Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pecel Bu Wagirah Banyuwangi, Legenda Sejak 1960 yang Ludes dalam 5 Jam, Sensasi Makan di Dapur Nenek Bikin Kangen

Salis Ali Muhyidin • Sabtu, 6 Juni 2026 | 03:00 WIB
PEMBELI BERJUBEL: Bu Wagirah melayani pembeli nasi pecel di dapur rumahnya Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
PEMBELI BERJUBEL: Bu Wagirah melayani pembeli nasi pecel di dapur rumahnya Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng. (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah gempuran kafe modern, restoran kekinian, dan tren kuliner yang datang silih berganti, sebuah dapur sederhana di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, tetap ramai didatangi pembeli setiap pagi. Tidak ada papan nama besar, tidak ada interior estetik untuk swafoto.

Namun, sejak 1960, tempat ini tak pernah kehilangan pelanggan. Inilah Warung Pecel Bu Wagirah, salah satu kuliner legendaris Banyuwangi yang mampu bertahan lebih dari enam dekade dengan resep yang nyaris tak berubah.

Begitu memasuki area rumah, aroma khas sambal pecel langsung menyambut pengunjung. Wangi daun jeruk berpadu dengan gurihnya kacang sangrai yang baru dihaluskan menciptakan sensasi yang sulit ditemukan di tempat lain.

Di balik aroma yang menggoda itu, seorang perempuan sepuh tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Dengan gerakan yang masih lincah meski usia telah menginjak 70 tahun, Wagirah meracik satu per satu pesanan pecel di atas pincuk daun pisang.

Dialah sosok yang menjaga warisan rasa tersebut selama puluhan tahun.

“Awalnya dulu saya jualan di Pasar Genteng 1,” kenang Bu Wagirah sambil tersenyum kepada pelanggan yang antre menunggu pesanan.

Dari Pasar Tradisional ke Dapur Rumah

Perjalanan warung pecel ini dimulai pada era 1960-an. Saat itu, Bu Wagirah berjualan di Pasar Genteng dan melayani warga yang mencari menu sarapan sederhana namun mengenyangkan.

Seiring berjalannya waktu, ia memutuskan memindahkan aktivitas jualannya ke rumah yang berada di Dusun Jalen. Keputusan yang awalnya hanya untuk memudahkan aktivitas sehari-hari justru melahirkan daya tarik baru yang tidak dimiliki banyak tempat makan lain.

Alih-alih membangun warung permanen atau restoran modern, Bu Wagirah tetap mempertahankan konsep sederhana. Dapur rumahnya menjadi ruang utama untuk melayani pelanggan.

Suasana inilah yang kemudian menjadi magnet tersendiri.

Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati rasa pecel, tetapi juga mencari pengalaman yang mengingatkan pada masa kecil dan kehangatan rumah keluarga.

Sensasi Makan di Dapur Nenek

Salah satu keunikan Warung Pecel Bu Wagirah adalah pengalaman makan yang terasa sangat personal.

Tidak ada etalase kaca yang memisahkan pembeli dengan makanan. Seluruh lauk-pauk tersaji langsung di atas meja dapur.

Pelanggan bebas memilih sendiri lauk pendamping sesuai selera. Mulai dari tempe, tahu, telur, hingga aneka gorengan tersedia dalam kondisi hangat.

Konsep tersebut menciptakan suasana akrab yang sulit ditemukan di restoran modern.

“Sengaja saya biarkan begini, biar rasanya seperti rumah sendiri. Pelanggan bebas milih lauknya,” ujar Wagirah dengan logat Jawa yang khas.

Banyak pelanggan mengaku suasana itu menghadirkan nostalgia, seolah sedang sarapan di rumah nenek di kampung halaman.

Rahasia Rasa yang Bertahan Puluhan Tahun

Di balik kesederhanaannya, pecel racikan Bu Wagirah memiliki karakter rasa yang kuat.

Sambal kacangnya tidak terlalu dominan manis maupun pedas. Semua berpadu dalam komposisi yang seimbang.

Perpaduan rasa manis, gurih, dan pedas menjadi ciri khas yang membuat pelanggan terus kembali.

Sayuran segar yang disiram bumbu pecel kental kemudian disajikan bersama nasi hangat di atas daun pisang, menciptakan sensasi makan yang autentik.

Yang menarik, cita rasa tersebut bisa dinikmati dengan harga yang sangat terjangkau.

“Harganya mulai Rp 5.000. Tapi kebanyakan pembeli memang pesan pecel lengkap dengan lauk,” kata Bu Wagirah.

Harga yang ramah kantong membuat warung ini mampu menjangkau berbagai kalangan, mulai pekerja, pedagang pasar, petani, hingga wisatawan yang sengaja datang berburu kuliner legendaris.

Berawal dari Para Perajin Tahu

Eksistensi Warung Pecel Bu Wagirah ternyata tidak bisa dipisahkan dari sejarah ekonomi warga Dusun Jalen pada era 1960-an.

Saat itu, kawasan tersebut dikenal sebagai sentra perajin tahu rumahan. Aktivitas produksi dimulai sejak dini hari sehingga banyak keluarga tidak sempat menyiapkan sarapan.

Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Bu Wagirah untuk menjajakan pecel sebagai menu praktis dan mengenyangkan.

“Awalnya yang beli cuma tetangga sekitar,” tuturnya.

Lambat laun, para perajin tahu yang menjadi pelanggan pertama mulai merekomendasikan pecel Bu Wagirah kepada kerabat dan kenalan mereka.

Dari mulut ke mulut, popularitas warung itu terus berkembang hingga akhirnya dikenal luas oleh masyarakat Genteng dan wilayah sekitarnya.

“Yang beli perajin tahu karena mereka tidak sempat masak. Lama-lama banyak yang suka,” katanya.

Bertahan di Tengah Gempuran Kuliner Modern

Lebih dari 60 tahun berlalu, generasi pelanggan terus berganti. Namun, satu hal yang tidak berubah adalah ramainya pembeli setiap pagi.

Bahkan, di era media sosial dan maraknya bisnis kuliner modern, Warung Pecel Bu Wagirah justru semakin dikenal luas.

Banyak pelanggan datang karena rekomendasi keluarga yang telah menjadi pelanggan selama puluhan tahun. Tidak sedikit pula wisatawan yang sengaja mampir setelah mendengar reputasi warung legendaris tersebut.

“Selanjutnya dari pasar, pembeli mulai berdatangan buat beli,” ujar Bu Wagirah.

Kesetiaan pelanggan itulah yang menjadi modal terbesar warung ini untuk tetap bertahan melintasi zaman.

Buka Pagi, Ludes Sebelum Siang

Bagi pecinta kuliner yang ingin mencicipi langsung kelezatan pecel legendaris ini, ada satu hal yang harus diperhatikan: datang lebih awal.

Warung mulai melayani pelanggan sejak pukul 07.00 pagi. Namun, waktu operasionalnya sangat singkat.

Dalam kondisi normal, seluruh lauk dan persediaan makanan biasanya habis sebelum tengah hari.

“Setiap hari buka jam tujuh pagi. Biasanya jam 12 siang lauk-pauk sudah habis semua,” ungkap Bu Wagirah.

Artinya, hanya dalam waktu sekitar lima jam, ratusan porsi pecel dan lauk yang disiapkan setiap hari ludes diserbu pelanggan.

Fenomena itu menjadi bukti bahwa cita rasa autentik, pelayanan sederhana, dan kehangatan suasana rumah masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Di tengah perubahan zaman, Warung Pecel Bu Wagirah tetap berdiri sebagai saksi hidup perjalanan kuliner Banyuwangi. Sebuah warisan rasa yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi, ketekunan, dan kenangan yang terus hidup dari generasi ke generasi. (sas/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#wisata kuliner Banyuwangi #Pecel Bu Wagirah Banyuwangi #Kuliner legendaris Genteng #Pecel enak Banyuwangi #Pecel Setail Genteng