Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kisah Mengharukan Pedagang Nasi Bungkus di Banyuwangi yang Antar Anak Jadi Sarjana

Bagus Rio Rohman • Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:00 WIB
MENU LENGKAP: Nasi bungkus yang masih hangat dengan lauk telur dadar, mie, balado teri, serondeng, dan oseng terong siap disantap. (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)
MENU LENGKAP: Nasi bungkus yang masih hangat dengan lauk telur dadar, mie, balado teri, serondeng, dan oseng terong siap disantap. (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di balik kesederhanaan lapak nasi bungkus yang setiap hari melayani pelanggan, tersimpan kisah perjuangan panjang yang berbuah manis. Puluhan tahun berjualan nasi bungkus ternyata tidak hanya menjadi sumber nafkah keluarga, tetapi juga menjadi jalan bagi pasangan Rojikin dan Siti Mariyam untuk mengantarkan kedua anaknya meraih pendidikan tinggi hingga sukses meniti karier.

Bagi pasangan tersebut, keberhasilan terbesar bukanlah bertahannya usaha yang mereka rintis selama bertahun-tahun. Lebih dari itu, mereka merasa bangga karena hasil berjualan nasi bungkus mampu membiayai pendidikan anak-anak hingga lulus perguruan tinggi dan memiliki pekerjaan yang mapan.

Anak pertama mereka, Nur Aisyah, berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) Pendidikan. Kini, perempuan tersebut mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di MI Miftahul Ulum Wongsorejo. Dalam kehidupan pribadinya, Nur Aisyah juga telah berkeluarga dan dikaruniai dua orang anak yang saat ini sedang menempuh pendidikan di bangku sekolah.

Sang istri, Mariyam, yang berada di dapur menyatakan siap memenuhi pesanan sesuai pesanan Rojikin dari walkie talkie. (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)
Sang istri, Mariyam, yang berada di dapur menyatakan siap memenuhi pesanan sesuai pesanan Rojikin dari walkie talkie. (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)

Sementara itu, anak kedua mereka, Bagus Rio Rohman, menorehkan perjalanan akademik yang tak kalah membanggakan. Rio berhasil menyelesaikan pendidikan Diploma III Teknik di Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) sebelum melanjutkan studi Sarjana Hukum (S1) di Universitas Bhakti Indonesia (UBI).

Saat ini, Rio berkarier sebagai wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi. Ia juga telah membangun keluarga kecil dan memiliki seorang anak yang kini duduk di bangku sekolah dasar.

"Bagi kami, keberhasilan terbesar bukan hanya usaha yang masih bertahan sampai sekarang. Tapi bagaimana dari hasil berjualan nasi bungkus ini kami bisa menyekolahkan anak-anak hingga sarjana dan melihat mereka memiliki pekerjaan yang baik," ungkap Rojikin dengan mata berkaca-kaca.

Perjalanan menuju titik tersebut tentu tidak mudah. Bertahun-tahun mereka harus bangun lebih pagi, menyiapkan bahan makanan, memasak, membungkus nasi, hingga melayani pelanggan setiap hari. Penghasilan yang diperoleh tidak selalu besar, tetapi keduanya memiliki tekad kuat untuk memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

HEMAT WAKTU: Rojikin yang posisinya di warung berjarak 500 meter dari rumah, menghubungi istrinya lewat komunikasi walkie talkie agar disiapkan menu nasbung sesuai pesanan. (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)
HEMAT WAKTU: Rojikin yang posisinya di warung berjarak 500 meter dari rumah, menghubungi istrinya lewat komunikasi walkie talkie agar disiapkan menu nasbung sesuai pesanan. (Bagus Rio/Radar Banyuwangi)

Siti Mariyam mengaku, setiap tetes keringat yang tercurah selama puluhan tahun seakan terbayar ketika melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

"Alhamdulillah, semua perjuangan tidak sia-sia. Dulu kami hanya berpikir bagaimana anak-anak bisa sekolah setinggi mungkin. Sekarang mereka sudah berhasil dan memiliki keluarga masing-masing. Itu kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apa pun," tuturnya.

Kisah keluarga ini menjadi gambaran bahwa pendidikan tetap dapat diraih meski berasal dari usaha kecil dan sederhana. Lapak nasi bungkus yang mungkin tampak biasa bagi banyak orang justru menjadi saksi perjalanan panjang sebuah keluarga dalam mengejar harapan dan masa depan yang lebih baik.

Di tengah perubahan zaman, pasangan tersebut juga terus beradaptasi agar usahanya tetap bertahan. Mereka memanfaatkan kemudahan komunikasi untuk mempercepat pelayanan kepada pelanggan dan memastikan kebutuhan konsumen dapat terpenuhi dengan baik.

"Yang penting pelanggan tetap terlayani dengan baik. Sekarang komunikasi lebih cepat, stok bisa segera ditambah, dan pembeli tidak perlu menunggu lama. Alhamdulillah usaha ini masih bisa terus berjalan sampai sekarang, semoga bisa terus berkembang," harapnya.

Bagi Rojikin dan Siti Mariyam, kesuksesan tidak selalu diukur dari besarnya keuntungan usaha. Melihat anak-anak tumbuh menjadi sarjana, memiliki pekerjaan yang baik, serta membangun keluarga yang harmonis menjadi pencapaian paling berharga dari perjalanan panjang mereka menjual nasi bungkus selama puluhan tahun. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#pedagang Banyuwangi #anak sarjana #pendidikan keluarga #nasi bungkus #kisah inspiratif