Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sambal Ranti dan Ayam Presto Jadi Andalan Pondok Boga, Kuliner Legendaris Dekat Pelabuhan Ketapang

M Ksatria Raya • Sabtu, 20 Juni 2026 | 04:07 WIB
MENGGODA LIDAH: Menu makan Pondok Boga sangat lengkap. Mulai ayam goreng presto, paru, dan ikan laut dilengkapi sambal segar dan lalapan daun singkong-daun papaya. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MENGGODA LIDAH: Menu makan Pondok Boga sangat lengkap. Mulai ayam goreng presto, paru, dan ikan laut dilengkapi sambal segar dan lalapan daun singkong-daun papaya. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah deretan rumah makan di jalur nasional Banyuwangi-Situbondo, ada satu warung yang tak pernah kehilangan pelanggan. Namanya Pondok Boga. 

Warung legendaris di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, itu tetap ramai sejak 1996 berkat ayam goreng presto yang juicy, sambal ranti yang pedas segar, serta lalapan daun singkong dan daun pepaya yang sulit ditemukan di tempat lain.

Letaknya sangat strategis. Hanya sekitar 1,2 kilometer dari Pelabuhan ASDP Ketapang ke arah selatan. Tepatnya berada di depan Hotel Manyar, Ketapang.

Tak heran jika warung makan ini menjadi langganan warga lokal, sopir lintas kota, hingga wisatawan yang hendak menyeberang ke Bali atau baru tiba di Banyuwangi.

Pondok Boga buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 20.00. Aneka menu tersedia di meja saji. Mulai ayam goreng, ikan laut, lele, paru, hingga perkedel.

Namun, ayam goreng presto tetap menjadi primadona.

Ayam dimasak dengan teknik presto sehingga teksturnya empuk dan juicy. Bahkan tulang-tulangnya terasa renyah saat digigit.

Sensasi makan semakin lengkap karena disajikan bersama sambal khas yang diulek langsung menggunakan cobek, serta lalapan berupa daun singkong, daun pepaya, dan selada segar.

RAMAI PEMBELI: Pelanggan Pondok Boga menikmati makan siang dengan sajian aneka menu lalapan. Warung ini dirintis sejak tahun 1996. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
RAMAI PEMBELI: Pelanggan Pondok Boga menikmati makan siang dengan sajian aneka menu lalapan. Warung ini dirintis sejak tahun 1996. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Berbeda dengan kebanyakan warung lalapan yang menyajikan kubis atau terong, Pondok Boga justru mempertahankan tradisi lama dengan menghadirkan daun pepaya dan daun singkong sebagai pendamping utama.

Kombinasi rasa pahit tipis dari daun pepaya, gurih ayam presto, dan pedas sambal menciptakan sensasi makan yang khas.

Pemilik Pondok Boga, Ratna Ningsih, mengatakan seluruh resep yang digunakan hingga saat ini tidak pernah berubah sejak pertama kali dirintis bersama almarhum suaminya hampir tiga dekade lalu.

“Dari dulu sampai sekarang tetap tidak berubah, mulai resep sampai menunya. Semua yang saya bikin sama seperti yang dulu dibuat almarhum suami saya,” ujarnya.

Salah satu resep yang paling dijaga adalah sambal ranti.

Sambal ini dibuat tanpa campuran tomat. Ratna hanya menggunakan cabai rawit murni, gula, garam, dan terasi.

Semua bahan diulek satu per satu agar menghasilkan rasa pedas yang lebih keluar dan aroma yang tetap segar.

“Saya kalau nyambal pakai cabai rawit murni, tidak dicampur tomat. Sambelnya diulek satu per satu dengan gula, garam, dan terasi,” katanya.

Tak hanya soal rasa, Pondok Boga juga menjaga konsep makanan yang lebih sehat.

Ratna mengaku seluruh sayuran di warungnya direbus dan tidak menggunakan santan.

Karena itu, banyak pelanggan yang menyebut menu di Pondok Boga lebih ringan dan cocok dinikmati setiap hari.

“Makanan di sini semuanya non-kolesterol. Saya tidak pakai santan-santan, jadi sayurannya direbus semua,” ujarnya.

Komitmen menjaga kualitas membuat Ratna harus memulai aktivitas sejak dini hari.

Setiap hari ia berangkat ke pasar sekitar pukul 01.30 untuk memilih sendiri bahan baku yang akan dimasak.

Ia memastikan ayam, ikan, hingga sayuran yang digunakan harus dalam kondisi segar.

“Saya ingin bahan makanannya harus fresh dan segar. Orang-orang pasar sudah tahu kalau lauk Pondok Boga harus yang bagus,” katanya.

Kerja keras itu terbayar dengan kepercayaan pelanggan yang terus berdatangan.

Dalam sehari, Pondok Boga bisa menghabiskan sekitar 60 hingga 75 kilogram ayam, sekitar 7 kilogram ikan laut, 7 kilogram lele, serta hampir 4 kilogram paru.

Seluruh menu dijual dengan harga mulai Rp 30 ribu per porsi lengkap beserta sambal dan lalapan.

Selain rasa, pelayanan cepat dan kebersihan menjadi keunggulan lain yang dipertahankan Pondok Boga hingga kini.

Ratna mengatakan, para pegawainya sudah mengenali pelanggan tetap, bahkan hafal menu yang biasa mereka pesan.

“Keunggulan di sini pelayanannya cepat dan bersih. Pegawai saya juga sudah terdidik, jadi hafal kalau pelanggan yang sering ke sini biasanya pesan apa,” tuturnya.

Hampir 30 tahun berlalu, Pondok Boga tetap bertahan di tengah persaingan bisnis kuliner yang semakin ketat.

Bagi sebagian orang, warung ini bukan sekadar tempat makan. Namun, juga ruang untuk mengenang rasa yang tak berubah sejak dulu: ayam presto yang juicy, sambal ranti yang menggigit, dan lalapan daun pepaya yang membuat siapa pun ingin kembali lagi. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Pondok Boga #Kuliner Ketapang #Ayam presto #Sambal ranti #Banyuwangi kuliner