RADARBANYUWANGI.ID – Saat sebagian besar warung masih tertutup rapat dan kota belum sepenuhnya terbangun, aktivitas di Warung Bang Ali justru sudah dimulai. Pukul 01.00 dini hari, aroma kopi dan rempah mulai mengepul dari warung sederhana di pinggir Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi. Di jam ketika banyak orang masih terlelap, pelanggan pertama satu per satu sudah berdatangan.
Bukan hanya pedagang pasar atau pekerja malam.
Warung kopi jahe legendaris itu juga menjadi tempat singgah pegawai bank, pegawai dinas, pelaut, hingga wisatawan luar kota yang hendak melanjutkan perjalanan ke Surabaya, Bali, maupun Situbondo.
Jam operasional yang tidak biasa itulah yang membuat Warung Bang Ali memiliki ritme berbeda dibanding warung kopi lain.
Di saat warung lain baru bersiap buka, Bang Ali justru sudah lebih dulu melayani pelanggan.
"Selain jual kopi seduh, saya juga jual kopi bubuk kiloan. Ada beberapa masjid yang sering beli di sini, beberapa dinas juga ada," ujar Miskanah, pemilik Warung Bang Ali.
Tak hanya melayani pelanggan sekitar, produk racikan kopi rempahnya bahkan pernah menempuh perjalanan ribuan kilometer.
"Ada juga pelaut yang waktu itu beli banyak untuk dibawa ke Afrika," katanya sambil tersenyum.
Cerita itu menjadi bukti bahwa racikan kopi jahe khas Bang Ali ternyata tak hanya dikenal di Banyuwangi.
Jadi Tempat Singgah Sebelum Keluar Kota
Lokasi Warung Bang Ali yang berada di tepi jalan raya ikut menjadi alasan mengapa pelanggan datang silih berganti.
Posisinya yang strategis dekat Pasar Blambangan membuat banyak pengendara sengaja berhenti sebelum melanjutkan perjalanan.
Tak sedikit wisatawan dari luar kota memilih mampir lebih dulu untuk menghangatkan badan.
Sebagian membeli kopi seduh.
Sebagian lainnya justru membeli kopi bubuk racikan Bang Ali untuk dibawa pulang.
Warung ini tak hanya menjual minuman.
Bagi sebagian pelanggan, tempat itu sudah berubah menjadi titik persinggahan yang wajib disambangi.
Bertahan Puluhan Tahun dari Warisan Keluarga
Penjaga shift pagi, Ismail, 42, mengatakan warung tersebut merupakan peninggalan almarhum ayahnya.
Menurut dia, usaha itu mulai berjalan sekitar akhir dekade 1980-an.
"Kalau dulu sekitar tahun 1989 mulai jualan," ujarnya.
Sejak awal berdiri, kopi jahe sudah menjadi menu andalan.
Resepnya pun nyaris tidak berubah hingga sekarang.
Setiap generasi mempertahankan racikan lama yang diwariskan keluarga.
"Kalau saya buka pagi, menunya ada kopi jahe telur," katanya.
Menu itu hingga kini masih menjadi salah satu favorit pelanggan.
Dari Nasi Bungkus Rp 750 Hingga Jadi Pelanggan Setia
Kesetiaan pelanggan menjadi bukti lain bahwa Warung Bang Ali punya tempat tersendiri di hati warga Banyuwangi.
Rahman, 38, salah satu pelanggan lama, mengaku sudah datang ke warung tersebut sejak masih duduk di bangku SMP.
Saat itu, ia sering mampir sambil menunggu angkutan.
Menu favoritnya bukan kopi, melainkan nasi bungkus murah yang dulu dijual di sana.
Harga nasi bungkus saat itu bahkan hanya Rp 750.
"Dulu saya ke sini sambil nunggu angkutan," katanya.
Setelah beranjak dewasa, Rahman mulai mengikuti kebiasaan pelanggan lain yang memesan kopi jahe.
Kini kebiasaan itu tetap bertahan.
"Saya di sini ngopi mulai nasi bungkus harga Rp 750. Dari dulu menunya kopi jahe, rasanya tidak berubah," tandasnya.
Di tengah gempuran kedai modern dan tren kopi kekinian, Warung Bang Ali justru bertahan dengan kekuatan yang sederhana.
Rasa yang dijaga, resep keluarga yang tidak diubah, dan hubungan hangat dengan pelanggan yang dibangun selama puluhan tahun.
Mungkin itu sebabnya, ketika Banyuwangi masih gelap pukul 01.00 dini hari, warung kecil itu sudah lebih dulu hidup. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin