan tidak hanya datang dari Banyuwangi, tetapi juga dari berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, hingga Bengkulu.

Ratna mengaku kerap bertanya kepada pelanggan luar daerah mengapa mereka selalu menyempatkan mampir ke Pondok Boga.

“Mereka bilang rasanya cocok seperti makanan rumahan,” katanya sambil tersenyum.

Bahkan, ada pelanggan yang dahulu datang bersama orang tuanya saat masih kecil, kini kembali membawa anak dan keluarganya sendiri. Kesetiaan pelanggan itulah yang membuat Ratna yakin mempertahankan resep dan kualitas masakan yang diwariskan almarhum suaminya.

Sejumlah tokoh dan pejabat daerah juga pernah menikmati hidangan Pondok Boga. Mulai mantan Bupati Banyuwangi Samsul Hadi, Ani Lestari, Abdullah Azwar Anas, hingga Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono.

“Kalau pejabat ada Pak Samsul, Bu Ratna, Pak Anas terutama saat masih menjadi anggota DPR, sampai Pak Mujiono yang sekarang jadi Wakil Bupati. Beliau sudah lama jadi pelanggan,” ungkapnya.

Kini, Pondok Boga memiliki 10 karyawan. Meski demikian, Ratna tetap turun langsung melayani pelanggan setiap hari. Rumah makan tersebut buka pukul 10.00 hingga 20.00 WIB dan hanya libur dua hari menjelang Ramadan serta dua hari saat Hari Raya Idul Fitri.

Bagi pelanggan setia, Pondok Boga bukan sekadar tempat makan. Ada rasa yang sulit ditemukan di tempat lain.

“Kalau lewat Ketapang rasanya kurang lengkap kalau tidak mampir ke sini,” ujar Agustina, salah satu pelanggan.

Dia mengaku paling menyukai ayam goreng khas Pondok Boga yang empuk dan juicy, lengkap dengan sambal segar serta lalapan daun pepaya yang menjadi ciri khas rumah makan tersebut.

“Saya paling suka ayam gorengnya. Selain juicy, tulang-tulangnya juga empuk. Sambalnya fresh dengan pelengkap lalapan daun pepaya,” ujarnya.

Hampir 30 tahun berlalu, Pondok Boga tetap berdiri kokoh. Dari warung lesehan sederhana hingga menjadi kuliner legendaris Banyuwangi, satu hal yang tidak pernah berubah adalah cita rasa rumahan yang selalu membuat pelanggan ingin kembali. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Pondok Boga #Ayam presto #Sambal ranti #Kuliner Banyuwangi #ketapang banyuwangi